Food & Travel14 September 2020 20:57

PSBB Ketat, Ini Kata Pelanggan Soal Tak Bisa Dine-in di Kafe dan Restoran

Konten Redaksi kumparan
PSBB Ketat, Ini Kata Pelanggan Soal Tak Bisa Dine-in di Kafe dan Restoran (221536)
Sejumlah warga menyantap makanan di salah satu restoran di Ciracas, Jakarta, Kamis (10/9/2020). Foto: ADITYA PRADANA PUTRA/ANTARA FOTO
Semenjak Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan membatasi aktivitas masyarakat di segala sektor, termasuk layanan kafe dan restoran, lantaran meningkatkan kembali status DKI Jakarta dari PSBB Transisi menjadi PSBB ketat; sejumlah tempat makan pun dilarang menerima pelanggan dine-in. Hanya boleh menerima pesanan melalui take away dan delivery.
ADVERTISEMENT
Tentunya, dengan begitu para pelanggan yang kemungkinan sudah sempat mencicipi kembali makan di restoran favoritnya, terpaksa mengerem keinginannya tersebut.
Beberapa pelanggan merasa, bahwa bisa kembali makan di luar adalah hiburan sederhana di tengah penat lantaran harus di rumah saja. Namun, masih banyak juga yang mengaku takut untuk makan di luar dan memilih tetap di rumah. Padahal sejumlah tempat makan telah memberlakukan protokol kesehatan guna mencegah penularan COVID-19.
Di sisi lain, ada pelanggan yang mengaku bahwa protokol kesehatan di sebuah restoran hanya peraturan tertulis saja. Nyatanya, masih kedapatan tempat makan yang ditutup paksa karena tak menaati peraturan.
Lantas, seperti apa sebenarnya kondisi restoran ataupun kafe yang sempat buka selama PSBB transisi, dan bagaimana komentar pelanggan soal tempat makan yang kembali tak bisa menerima tamu dine-in? Berikut wawancara kami dengan beberapa pelanggan tersebut.
ADVERTISEMENT

Ananda Mareva (26), tak masalah Jakarta kembali PSBB dan tempat makan tak layani dine-in

PSBB Ketat, Ini Kata Pelanggan Soal Tak Bisa Dine-in di Kafe dan Restoran (221537)
Protokol dine-in ala Holycow! By Chef Afit. Foto: Dok. Holycow! By Chef Afit.
Semenjak mendapat kabar bahwa Jakarta kembali PSBB, Ananda Mareva mengaku dirinya tak masalah lantaran memang jarang pergi untuk makan ke luar.
"Kalo gue pribadi ngerasa fine-fine saja, sih soalnya kemarin memang jarang juga ke kafe atau resto. Tapi, kalau lagi jalan sama keluarga, berasa banget pasti, karena hiburannya cuma keluar. Sedangkan resto-kafe pada tutup atau dibatasi, jadinya bingung deh mau ke mana dan bakalan bosan di rumah terus," tuturnya saat kumparan hubungi melalui pesan singkat, Senin (14/9).
Meskipun begitu, Nanda juga sempat merasakan kembali pengalaman makan di luar. Ia mengungkapkan, bahwa protokol kesehatan di beberapa restoran yang dikunjunginya hanya sebatas peraturan tertulis saja. Nyatanya, kafe yang ia kunjungi tak menerapkan protokol kesehatan sepenuhnya.
ADVERTISEMENT
Ia berharap, dengan kembalinya Jakarta menerapkan PSBB masyarakat yang tidak patuh bisa lebih menaati peraturan agar efektif, dan pandemi virus corona bisa segera selesai.

Claudya Ika (25), beberapa restoran menerapkan protokol standar

PSBB Ketat, Ini Kata Pelanggan Soal Tak Bisa Dine-in di Kafe dan Restoran (221538)
Seorang karyawan yang memakai masker pelindung wajah memeriksa suhu pengunjung di pintu masuk sebuah restoran di sepanjang jalan pejalan kaki di pusat Tbilisi, Georgia. Foto: Vano SHLAMOV / AFP
Hampir sama dengan jawaban Nanda, Ika yang juga sempat makan beberapa kali di luar mengaku kebanyakan restoran hanya menerapkan protokol standar. Sesuai dengan anjuran pemerintah; seperti cek suhu tubuh, menyediakan tempat cuci tangan, dan menjaga kebersihan restoran.
Dari situlah, Ika biasanya mematok syarat standar tempat makan yang dikunjunginya. Setidaknya, Ika lebih aman bila tempat yang ia hendak kunjungi menerapkan protokol kesehatan meski standar saja, tanpa ada perlakuan tambahan.
Perempuan yang bekerja sebagai pegawai bank itu juga mengaku tak masalah bila Jakarta kembali PSBB. "PSBB diperketat lebih baik supaya negara lebih cepat pulih. Meski memang kangen suasana makan di resto juga," ucapnya.
ADVERTISEMENT

