kumparan
14 Des 2018 20:50 WIB

Eben ‘Burgerkill’: Saya Biasa Disebut Pengkhianat Scene Metal

Burgerkill (Foto: Munady/kumparan)
Berkat 'Super Invasion 2018', metalhead Eropa bisa mengetahui bahwa Indonesia punya industri musik metal yang hebat. Dua headline di tur tersebut, Deadsquad dan Burgerkill, disambut dengan hangat oleh metalheads di setiap kota yang di kunjungi.
ADVERTISEMENT
Namun, keberhasilan Deadsquad dan Burgerkill sempat menuai kontroversi di kalangan musisi bawah tanah Indonesia. Beberapa orang menilai Deadsquad dan Burgerkill bukan ke Eropa dengan usaha sendiri, melainkan karena bantuan dan sokongan dana dari penggagas Super Invasion, yakni Supermusic.
Mendengar desas-desus yang beredar, Eben selaku gitaris Burgerkill sempat panas dan menuangkannya dalam Instagram Story-nya. Eben menganggap tuduhan beberapa penggiat musik bawah tanah Indonesia itu, hanya berdasarkan rasa iri dan dengki.
Ketika ditemui di kawasan Sudirman, Jakarta Selatan, Jumat (14/12), Eben sepertinya masih gusar dengan tuduhan tersebut. Namun, ia mengaku Burgerkill sudah kuat mental dan biasa dibicarakan secara negatif oleh metalheads Indonesia.
“Gue sudah biasa diomongin. Apalagi sama teman. Pro kontra itu biasa, kalau semua pro kan kita jadi tidak berkaca,” ungkap Eben.
ADVERTISEMENT
Bukan kali ini saja Burgerkill jadi perbincangan hangat di ranah musik bawah tanah Indonesia. Saat masih diperkuat oleh vokalis Ivan ‘Scumbag’, Burgerkill juga pernah disebut sebagai pengkhianat skena metal.
“Burgerkill dari zaman sign kontrak sama Sony juga, sudah banyak yang ngomongin. Saya biasa disebut pengkianat scene. Jadi, ketika ada pergerakan kita yang enggak di-support ya, enggak masalah,” kata Eben.
Deadsquad dan Burgerkill foto bersama. (Foto: Munady Widjaja/kumparan)
Ia menekankan Burgerkill tentu sudah mempertimbangkan berbagai hal sebelum memutuskan untuk ikut di Super Invasion 2018. Meski dibicarakan secara negatif oleh beberapa orang, Eben sama sekali tidak menyesal.
“Semua teman-teman yang ingin bekerja sama pasti sudah menimbang banyak hal dan tahu apa yang terbaik,” tuturnya.
Di luar itu semua, Eben mengaku dapat banyak berkah positif selama melakukan tur di Eropa. Jika Deadsquad mendapat tawaran untuk bermain di Death Fest Open Air 2019, Burgerkill menemukan fakta bahwa mereka sudah punya banyak fans di Belanda.
ADVERTISEMENT
“Paling berkesan sih di Amsterdam. Kita kan sudah dua kali ke sana, ternyata di sana sudah banyak Begundal (fans Burgerkill),” ujar Eben.
“Kalau di kota lain kan kita kayak band baru gitu, enggak ada paham. Jadi setelah tiga lagu, baru mulai headbang atau mosh. Kalau di Amsterdam, Begundal itu sudah stay dari awal,” sambungnya.
Selain itu, vokalis Burgerkill, Vicky, juga mengaku dapat pengalaman lucu selama berjualan merchandise di Eropa.
“Pas di Eindhoven ada Begundal yang datang cari merch tapi nawar. Kita kira mah bule enggak suka nawar. Jadi, kita jual kaus 20 Euro sama mereka ditawar 15 Euro, sampai kasih lihat sisa duit yang dipegang gitu. Ya, mau gimana, kita kasih,” imbuh sang gitaris.
ADVERTISEMENT
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan