kumparan
13 April 2019 12:42

Konser Band Reuni, Konsep ‘Mujarab’ Dunia Showbiz

Tren Reuni Band '90an'
Tren Reuni Band '90an' Foto: infografik:Putri Sarah Arifira/kumparan
Banyak motivasi bagi sebuah band saat memutuskan reuni atau sekadar menjalankan proyek nostalgia bersama mantan personel. Selain mencoba untuk kembali berkarya, atau juga mencoba berdamai dengan masa lalu dengan kembali tampil di atas panggung.
Terlepas dari ragam motivasi tersebut, sebagai sebuah konsep pertunjukkan di dunia showbiz, menghadirkan band yang reuni merupakan salah satu konsep yang manjur untuk dijual. Terlebih jika sebelumnya band tersebut memiliki banyak hits dan penggemar.
"Karena mereka (band besar yang kemudian memutuskan reuni) sudah punya captive market," kata Dino Hamid, CEO Berlian Entertainment kepada kumparan di kantornya bilangan Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, baru-baru ini.
Ia mencontohkan saat Berlian Entertainment menggelar "Love Festival" beberapa waktu lalu. Di panggung itu, tampil beberapa band besar tanah air yang hadir kembali bersama mantan personelnya. Atau bisa disebut sebagai panggung reunian.
Diantaranya adalah Kerispatih yang tampil kembali bersama Sammy Simorangkir dan Badai, Gigi dengan beberapa mantan personelnya, Maliq & D'Essentials juga dengan beberapa mantan personel, serta Padi Reborn serta Element yang memutuskan kembali bersatu dan menjalankan proyek bersama-sama setelah lama vakum.
Respons penonton sangat baik. Dino menghitung setidaknya ada 4.000 pasang mata yang menyaksikan penampilan Kerispatih bersama Sammy dan Badai saat itu.
"Lagu-lagu mereka (Kerispatih) sebelumnya sudah banyak yang suka, dan saat kita keluarkan lagi di era saat ini, anak-anak sekarang ternyata juga menerima karya mereka. Jadi marketnya semakin besar," kata Dino Hamid.
Penampilan Kerispatih di konser Love Fest Vol. 3
Penampilan Kerispatih di konser Love Fest Vol. 3. Foto: Alexander Vito/kumparan
Hal itu tidak lepas dari era digital saat ini, sehingga musik-musik seperti milik Kahitna yang tenar di era ‘80-‘90an dapat dengan mudah dinikmati generasi milenial saat ini.
“Karena platform digital sekarang pada akhirnya membuat mereka (penikmati musik) melihat kontennya, apakah musiknya enak, menarik, lebih ke situ. Jadi jangan salah jika banyak generasi sekarang yang juga suka dengan musik-musik milik band era sebelumnya,” kata Dino.
Hal yang sama dikatakan CEO Rajawali Indonesia, Anas Syahrul Alimi. Ia sebelumnya sukses menghadirkan konser "Jikustik Reunian", yang turut dihadiri Pongky serta Icha, dua personel Jikustik yang telah hengkang. Untuk pertama kalinya Jikustik tampil dengan komposisi personel awal, sejak terpecah pada tahun 2009 silam.
Ia mengatakan, menghadirkan reuni band di atas panggung merupakan salah satu konsep dalam dunia showbiz yang besar. Ia menyoroti besarnya massa penggemar sebuah band besar tanah air yang sempat memutuskan vakum atau beberapa personelnya keluar. Dan ketika mereka memutuskan untuk kembali tampil, tentu akan menjadi magnet yang besar.
"Jadi menghadirkan band reunian ini sebenarnya menjual kenangan dan masa lalu ya,” kata Anas dalam perbincangannya melalui telepon kepada kumparan.
Konser Jikustik Reunian
Konser Jikustik Reunian di Grand Pacific Hall Yogyakarta, Jumat (29/3). Foto: Aria Pradana
Ia mencontohkan saat menggelar konser ‘Jikustik Reunian’ di kampung halaman mereka Yogyakarta pada 29 Maret lalu. Jikustik telah memiliki market, yakni penggemar-penggemar mereka yang kini juga telah sama-sama tumbuh semakin dewasa.