Nurul Aziza (27), pernah mengunjungi restoran yang menyediakan air panas untuk mensteril alat makan

PSBB Ketat, Ini Kata Pelanggan Soal Tak Bisa Dine-in di Kafe dan Restoran (221539)
Ilustrasi Alat Makan Foto: Pixabay/armtemtation
Nurul Aziza mengaku beberapa makanan memang lebih nikmat bila disantap secara dine-in, namun lebih baik menahan diri, termasuk ia sendiri. Ia lebih memilih menahan untuk tidak banyak nongkrong di luar, hanya benar-benar makan lalu pulang.
Meskipun begitu, Aziza pernah menemukan kedai kopi yang tak menerapkan protokol ketat, terutama soal social distancing dan penggunaan masker secara wajib di area kafe.
Di sisi lain, perempuan yang bekerja sebagai auditor itu juga pernah merasakan protokol khusus di sebuah tempat makan. "Bahkan beberapa resto nyiapin air panas buat sterilin alat makan kita. Sama duduknya beneran dijarakin, jadi makan sendiri walaupun datang barengan," tambahnya.
ADVERTISEMENT
Ia pun berharap, PSBB ketat kali ini berlangsung tanpa ada episode lanjutan. "Semoga kali ini benar-benar PSBB final siap jilid yaaaa, enggak ada revisi satu, dua, tiga, dan seterusnya. Semoga semuanya kooperatif dari pemerintah sama rakyatnya, semoga awareness orang-orang meningkat instead of korban koronanya. Jadi cepat selesai ini pandemi," harapnya.

Rizki Astuti (26), jangan egois kasihan tim medis

PSBB Ketat, Ini Kata Pelanggan Soal Tak Bisa Dine-in di Kafe dan Restoran (221540)
Petugas lab menyiapkan sampel sebelum pengujian virus corona (COVID-19). Foto: Cooper Neill/REUTERS
Mengingat kasus corona yang kian meningkat memang membuat sejumlah fasilitas di Jakarta kini dialihkan untuk menjadi lahan isolasi pasien. Terkait hal tersebut, Rizki yang punya simpati khusus terhadap tim medis pun merasa kasihan kalau pasien kian bertambah.
"Semoga makin banyak yang sadar sama virus ini kalo benar-benar bahaya. Apalagi yang kemarin kasus sepedaan gitu, biar lebih aware sama sekitar dan enggak egois, kasihan tim medis. Semoga PSBB juga benar-benar berjalan dengan baik, ya, no drama-drama hehehe," tulisnya dalam pesan WhatsApp.
ADVERTISEMENT
Di sisi lain, ia juga pernah beberapa kali --meski mengaku sangat jarang-- ke kafe. Meskipun begitu, sebelum ke kafe tersebut ia benar-benar memilih tempat yang menerapkan protokol kesehatan secara serius. Sehingga ia pun bisa merasa nyaman dan aman selama berada di kafe tersebut.

Sylvia Dewi Ipi (26), tak bisa berkorban banyak selain kedisiplinan masing-masing

PSBB Ketat, Ini Kata Pelanggan Soal Tak Bisa Dine-in di Kafe dan Restoran (221541)
Patung Ronald McDonald di Bangkok, Thailand, mengenakan masker Foto: Shutter Stock
Sylvia merupakan salah satu pekerja kantoran yang kini terpaksa WFH kembali lantaran PSBB Ketat. Menurutnya, WFH terasa sangat membosankan; dan bekerja di kafe merupakan sebuah caranya dalam membunuh rasa bosannya tersebut.
Namun ia menyebut, bahwa restoran cepat saji seperti McDonald's adalah salah satu tempat makan yang ketat menerapkan protokol kesehatan. "Kebanyakan enggak disiplin, sih. Kayak kuota bangku 50 persen dan sudah disilang-silang saja tetap diduduki ramai-ramai dan berdempetan. Yang cukup ketat McD, kalau kita lagi enggak makan saja, kita diminta untuk langsung memakai masker kembali," kisahnya.
ADVERTISEMENT
Sayangnya, kini ia tak bisa lagi bekerja di kafe favoritnya selama PSBB ketat. Namun ia berharap, pengorbanan banyak orang yang disiplin mengikuti protokol kesehatan tak disia-siakan begitu saja oleh mereka yang acuh terhadap peraturan tersebut. "Enggak tahu mau berkorban apa lagi, selain kedisiplinan ini soalnya :(," tutup Sylvia.
Bagaimana pendapatmu soal kafe yang tak bisa dine-in saat PSBB Ketat?
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan
sosmed-whatsapp-whitesosmed-facebook-whitesosmed-twitter-whitesosmed-line-white