Catat! Ini Efek Samping dari Diet Puasa Intermiten, Menurut Studi Terbaru

24 November 2022 8:03
·
waktu baca 3 menit
sosmed-whatsapp-whitecopy-link-circlemore-vertical
Diet intermittent fasting diklaim ampuh turunkan berat badan. Foto: Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Diet intermittent fasting diklaim ampuh turunkan berat badan. Foto: Shutterstock
ADVERTISEMENT
Belakangan ini, diet intermittent fasting (IF) atau puasa intermiten menjadi begitu populer di kalangan pegiat pola hidup sehat. Memang, puasa tersebut menawarkan beragam manfaat bagi kesehatan. Namun, sebuah studi terbaru mengungkapkan bahwa terdapat efek samping yang cukup berbahaya ketika kamu melakukan puasa intermiten.
ADVERTISEMENT
Ya, puasa intermiten adalah sebuah pola diet yang mengharuskan kamu untuk makan hanya dalam waktu tertentu, misalnya delapan jam saja. Sementara itu, sisa waktu yang kamu punya harus digunakan untuk berpuasa. Oleh karena itu, puasa intermiten dinilai begitu efektif untuk mendapatkan penurunan berat badan secara cepat.
Mengutip Medical News Today, selain kelemahan yang sudah mulai diketahui oleh banyak orang dari puasa intermiten; seperti meningkatkan risiko terkena hipoglikemia dan pemborosan otot karena kurang asupan protein. Ternyata, menurut sebuah studi terbaru, terdapat kelemahan lain yang mengaitkan puasa intermiten dengan perilaku dan psikopatologi gangguan makan, serta perilaku berbahaya lainnya.
Adapun, studi tersebut diterbitkan dalam jurnal Eating Behaviors, untuk melihat praktik puasa intermiten di kalangan remaja dan dewasa muda di negara Kanada. Lebih lanjut, penelitian ini mengumpulkan data dari Canadian Study of Adolescent Health Behaviors.
Metode intermittent fasting. Foto: Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Metode intermittent fasting. Foto: Shutterstock
Dalam penelitian tersebut, terkumpul data sebanyak 2.762 remaja dan dewasa muda, yang melakukan puasa rata-rata selama 100 hari dalam 12 bulan terakhir. Adapun, komposisi data tersebut terdiri dari 48 persen perempuan, 38 persen laki-laki, dan 52 persen peserta transgender.
ADVERTISEMENT
Hasilnya, para peneliti melihat bahwa mereka yang melakukan puasa intermiten memiliki kekhawatiran akan berat badan, bentuk, dan pola makan. Namun, hal yang lebih mengkhawatirkan adalah, terdapat pula indikasi terjadinya perilaku gangguan makan; seperti makan berlebihan, munculnya latihan kompulsif, dan meningkatnya penggunaan pencahar atau obat untuk atasi susah buang air besar (BAB).
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Menurut Kyle T. Ganson, Ph.D., MSW, selaku penulis studi, mengatakan bahwa semua data yang terkumpul; baik itu laki-laki, perempuan, dan transgender yang melakukan puasa intermiten selama 12 bulan terakhir, dikaitkan dengan sikap dan perilaku gangguan makan.
Diet intermittent fasting untuk mengatur pola makan. Foto: Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Diet intermittent fasting untuk mengatur pola makan. Foto: Shutterstock
“Khususnya, bagi perempuan, IF dikaitkan dengan semua perilaku gangguan makan; seperti makan berlebih, muntah, penggunaan (obat) pencahar, dan olahraga kompulsif. Sementara bagi laki-laki, IF dikaitkan dengan latihan kompulsif,” ujar Ganson.
ADVERTISEMENT
Namun, perlu diingat juga bahwa penelitian tersebut mungkin saja masih memiliki beberapa kekurangan dan kelemahan; baik itu dari pengumpulan atau mekanisme analisis data. Oleh karena itu, diperlukan penelitian lebih lanjut untuk mengetahui efek samping dari pola makan ini, khususnya bagi kalangan anak muda.
Di sisi lain, Ganson juga mengingatkan kepada para anak muda, termasuk kamu yang ingin mencoba tren dari puasa intermiten untuk mempertimbangkannya lebih serius; mengingat hasil dari studi yang telah dilakukan. Namun, jika kamu tetap berkeinginan melakukan IF, maka sebaiknya berkonsultasi dengan ahli terlebih dahulu, agar mendapatkan hasil optimal dan meminimalisasi efek samping sekecil mungkin.
“Data dari penelitian ini menunjukkan bahwa IF mungkin bermasalah, terkait dengan sikap dan perilaku gangguan makan yang parah, serta berbahaya. Oleh karena itu, penilaian yang lebih komprehensif perlu dilakukan di kalangan anak muda, terkait dengan praktik diet puasa intermiten dan diperlukan bimbingan yang tepat (dari dokter),” pungkas Ganson.
ADVERTISEMENT
Penulis: Riad Nur Hikmah
Baca Lainnya
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020