“Otomatis mereka spend money juga enggak keberatan karena mereka ingin nostalgia, mengulang kenangan dan lain-lain. Dan ini sebenarnya adalah peluang bisnis yang sangat besar ketika kita berhasil menciptakan satu momen, walaupun challenge-nya secara bisnis juga besar,” kata Anas.
Tidak Mudah Diwujudkan
Meski memiliki peluang menghadirkan penonton yang banyak, mewujudkan tampilnya sebuah band untuk reuni di atas panggung bukan perkara mudah. Banyak hal yang harus diperhatikan dengan matang. Terutama konsep pertunjukkan yang ditawarkan. Sebab tidak selamanya pendekatan bisnis adalah hal yang utama.
Apalagi jika band tersebut memiliki cerita perselisihan antarpersonel. Hubungan serta ego dari masing-masing personel harus turut jadi perhatian. Itu pula yang dirasakan Anas saat melakukan pendekatan ke Pongki dan Jikustik.
"Sejak 2016 saya melakukan approaching ke mereka masing-masing (personel), hanya memang belum ketemu," kata Anas.
Band yang reuni dan konser bareng personel lama
Band yang reuni dan konser bareng personel lama Foto: infografik:nunki pangaribuan/kumparan
Tidak jarang usaha Anas "merayu" Pongki dan Icha, serta personel Jikustik yang masih bertahan saat ini berujung buntu. Iming-iming nostalgia dan romantisme masa lalu dengan kebesaran lagu-lagu Jikustik, tidak cukup menggugah hati mereka. Hingga akhirnya pada tahun 2018 kemarin, Anas berhasil meyakinkan mereka dengan satu konsep. Yaitu rekonsiliasi.
Anas tidak menampik jika masing-masing memiliki ego yang tinggi. Sehingga diperlukan pendekatan dan tawaran konsep yang bisa memberikan dampak lebih kepada mereka. Baik secara pribadi maupun nama Jikustik itu sendiri.
Bahkan Pongki, menurut Anas, ketika mendengar konsep yang ditawarkan langsung tertarik. Padahal sebelumnya Pongki sudah banyak mendapat tawaran untuk kembali manggung besama Jikustik.
"Makanya saya tawarkan konsep rekonsiliasi, karena bagi saya ya sudah lah berdamai dengan masa lalu. Nah ternyata ini disambut dengan baik oleh Pongki, Icha maupun Jikustik," kata Anas.
Sama halnya seperti yang dilakukan Dino Hamidn saat hendak mewujudkan niatannya mengajak Kerispatih bersama Sammy dan Badai ke atas panggung "Love Festival". Bahwa tidak hanya sekadar mengajak mereka "kangen-kangenan" akan masa lalu, tapi turut mengisi konsep besar yang ada dalam "Love Festival".
Penampilan Element di konser Love Fest Vol. 3
Penampilan Element di konser Love Fest Vol. 3. Foto: Helmi Afandi/kumparan
Bahwa setiap penampil di festival tersebut, mewakili empat unsur yaitu persahabatan, perjalanan, cinta dan perpisahan. Kerispatih bersama Sammy dan Badai bahkan memenuhi empat unsur tersebut.
"Kita approach satu-satu ke masing-masing personel, karena mereka kan udah kepecah tiga ya. Sammy, Badai dan (band) Kerispatih saat ini sendiri. Kita benar-benar personal dan kita delivered konsep visinya bagaimana," kata Dino.
Packaging yang Matang
Dalam menghadirkan penampilan sebuah band dalam konsep reuni, packaging alias kemasan di atas panggung menjadi tantangan berikutnya yang harus dikerjakan secara maksimal. Sentuhan emosional sangat diperlukan guna menghadirkan ambience yang intim di dalam konser. Selain juga tentunya soal aksi panggung, tata cahaya serta lagu-lagu yang menjadi aset terbesar sebuah band untuk penggemar mereka.
Anas menjelaskan, untuk 'Jikustik Reunian', konsep penampilan dimatangkan dengan sangat baik. Peran dari masing-masing personel dimaksimalkan dalam penentuan konsep bersama art director dan show management. Dalam waktu yang cukup intens, mereka menggali konsep penampilan hingga yang terpenting adalah penentuan urutan lagu (song list).
Hal ini sangat penting guna bisa memberi sentuhan emosional tersebut. Baik untuk masing-masing personel ataupun penonton.
"Kenapa lagu pertama 'Maaf' lalu terus berjalan sampai lagu terakhir 'Akhiri dengan Indah', jadi semuanya memang terkonsep seperti memorabilia. Begitu konser (selesai), benar-benar kelima orang tersebut menangis. Bahkan informasi dari kru yang di panggung, Pongki sampai nangis menderu-deru cukup lama," ujar Anas seraya tersenyum.
Konser Jikustik Reunian
Konser Jikustik Reunian di Grand Pacific Hall Yogyakarta, Jumat (29/3). Foto: Aria Pradana
Dino Hamid menambahkan, ujung dari segala konsep yang telah dikemas adalah saat band tampil di atas panggung. Bagaimana masing-masing personel bercengkrama di atas panggung dengan memainkan lagu-lagu mereka yang sejatinya aset terbesar mereka sebagai musisi, dan kemudian interaksinya kepada penonton.
Disinilah perlu proses kreatif yang matang antara band, tim manajemen dan promotor.
“Bahwa harus kuat dari strategi branding bagi promotor, packaging lalu kreatifnya. Konsep show juga harus dipikirkan karena tidak mungkin mereka literally yang besar di era 2000-an awal misalnya tidak di-update dari sisi tampilan. Visual juga jadi hal yang penting,” kata Dino Hamid.
Secara keseluruhan, baik Anas maupun Dino sama-sama puas dengan hasil akhir yang mereka capai. Bahwa respons dari band kemudian para penggemar sangat baik.
Bahkan Dino mengatakan, sejak kehadiran Kerispatih bersama Sammy Simorangkir dan Badai di Love Festival beberapa waktu lalu, tawaran dari promotor lain di luar Berlian Entertainment untuk mereka semakin banyak.
“Kerispatih setelah kemarin akhirnya jalan kembali tapi dengan requirement yang disepakati mereka bersama-sama,” kata Dino.
Loading Instagram...
Bahkan ia mengatakan sudah banyak permintaan dari penggemar untuk kembali menghadirkan konser serupa namun dengan lebih eksklusif. Rencananya, pada bulan Juni mendatang, sembilan penampil di Love Festival akan dipecah hanya dengan dua penampil di satu acara. Termasuk Kerispatih bersama Sammy dan Badai.
Ia memiliki ekspektasi sedikitnya lebih dari 1.000 penonton bisa hadir di acara tersebut nanti.
“Banyak kemarin yang secara input pengin lihat show-nya lagi, makanya kita mau rencana buat turunan show-nya,” kata Dino.
Begitu juga seperti yang dituturkan Anas. Bahwa antusiasme penggemar begitu besar. Terbukti 3.200 tiket terjual pada penampilan Jikustik Reunian di Yogyakarta beberapa waktu lalu.
Tak hanya menggelar konser di Kota Gudeg, Anas juga mengaku bakal mengadakan konser 'Jikustik Reunian' di Jakarta. Namun untuk waktunya, akan dilaksanakan seusai Pesta Demokrasi 2019.
Konser Jikustik Reunian
Konser Jikustik Reunian di Grand Pacific Hall Yogyakarta, Jumat (29/3). Foto: Aria Pradana
"Ya, kita akan ada rencana ke Jakarta. Jadi, dari awal kita memang sudah ngomong dua kota, Jakarta dan Yogyakarta. Sesegera mungkin. Ya, kita tahu 'kan kalau sebentar lagi pilpres dan kita akan segera ngobrol soal itu," pungkas Anas.
Simak tulisan selanjutnya tentang tren konsep panggung untuk Band yang Reuni dalamkonten eksklusif “Tren Reuni Band Anak '90-an”.
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan