Entertainment
·
14 Januari 2021 20:00

Arie Kriting: Hari Ini Belum Mendapat Berkah Restu, Mungkin Besok atau Nanti

Konten ini diproduksi oleh kumparan
Arie Kriting: Hari Ini Belum Mendapat Berkah Restu, Mungkin Besok atau Nanti (79238)
Indah Permatasari dan Arie Kriting. Foto: Instagram/imagenic
Arie Kriting dan Indah Permatasari resmi menikah pada Selasa (12/1) lalu. Momen tersebut tentu membawa kebahagiaan bagi mereka. Namun, nyatanya, terselip pula kenyataan pahit.
ADVERTISEMENT
Ya, ibunda Indah Permatasari tak merestui pernikahan mereka. Sejak 2019 lalu, perempuan bernama Nursyah itu terang-terangan tak setuju putrinya menjalin cinta dengan Arie Kriting.
Arie Kriting: Hari Ini Belum Mendapat Berkah Restu, Mungkin Besok atau Nanti (79239)
Indah Permatasari dan Arie Kriting. Foto: Instagram/indahpermatas
Mengenai pernikahannya yang tak direstui ibunda Indah Permatasari itu dibahas oleh Arie Kriting melalui caption unggahan Instagram, Kamis (14/1). Komika berusia 35 tahun tersebut mengaku sadar bahwa restu seorang ibu sangatlah penting.
"Restu Ibu Itu Utama. Seribu restu dari banyak orang, belum tentu menyamai sebuah restu dari seorang ibu. Sayangnya, kami masih belum beruntung memilikinya saat ini," tulis Arie Kriting.
Selama menjalin hubungan asmara sejak tiga tahun lalu, menurut Arie Kriting, mereka sudah berjuang hingga pada akhirnya sama-sama yakin untuk menikah.
"Setelah berjuang masing-masing selama tiga tahun, kami merasa sudah cukup yakin untuk melanjutkan ibadah kami," tulisnya.
ADVERTISEMENT
Kini, telah resmi menikah tak membuat ia dan Indah Permatasari berhenti berjuang, termasuk untuk mendapat restu. Arie Kriting berharap, restu bakal mereka dapatkan di kemudian hari. Mereka pun tak lantas berhenti mendoakan dan menghormati Nursyah.
"Setelah ini kami berharap diberi jalan oleh Allah SWT untuk melanjutkan perjuangan mengumpulkan kebaikan lainnya bersama-sama. Hari ini belum mendapatkan berkah restu tersebut, mungkin besok atau nanti. Namun doa dan rasa hormat kami tidak pernah terputus," tulisnya.
"Kami hanyalah arus, yang menunggu gelombang mereda, agar kita bisa lanjut berpetualang dalam teduhnya semudera kehidupan," pungkas Arie Kriting.