kumparan
25 Apr 2019 13:03 WIB

Jawaban Garin Nugroho soal Kontroversi Film 'Kucumbu Tubuh Indahku'

Garin Nugroho, sutradara. Foto: Munady Widjaja/kumparan
Film ‘Kucumbu Tubuh Indahku’ yang telah tayang di bioskop sejak 18 April 2019 menuai kontroversi. Muncul petisi yang menolak penayangan film garapan sutradara Garin Nugroho itu.
ADVERTISEMENT
Petisi berjudul ‘Tolak penayangan film LGBT dengan judul “Kucumbu Tubuh Indahku” Sutradara Garin Nugroho’ tertera di change.org. Petisi itu dimulai tiga hari lalu. Hingga kini sudah ada 3.000 pendukung petisi tersebut.
Dalam petisi itu tertulis menolak penayangan dan penyebarluasan film ‘Kucumbu Tubuh Indahku’. Si pembuat petisi mengungkapkan sebuah film seharusnya dibuat untuk memberikan efek positif bagi para penonton, seperti membuat menjadi kreatif maupun menambah wawasan bernilai positif juga.
Jika film seperti ini diizinkan tayang dan disebarluaskan, kita mesti khawatir, bahwa generasi muda yang mengalami kesulitan menemukan jati diri akan mencontoh perilaku dalam film ini,” tulis si pembuat petisi.
Loading Instagram...
Munculnya petisi yang berisi penolakan terhadap penayangan dan penyebarluasan film ‘Kucumbu Tubuh Indahku’ ditanggapi oleh Garin lewat unggahannya di akun Instagram miliknya. Garin tampaknya menyayangkan hal itu dilakukan tanpa ada proses diskusi terlebih dahulu.
ADVERTISEMENT
“Petisi untuk tidak menonton film ‘Kucumbu Tubuh Indahku’ lewat ajakan media sosial, tanpa proses dan ruang dialog, bahkan tanpa menonton telah diviralkan di media sosial,” kata Garin, Kamis (25/4).
Garin menambahkan, penghakiman massal lewat media sosial terhadap karya seni sudah kerap terjadi. “Gejala ini menunjukkan media sosial telah menjadi medium penghakiman massal tanpa proses keadilan, melahirkan anarkisme massal,” ucapnya.
Menurut Garin, penghakiman massal yang dilakukan tanpa ada proses dialog sebelumnya akan mematikan daya pikir terbuka dan kualitas warga. Selain itu, lanjut dia, hal itu juga memengaruhi daya kerja dan cipta seseorang.
“Serta mengancam kehendak atas hidup bersama manusia untuk bebas dari berbagai bentuk diskriminasi dan kekerasan sebagai tiang utama demokrasi,” tutur Garin.
ADVERTISEMENT
Video
Lewat catatan yang ia tuliskan, sutradara berusia 57 tahun itu bermaksud menyampaikan keprihatinan terbesar atas menjamurnya gejala penghakiman massal tanpa proses dialog dan penegakan hukum yang berkeadilan.
“Bagi saya, kehendak atas keadilan dan kehendak untuk hidup bersama dalam keberagaman tanpa diskriminasi dan kekerasan tidak akan pernah mati dan dibungkam oleh apapun, baik senjata hingga anarkisme massal tanpa proses berkeadilan,” tutup Garin.
Film 'Kucumbu Tubuh Indahku' bercerita tentang kehidupan seorang penari Lengger pria bernama Juno. Sejak kecil ia tinggal tanpa ayah dan ibu serta kerap berpindah-pindah rumah tinggal.
Seiring berjalannya waktu, Juno mulai mengenal kasih sayang dari orang-orang di sekelilingnya, mulai dari guru tari, bibi penjual ayam, paman penjahit, seorang petinju, seorang Warok dan Bupati.
ADVERTISEMENT
Kasih sayang itu membuat Juno semakin menghargai hidup, namun juga mempertanyakan pergolakan sisi maskulin dan feminin dalam dirinya.
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan