kumparan
15 Feb 2019 16:27 WIB

Apresiasi Cokelat Lokal di Negara Sendiri

biji kakao Foto: Shutterstock
Seorang anak kecil asik bermain dengan teman-temannya sambil menyantap cokelat kesukaannya. Di tempat lain, ada juga seorang perempuan yang telihat termenung menatap rintik hujan sembari menyesap cokelat panas dari cangkir di tangannya.
ADVERTISEMENT
Ya, cokelat bisa dibilang sebagai kudapan favorit lintas generasi yang bisa disantap dalam berbagai kesempatan. Tak hanya anak-anak atau remaja, bahkan orang dewasa pun rasanya sulit menolak legit dan lembutnya cokelat yang terasa lumer di mulut.
Tingginya minat cokelat di Indonesia membuat kudapan bertekstur lembut ini sangat mudah dijumpai di berbagai kota besar dan kecil. Olahannya pun beragam, ada yang berbentuk permen, kue, bahkan minuman penghangat badan. Bahkan cokelat pun sering digunakan sebagai lambang kasih sayang, terutama saat momen Valentine atau hari kasih saya tiba.
Di balik banyaknya penggemar cokelat di Indonesia, mirisnya sebagian besar cokelat di Indonesia justru masih didominasi oleh brand dari luar negeri. Padahal, beberapa tahun terakhir mulai bermunculan produk cokelat lokal yang menawarkan kualitas cokelat yang tak kalah baik dari produk cokelat asal luar negeri.
ADVERTISEMENT
Sebut saja cokelat dari Pipiltin Cocoa, Krakakoa, hingga Cokelat Monggo asli Yogyakarta. Dalam beberapa tahun terakhir, produsen cokelat lokal tersebut makin gencar memperkenalkan cokelat Indonesia yang memiliki cita rasa berbeda di setiap wilayahnya.
Selain itu, sudah menjadi rahasia umum bahwa produksi kakao di Indonesia termasuk paling banyak di dunia. Selama 25 tahun terakhir, Indonesia selalu masuk lima besar sebagai produsen cokelat terbesar di dunia.
Dilansir Indonesia Investment, saat ini perkebunan kakao di Indonesia telah mencapai 1,5 juta hektar, yang sebagian besarnya tersebar di Sulawesi dan Sumatera. Dengan perkebuan kakao yang luas tersebut, rata-rata produksi kakao di Tanah Air bisa mencapai 350.000 ton per tahunnya, tepat di bawah produksi kakao dari Ghana dan Pantai Gading.
ADVERTISEMENT
Menurut Marketing Manager Pipiltin Cocoa, Kevin Angra Limawan, ada beberapa tantangan yang kerap dihadapi produsen cokelat lokal di Indonesia. Orang Indonesia sudah terlanjur mengenal cokelat sebagai kudapan yang identik dengan hidangan dari negara-negara Barat, khususnya Belgia dan Swiss. Bahkan banyak yang belum tahu bahwa Indonesia merupakan salah satu penyumbang biji kakao terbesar di dunia.
Tak hanya itu, meski kualitas biji kakao lokal sudah bisa bersaing dengan biji kakao dari Ghana dan Pantai Gading, teknologi pertanian yang diterapkan saat menanam cokelat dinilai masih jauh tertinggal.
"Bila ditanya mana yang paling bagus, sebenarnya setiap wilayah memiliki keunikannya masing-masing. Saya rasa secara kualitas Indonesia tidak kalah, hanya saja konsistensinya yang masih kalah. Harusnya bisa ditanggulangi dan petani kita ini enggak boleh naik-turun," ujar Kevin kepada kumparanFOOD.
biji kakao Foto: Shutterstock
Tak sesederhana kelihatannya, proses penanaman dan pemeliharaan pohon cokelat juga terbilang lebih sulit dibanding tanaman lainnya. Kevin mengatakan bahwa satu pohon cokelat baru bisa dipanen setelah tiga tahun ditanam.
ADVERTISEMENT
"Ini juga yang menyebabkan petani-petani cokelat di Indonesia banyak yang alih fungsi lahan. Karena mereka berpikir, apa nilai ekonomi dari cokelat? Sedangkan kebutuhan sehari-hari harus tetap terpenuhi," terang Kevin.
Dengan jangka waktu tanam yang lama, harga jual cokelat mentah di pasaran justru sangat rendah. Kembali lagi, teknologi yang belum memadai serta minimnya edukasi mengenai pengolahan biji cokelat kepada petani cokelat menjadi beberapa alasannya.
Sebagian besar hasil panen cokelat mentah pun diekspor untuk memenuhi kebutuhan pasar dunia. Sebaliknya, jatah untuk produsen lokal justru sangat minim.
Produsen cokelat lokal juga mengalami beberapa kendala terutama pada proses pemasarannya. Perlu diketahui, suatu produk --tak terkecuali cokelat-- harus melewati beberapa pemeriksaan hingga layak dipasarkan secara meluas, mulai dari pemeriksaan oleh BPOM (Badan Pengawas Obat dan Makanan) hingga sertifikasi halal dari MUI (Majelis Ulama Indonesia).
ADVERTISEMENT
Regulasi yang dinilai panjang dan berbelit menjadi tantangan tersendiri bagi produsen cokelat lokal. Sebab, sertifikasi suatu produk merupakan satu syarat utama untuk memasarkan suatu produk secara lebih luas.
Menurut Kevin, serangkaian proses pemeriksaan hingga produk siap dipasarkan sebenarnya memiliki banyak manfaat terutama dari segi keamanannya. Namun tak bisa dipungkiri bahwa hal ini juga seringkali menghambat pengusaha untuk memperluas pemasaran produknya.
"Pengusaha harus didukung dari segi regulasi karena sekarang yang susah sebenarnya adalah regulasinya, kalau bisa dipermudah sistemnya. Pemerintah dan pengusaha harusnya bisa berkolaborasi dalam hal ini, karena tujuannya juga untuk memajukan negara," Kevin menjelaskan mengenai proses pemasaran cokelat lokal di Indonesia.
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan