kumparan
23 Oktober 2018 16:00

Peringatan Serius! Jangan Nonton ‘The Night Comes For Us’ Sambil Makan

The Night Comes For Us
Karakter pendukung di film The Night Comes for Us (Foto: Netflix/Screenplay)
Bayangkan Anda berada di sebuah rumah jagal yang sibuk. Para penjagal begitu lihai memainkan pisau mereka seperti atraksi sirkus yang menarik. Tapi Anda tahu bahwa Anda bisa muntah apabila mencoba menikmati makan malam Anda di situasi seperti itu.
ADVERTISEMENT
Begitulah pengalaman menonton 'The Night Comes For Us' garapan sutradara Timo Tjahjanto,--terutama buat Anda yang tak kuat melihat darah muncrat dari leher yang terkoyak, bagian tubuh terbelah hingga usus yang terburai. Dan itu hanya sebagian kecil dari orkestra brutal yang indah.
Timo memang memiliki jejak dalam menampilkan elemen gory di film-filmnya. 'Rumah Dara' (2010), 'Killers' (2014), dan 'Headshot' (2016) hanyalah permulaan, dan 'The Night Comes For Us' berhasil menaikkan kelas Timo sebagai sutradara yang harus diperhitungkan dalam ranah action.
Bahkan Rob Liefeld, salah satu kreator Deadpool, harus memberikan capslock saat menyebut nama Timo Tjahjanto dalam pujiannya di Twitter. Setelah menonton 'The Night Comes for Us', Rob melihat masa depan film action di tangan Timo.
ADVERTISEMENT
"Berikan semua uang yang dibutuhkan Timo Tjahjanto untuk bikin Deadpool 3!" serunya.
Rob melihat fenomena film superhero atau adaptasi komik semakin 'ramah keluarga' demi pertimbangan pundi-pundi dolar. Padahal ada juga karakter yang memiliki sisi brutal, dan perlu ditampilkan secara visual untuk menguatkan esensi karakter tersebut. Makanya kehadiran Deadpool di ranah perfilman Hollywood seolah mendobrak pagar yang selama ini dibangun film-film ala Marvel-Disney.
Deadpool terbukti sukses besar di box office, terlepas dari konten kekerasan, makian dan darah yang tumpah lewat aksi sang anti-hero. Jadi, Rob senang membayangkan Timo mendapatkan sumber daya dan properti intelektual dari sebuah kultur pop global.
'The Night Comes For Us' bercerita tentang anggota gangster Six Seas bernama Ito (Joe Taslim), yang membelot karena menaruh simpati pada seorang anak kecil yang harus dibunuh kelompoknya. Six Seas beranggotakan enam orang, baik perempuan maupun lelaki. Mereka menjadi mesin pembunuh organisasi kriminal Triad yang mengontrol 80 persen peredaran narkoba dan perjudian di Asia Tenggara. Kelompok ini begitu keji dan tak segan membantai siapa saja yang menjadi penghalang.
ADVERTISEMENT
Maka upaya pembelotan Ito benar-benar dianggap sebagai masalah serius. Saking seriusnya, Triad harus mengutus Chien Wu (Sunny Pang) dan mengerahkan satu kompi begundal demi mengurus satu orang saja tanpa motif yang benar-benar kuat. Dan saking seriusnya, sampai-sampai timbul pertanyaan, 'Memang enggak ada kelompok kriminal lainnya yang harus dibantai?" Sebegitu pentingnya 'kah Ito dan urusan tak membunuh seorang anak kecil bagi organisasi Triad? Padahal tak secara langsung mengganggu bisnis mereka. Tak ada juga motif personal yang benar-benar mengusik.
Layaknya korporasi, organisasi kriminal hampir selalu menempatkan bisnis dan keuntungan sebagai prioritas. Reputasi tetap harus ditegakkan, tetapi biasanya akan mendahulukan isu yang beririsan dengan bisnis. Entah perang dengan kartel narkoba lain atau soal perebutan wilayah. Hal sepele perihal anak buah yang membelot dan membunuh tujuh orang mantan rekan kerjanya, hanyalah urusan kecil yang biasanya diselesaikan belakangan. Terlalu besar harga yang harus dibayar untuk menyingkirkan semut kecil yang menggigit.
ADVERTISEMENT
The Night Comes For Us
Para anggota gangster di film The Night Comes For Us (Foto: Screenplay Films/XYZ/Netflix)
Dalam keadaan terluka, Ito mendatangi rumah mantan kekasihnya, Shinta (Salvita Decorte, 'Halfworlds'). Ia turut membawa anak kecil yang dia lindungi, Riana. Masalahnya, Ito sudah lama menghilang dari hidup Shinta. Tahu-tahu dia pulang bawa anak kecil.
