kumparan
18 Februari 2020 22:10

Riset: Konsumsi Tahu Diduga Lebih Merusak Lingkungan Ketimbang Daging

Tahu untuk makanan bayi.
Tahu untuk makanan bayi. Foto: Shutterstock
Banyak orang yang menjalani pola makan vegetarian atau vegan, dengan alasan untuk mengurangi dampak buruk pada lingkungan. Pasalnya, daging hewani --khususnya sapi-- disebut-sebut bisa memperparah pemanasan global.
ADVERTISEMENT
Sebuah jurnal berjudul Beef Consumption Reduction and Climate Change Mitigation menemukan, peternakan sapi menyumbang emisi gas rumah kaca sebesar 65 persen. Fakta ini lantas membuat orang-orang mulai beralih untuk mengonsumsi bahan makanan nabati, salah satunya tahu.
Terbuat dari kacang kedelai, tahu memang digadang-gadang sebagai salah satu sumber protein terbaik pengganti daging hewani. Tapi ternyata, sebuah riset terbaru menemukan, kalau tahu juga bisa merusak lingkungan; bahkan lebih buruk daripada daging hewani.
Hasil penelitian tersebut dipaparkan oleh Dr. Graham McAuliffe dari Rothamsted Institute dalam konferensi National Farmers Union (NFU).
Tahu untuk makanan bayi.
Tahu untuk makanan bayi. Foto: Shutterstock
Dilansir Insider, studi terbarunya yang belum dipublikasikan itu menemukan, kalau kerusakan lingkungan yang disebabkan oleh protein berbasis kacang kedelai bisa lebih drastis, bila dibandingkan dengan daging sapi, babi, dan ayam.
ADVERTISEMENT
Dr. McAuliffe, yang punya spesialisasi dalam mengukur dampak lingkungan akibat makanan, menegaskan kalau temuannya harus ditafsirkan dengan hati-hati. Sebab, saat ini hasil studi tersebut masih berupa bukti konsep.
"Kacang polong dan kacang tanah memang menciptakan dampak lingkungan yang lebih rendah ketimbang hewan ternak. Tapi, tahu harus mengalami proses pengolahan terlebih dahulu, sehingga membutuhkan lebih banyak energi," jelasnya.
Apalagi, protein nabati tak semudah itu dicerna layaknya protein hewani, sehingga harus diolah terlebih dahulu. Akibatnya, bisa menyebabkan potensi pemanasan global yang lebih tinggi.
Tahu untuk makanan bayi.
Tahu untuk makanan bayi. Foto: Shutterstock
"Untuk mendapatkan kadar protein yang setara dengan daging, dampak lingkungan yang diciptakan oleh tahu justru lebih baik," tambah McAuliffe.
Sejatinya, ini bukan kali pertama kalinya tahu dipermasalahkan akibat jejak karbon yang diciptakannya. Pada tahun 2010, sebuah laporan yang dilakukan sebagai bagian dari World Wide Fund for Nature (WWF) juga memperingatkan bahwa produk berbasis kacang kedelai belum berarti punya jejak karbon yang minim.
ADVERTISEMENT
Alih-alih mengonsumsi tahu, para peneliti merekomendasikan untuk menambahkan kacang lentil atau buncis sebagai alternatif pengganti daging. Keduanya lebih efektif dan sustainable, dalam meminimalisir jejak karbon yang tercipta akibat pola makan sehari-hari.
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan