Kumparan Logo

Kisah Usil Gus Dur agar Bisa Makan Daging Enak sampai Maling Roti di Istana

kumparanFOODverified-green

ยทwaktu baca 4 menit

google
Tambah ke Prefensi Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Presiden Abdurrahman Wahid (Gus Dur) di Istana Kepresidenan di Jakarta, pada 27 Oktober 1999. Foto: AGUS LOLONG / AFP
zoom-in-whitePerbesar
Presiden Abdurrahman Wahid (Gus Dur) di Istana Kepresidenan di Jakarta, pada 27 Oktober 1999. Foto: AGUS LOLONG / AFP

Abdurrahman Wahid atau yang akrab disapa Gus Dur, merupakan Presiden Indonesia ke-4 yang ternyata memiliki hobi kulineran. Bahkan kecintaannya terhadap makanan juga diturunkan ke keluarga Wahid.

Kisah-kisah lucu Gus Dur dan kecintaannya terhadap makan, diungkapkan oleh anak bungsunya yakni Inayah Wulandari Wahid, saat menjadi narasumber dalam talkshow "Menguak Gastronomi Istana Negara Republik Indonesia dari Masa ke Masa" yang diselenggarakan Indonesian Gastronomy Community (IGC), pada Kamis (15/8) di Hotel Borobudur Jakarta.

Inayah mula-mula menceritakan kisah ayahnya saat berkuliah di Mesir. "Waktu Gus Dur kuliah di Mesir, beliau ngekos sama teman-temannya, mereka punya jadwal siapa yang masak tiap harinya, dan Gus Dur itu jago banget masak, ya karena sudah biasa hidup jauh dari orang tua dan kecintaannya pada makanan," terang Inayah.

Jika biasanya anak kos makan pas-pasan, lanjut Inayah, maka menurutnya, ayahnya selalu punya cara, bahkan dengan "cara usil" untuk bisa tetap makan enak.

"Suatu ketika misteri, kenapa selalu ada daging saat jadwal Gus Dur masak, terpecahkan ketika salah satu temannya Gus Dur hari itu dapat giliran masak, dia belanjalah ke pasar. Tiba-tiba pas dia belanja ke pasar, dia lewat tukang daging. Tukang dagingnya bilang, 'eh Indonisi, teman kamu mana tuh yang anjingnya banyak, katanya dia punya anjing 20 dia hobi, nih minta daging-daging yang enggak dijual', temannya pun kaget," lanjut Inayah yang mengisahkan ayahnya sambil tertawa itu.

Acara talkshow 'Menguak Gastronomi Istana Negara Republik Indonesia dari Masa ke Masa' di Hotel Borobudur, Jakarta (15/8/2024). Foto: Azalia Amadea/kumparan

Rupanya, tak hanya satu cerita, Inayah selanjutnya bercerita ketika ayahnya mengenyam pendidikan di pesantren. Gus Dur juga melakukan hal usil alias jahil untuk bisa makan ikan gratis. Terlebih, ibu dari Gus Dur juga jarang membawakan makanan, sehingga dia terbiasa makan pas-pasan.

Kejadian lucu terjadi hari itu, ketika Gus Dur sedang berjalan di belakang rumah sang Kiai pemilik pesantren. "Suatu malam Gus Dur lagi jalan di belakang rumah kiainya, ternyata teman-temannya lagi nyolong ikan di kolam kiainya. Dia (gus dur) ngeliatin, terus dia bilang ke teman-temannya 'kan dosa', terus dia bilang lagi 'mau enggak dibikin supaya enggak dosa, enggak haram?'. Teman-temannya pun bilang mau," tutur Inayah.

Inayah melanjutkan ceritanya, "Terus Gus Dur dengan tenangnya teriak-teriak 'maling-maling!' terus teman-temannya kaget ikannya dilempar, ikan yang sudah diambil di dalam ember tumpah semua dan teman-temannya lari. Kiainya pun keluar terus nanya 'ada apa?'. Gus Dur bilang 'tadi ada maling Pak Kiai ngambil ikannya Pak Kiai jatuh semua'. Akhirnya karena sudah enggak mungkin dibalikin ke kolam, ikan-ikan tersebut diberikan ke Gus Dur."

Kisah Maling Roti di Istana Negara saat Gus Dur Menjabat

Foto kolase Presiden Gus Dur dan makanan favoritnya, kikil. Foto: Paula Bronstein/Getty Images dan shuttertock

Cerita lucu Gus Dur soal hobi makan enaknya pun tak berhenti sampai di situ, Inayah dengan semangat juga menceritakan kisah lucu yang cukup populer di kalangan penghuni Istana Negara saat ayahnya menjabat.

Gus Dur yang kala itu menjadi presiden perdana yang kembali menghuni Istana Negara, memiliki kisah lucu dengan si maling roti. Inayah mengisahkan bahwa ketika mereka menghuni istana, saat itu masih masa peralihan sehingga bahan makanan pun susah didapat.

"Awal dateng aja gak ada makanan. Jadi misalnya minggu-minggu pertama, kami makan lele goreng dan sayur lodeh, besoknya sayur asem dengan ayam goreng. Nanti hari selanjutnya, jadi lele goreng dan sayur asem, terus ayam goreng dan sayur lodeh. Gitu aja terus, dituker-tuker menunya," ujarnya.

Tapi bukan hanya itu, dengan makanan yang terbatas, suatu ketika Gus Dur yang menurut Inayah sangat suka ngemil tersebut meminta camilan kepada salah seorang perangkat istana. Gus Dur pun diberikan setangkup roti mentega dengan gula pasir yang sudah dibelah dua.

"Gus Dur makan satu potong, lalu sisanya dia taruh di meja dan mejanya digeser ke belakang. Nah, si perangkat istana ini mikirnya Gus Dur sudah selesai makan, karena lapar diambil-lah sisa roti itu, dia makan," kata Inayah.

"Tahu-tahunya, Gus Dur minta roti sisanya yang sudah keburu dimakan si perangkat istana. Karena panik, si perangkat istana langsung mengambilkan roti baru lagi. Lagi-lagi Gus Dur makan satu potong, sisanya dia taruh meja lagi sambil menggeser ke belakang (mejanya), Gus Dur bilang, 'ini masih ada, masih mau enggak?'," ucap Inayah, lagi-lagi sambil tertawa lepas.

Di balik kisah-kisah lucu Gus Dur soal makanan, Inayah mengungkapkan bahwa ayahnya memang benar-benar pencinta kuliner sejati. Bak bank gastronomi keluarga, Gus Dur bukan hanya menjelaskan tentang makanan enak atau tidak, tetapi juga tahu sejarah hidangan-hidangan tersebut.

"Data street food Gus Dur tuh sangat lengkap, sampai letak dan lokasinya dia hafal betul. Maka itu, saya lagi mengumpulkan data makanan kesukaan Gus Dur dari Batavia sampe Jawa Timur," pungkasnya.