"Plak." Tamparan mendarat di pipi Ito. "Ke mana saja kamu selama ini? Aku pikir kamu sudah mati. Ini anak siapa?" begitulah rententan pertanyaan Shinta layaknya istri Bang Toyib yang penasaran.
Dengan kedatangan Ito yang tiba-tiba dan membawa masalah, Shinta memanggil Fatih (Abimana Aryasatya) dan Bobby (Zack Lee), sahabat lama Ito saat masih menjadi gangster kelas teri. Mereka reunian sekaligus menyusun strategi dalam menghadapi situasi berbahaya di depan mata. Ito juga harus berhadapan dengan Arian (Iko Uwais) yang pernah menjadi bagian dari mereka.
ADVERTISEMENT
"Semua harus selesai malam ini," kata Ito, meskipun sejak langkah pertama dia tahu bagaimana cerita akan berakhir.
The Night Comes For Us
Joe Taslim memegang shotgun (Foto: Screenplay Films/XYZ/Netflix)
Rob Liefeld dan sejumlah blogger dan penikmat film di Amerika Serikat, begitu tercengang dan memberikan puja-puji yang tinggi pada film seperti 'The Night Comes for Us' dan 'The Raid'. Mereka seperti anak kecil yang melihat mainan baru, karena mungkin selama mereka menghabiskan waktu di bioskop, terutama di Hollywood, mereka jarang menyaksikan pertarungan intens sungguhan tanpa polesan efek spesial atau trik kamera. Bahkan ada yang tak ragu mengatakan bahwa 'The Raid' membuat film 'The Expendables' hanya terlihat seperti 12 orang yang sedang marah-marah.
Kekuatan terbesar 'The Night Comes for Us' terletak pada koreografi pertarungan yang dibuat Iko Uwais dan timnya. Kemampuan Iko Uwais dalam meramu racikan pertarungan adalah aset berharga. Ia bisa menjadi game changer dalam hal teknis untuk film-film action di Hollywood. Saat ini Iko sedang syuting serial Netflix 'Wu Assassins' di Kanada, dan ia jadi pemain utama.
The Night Comes For Us
Iko Uwais bergaya necis (Foto: Screenplay Films/XYZ/Netflix)
Tapi, koreografi yang badass tak akan jadi apa-apa tanpa visi dari Timo, bidikan gambar Gunnar Nimpuno, musik yang mengguggah dan kerja keras dari departemen lain.
ADVERTISEMENT
Banyak sekali pertarungan satu lawan satu, satu lawan dua, atau satu lawan banyak--yang saking menariknya, kita sulit menemukan mana yang favorit. Tapi tentu yang paling ditunggu adalah pertarungan terakhir dari dua karakter utama; Ito (Joe Taslim) dan Arian (Iko Uwais). Pertarungan yang memiliki level tinggi seperti Rama vs Mad Dog dan Rama vs The Assassins di seri 'The Raid'. Sebagai film Indonesia pertama yang tayang untuk Netflix, ‘The Night Comes For Us’ tidak mengecewakan.
The Night Comes For Us
Trailer The Night Comes For Us (Foto: Netflix)
Karakter-karakter dalam film ini cukup menarik dan dinamis, meskipun tak memiliki backstory yang proporsional. Kita bisa melihat sekilas bahwa Fatih adalah sahabat sejati yang tanpa pamrih, Bobby adalah si sembrono yang pakai otot duluan dibanding otak, tapi setia kawan, dan Shinta adalah pasangan yang... too good to be true. Ada juga Wisnu (Dimas Anggara, keponakan Fatih), yang menganggap Ito sebagai pahlawan, tapi alasannya kurang jelas jika dia sampai rela mengorbankan nyawanya. Oh, jangan lupakan Yohan (Revaldo) yang agak psycho dan senang sumpah serapah.
ADVERTISEMENT
Berbicara tentang para petarung wanita di film ini enggak kalah seru. Hannah Al Rasyid (Elena) dan Dian Sastrowardoyo (Alma) beraksi sebagai duo pembunuh yang memiliki karakter, tapi mereka bukan tandingan Julie Estelle yang berperan sebagai pembunuh bayaran dengan kode nama The Operator. Dengan--lagi-lagi--sedikit latar belakang cerita karakter ini, penonton akan berasumsi bahwa tokoh tersebut bisa dikembangkan lebih jauh.
Timo sudah memberi petunjuk bahwa ia memang menyiapkan proyek trilogi, tapi tidak menutup kemungkinan The Operator bisa menjadi proyek spin-off. Julie Estelle telah bertransformasi dari cewek yang jadi rebutan dua cowok di film 'Alexandria' (2005) menjadi aktris spesialis film action yang harus diperhitungkan Hollywood.
Dia jelas bisa lebih keren dari Uma Thurman di film 'Kill Bill' atau sekadar 'peran enteng' seperti Lara Croft untuk menggantikan Alicia Vikander.
ADVERTISEMENT
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan