Food & Travel
·
2 Agustus 2021 15:42
·
waktu baca 2 menit

Cerita dan Cara UMKM Bertahan di Masa Krisis

Konten ini diproduksi oleh kumparan
Cerita dan Cara UMKM Bertahan di Masa Krisis (470620)
searchPerbesar
Ilustrasi berbisnis kuliner di tengah pandemi Foto: Dok.Shutterstock
Ada yang berbeda di Kawasan Pusat Jajan Graha Raya Bintaro, Tangerang, Banten, malam itu. Lingkungan yang biasanya meriah dengan dagangan kuliner tukang martabak, cilok, dimsum, siomay, hingga gulali itu, kini sepi dan gelap gulita.
ADVERTISEMENT
Rupanya, Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) membuat pengelola setempat mematikan lampu jalanan, agar tak seorang pun berjualan di kawasan itu melewati pukul delapan malam.
Fenomena melonjaknya varian delta yang melanda Indonesia sejak awal Maret 2021, membuat pelaku UMKM, khususnya kuliner, kembali menjerit. Pergerakan dagang yang semakin sempit memaksa mereka memutar otak untuk bertahan di situasi sulit.
Salah seorang pelaku UMKM kuliner asal Tangerang, Nenden Pratiwi, merasakan betul bagaimana PPKM mempengaruhi penjualan gerobak kuliner miliknya yang bernama Dapur Mamayon.
Menu andalan Dapur Mamayon adalah ceker mercon dan cumi bakar. Biasanya, omzet penjualan ceker mercon dan cumi bakar mencapai Rp 600 ribu per hari, yang hasilnya dibagi untuk membeli kembali bahan baku, membayar gaji karyawan, serta biaya operasional.
ADVERTISEMENT
Namun, sejak PPKM diberlakukan, pendapatan Dapur Mamayon hanya mencapai Rp 150 ribu per hari. Nenden akhirnya memutuskan untuk berhenti menjual salah satu produk andalannya itu.

Diversifikasi Produk sebagai Cara UMKM Bertahan di Masa Krisis

Namun, Nenden tak patah arang. Sejak awal mendirikan usaha, dia terus berinovasi untuk menciptakan produk-produk lain. Salah satunya yaitu susu jahe merah, yang sebelum pandemi COVID-19 melanda, produk tersebut dijajakan dengan 10 gerobak di beberapa lokasi di Tangerang.
Tapi semakin lama pandemi terjadi, gerobak susu jahe merah semakin sedikit yang beroperasi. Hingga akhirnya menjelang PPKM, hanya tinggal dua gerobak di dua titik yang masih berjualan.
Tak disangka, penjualan susu jahe merah di masa PPKM justru melejit, terlebih ketika Tangerang kembali masuk zona merah COVID-19.
ADVERTISEMENT
Menurut perempuan 39 tahun itu, permintaan produk rempah justru sedang bagus-bagusnya. Jadilah Nenden kembali mengoperasikan lima gerobak lainnya, sehingga saat ini terdapat tujuh gerobak susu jahe merah yang mendatangkan cuan.
Diversifikasi produk menjadi salah satu andalan ibu dari tiga orang anak itu, untuk mampu bertahan di tengah situasi yang penuh dengan keterbatasan. Jika satu produk tengah mengalami penurunan penjualan, maka produk yang lain bisa mendongkrak pendapatan.
Selain itu, Nenden juga mengedepankan promosi dan marketing melalui berbagai platform digital, seperti media sosial Instagram, TikTok, dan WhatsApp. Ia kerap membagikan foto produk dagangannya untuk menarik para calon pembeli.
Hal yang sama pernah disampaikan Menteri Koperasi dan UKM, Teten Masduki, yang mengatakan selain masuk ke jejaring digital, pelaku UMKM juga harus terus berinovasi. Terutama untuk menjembatani kebutuhan para pelanggannya.
ADVERTISEMENT
"Perlu menghadirkan inovasi proses bisnis dan inovasi produk yang bisa menjadi solusi bagi UMKM kita," ucap Teten.