kumparan
Food & Travel15 Februari 2020 16:05

Waroeng Koffie Batavia, Bikin Warung Ngopi jadi Naik Kelas

Konten Redaksi kumparan
Review Waroeng Koffie Batavia, MKG.
Varian makanan di Waroeng Koffie Batavia. Foto: Toshiko/kumparan
“Nongkrong di warung kopi
Nyentil sana dan sini
Sekedar suara rakyat kecil
ADVERTISEMENT
Bukannya mau usil”
Sepenggal lirik itu rasanya sangat mewakili peran warung kopi di hati masyarakat Indonesia. Sejatinya —jauh sebelum laptopan di kafe jadi ngehits— warung ngopi ada untuk sekadar bersantai, melepas penat, sambil berbincang dengan teman atau kolega.
Hal ini sungguh terasa ketika kumparan mampir ke Waroeng Koffie Batavia di Mall Kelapa Gading. Beberapa orang terlihat tengah menikmati waktu mereka; entah baca koran atau berbincang seru.
“Sebenarnya konsep kami memang warung kopi. Tepatnya saat Jakarta masih dapat pengaruh dari Belanda. Di sini, kami juga menyebut kopi dengan koffie,” ungkap Shara Moza, Marketing Manager Waroeng Koffie Batavia.
Memang, di WKB kita juga bisa menikmati aneka camilan asal Belanda; seperti pastel hingga poffertjes. Namun, khusus makanan, dominasi hidangan Indonesia sungguh kentara.
ADVERTISEMENT
Saya pertama kali mengenal Waroeng Koffie Batavia di Grand Indonesia. Menurut Shara, itu adalah flagship mereka. Pertama kali buka pada 2013 dengan nama Koffie Warung Tinggi, mereka akhirnya berubah nama jadi Waroeng Koffie Batavia. Sementara itu, gerai yang kami kunjungi di Mall Kelapa Gading, mulai beroperasi pada 2017.

Ayam geprek hingga soto, menu wajib di Waroeng Koffie Batavia

Review Waroeng Koffie Batavia, MKG.
Varian makanan di Waroeng Koffie Batavia. Foto: Toshiko/kumparan
Kamu mencoba beberapa rekomendasi makanan dari tempat makian enak satu ini. Pertama ada ayam betutu. Ayamnya dimarinasi selama 12 jam di oven tradisional. Enggak heran rempahnya juga terasa hingga dalam. Itu juga yang bikin tekstur daging ayam ini begitu empuk.
Ditambah daun singkong dan nasi, rasanya ayam betutu ini sangat cocok untuk makan siang atau malam. Kamu bisa memesannya dalan porsi 1/4 (Rp 49 ribu) atau 1/2 ayam (Rp 89 ribu).
Review Waroeng Koffie Batavia, MKG.
Ayam betutu. Foto: Toshiko/kumparan
Bagi yang suka pedas, ayam geprek (Rp 40 ribu) mereka juga tak kalah menggoda. Ayamnya sudah sedikit bertepung. Langsung makan supaya garingnya masih terasa. Sambalnya juga sangat pedas, tanpa cecapan rasa manis sedikitpun. Oh iya, bila ingin tambah mozzarella, kamu tinggal tambah Rp 5 ribu.
Review Waroeng Koffie Batavia, MKG.
Ayam geprek batter chicken. Foto: Toshiko/kumparan
Menu lain yang tak kalah menarik adalah soto daging bening (Rp 38 ribu). Mereka menggunakan koya sehingga rasanya jadi lebih gurih. Lalu, pecel telur asin (Rp 40 ribu) mereka juga enggak kalah menarik. Aroma kencurnya begitu berasa.
Review Waroeng Koffie Batavia, MKG.
Soto daging bening. Foto: Toshiko/kumparan
Review Waroeng Koffie Batavia, MKG.
Pecel telur asin. Foto: Toshiko/kumparan
Secara garis besar, porsi makanan di Waroeng Koffie Batavia sangat pas dengan harganya. Tak heran, ketika jam makan siang, ramai juga yang menyantap berbagai hidangan di tempat makan tersebut.
ADVERTISEMENT

Review kopi Waroeng Koffie Batavia

Review Waroeng Koffie Batavia, MKG.
Varian kopi di Waroeng Koffie Batavia. Foto: Toshiko/kumparan
Namanya warung kopi, masa enggak cobain kopinya. Menurut Shara, koffie peranakan mereka patut dicoba. “Kami pakai campuran arabika dari pengalengan dan robustanya dari Dampit, Jawa Timur,” jelasnya.
Sederhananya koffie peranakan itu adalah kopi dengan susu. Kalau enggak mau pakai susu, bisa pesan koffie tubruk. Untuk dua varian itu, mereka juga menawarkan finest blend; yang merupakan premium bean seperti kopi luwak.
Untuk kopi lainnya, saya juga coba klaapertartkoffie (Rp 45 ribu). Sebenarnya dominan rasa manisnya sedikit mengganggu, rasa klaapertart-nya agak kurang terasa.
Kendati demikian, es koffie buaye (Rp 38 ribu) mereka bisa dibikin enggak terlalu manis. Alpukatnya pun cukup padat; bikin kenyang.
Review Waroeng Koffie Batavia, MKG.
Es koffie buaye Foto: Toshiko/kumparan
Nah, kalau ngopi di sana, jangan lupa makan martabaknya. Kebetulan, kami mencoba martabak telur dengan mozzarella mereka. Potongan dagingnya sangat banyak dengan aroma lada yang menggoda. Martabak manisnya juga enak, kok! Itu juga jadi makanan signature mereka.
Review Waroeng Koffie Batavia, MKG.
Martabak telur mozzarella. Foto: Toshiko/kumparan
Nah, jadi Waroeng Koffie Batavia punya konsep yang begitu unik. Di satu sisi, ia tidak terasa seperti kafe kekinian, tapi di sisi lain tempat ngopi ini begitu nyaman untuk disinggahi berlama-lama. Seru.
ADVERTISEMENT
Waroeng Koffie Batavia
Alamat: Mal Kelapa Gading 2, Jl. Boulevard Raya, RT.2/RW.18, Klp. Gading Tim., Kec. Klp. Gading, Jakarta Utara.
Jam buka: Setiap hari (10.00-22.00)