kumparan
search-gray
Mom4 April 2018 9:05

5 Kalimat yang Tidak Boleh Dikatakan Pada Anak

Konten Redaksi kumparan
Ilustrasi anak cemas
Ilustrasi anak cemas. (Foto: Thinkstock)
Ketika anak-anak sudah memasuki usia prasekolah atau sekitar 4 tahun ke atas, ada perkembangan tingkat emosi yang perlu Anda pahami. Kini, mereka semakin mengerti dan dapat mencerna perkataan demi perkataan kita lebih baik lagi.
ADVERTISEMENT
Karena itu, Anda perlu berhati-hati dalam berbicara agar tidak menyakiti perasaan mereka. Saat Anda salah berucap, tanpa Anda sadari Anda bisa menyakiti perasaan anak secara mendalam dan meninggalkan bekas luka yang mungkin buat mereka jadi trauma.
Berikut beberapa kalimat yang sebaiknya tidak Anda ucapkan pada anak pada mereka;
1. “Keluar! Tinggalkan Ibu sendiri!”
anak menangis
anak menangis (Foto: Thinkstock)
Meski mungkin Anda butuh waktu untuk sendiri, tapi sebaiknya jangan bentak anak dan menyuruhnya keluar dari ruangan seperti ini. Kalimat seperti ini akan menimbulkan rasa sedih dan cemas pada anak. Mereka bisa saja mengira bahwa mereka hanya pengganggu yang tidak Anda inginkan.
Jika Anda memang membutuhkan waktu untuk sendiri, bicara dan beri saja anak penjelasan, ‘Sayang, ibu sedang butuh istirahat sendiri di sini. Kamu main di ruang lain dulu, ya.'
ADVERTISEMENT
2. “Kamu memang tidak bisa diharapkan”
Sesekali Anda mungkin kecewa dengan hasil ulangan matematika mereka, tapi jangan pernah Anda mengucapkan kalimat seperti ini. Mengucapkan kalimat di atas justru buat mereka semakin down dan merasa bodoh.
Merasa bodoh tidak akan membuat anak terpacu untuk memperbaiki cara belajar atau apapun yang tengah dilakukannya, Moms. Alih-alih, ia akan mempercayainya dan ini merusak kepercayaan dirinya. Tanpa kepercayaan diri, tak mungkin anak dapat berprestasi.
3. “Apa-apa nangis. Sebentar-sebentar nangis. Dasar anak cengeng!”
Anak menangis meraung
Anak menangis meraung (Foto: Pixabay)
Menangis merupakan sebuah bentuk emosi anak pada Anda. Anak mungkin belum berani melawan perkataan Anda, jadi mereka akan menangis untuk meluapkan emosinya.
Saat anak menangis, jangan katakan pada mereka bahwa mereka adalah anak yang cengeng. Ini buat mereka merasa lemah dan tidak berdaya ketika menyelesaikan sebuah masalah. Lebih baik ajarkan anak mengelola emosinya.
ADVERTISEMENT
4. “Coba lihat! Mereka aja bisa, tapi kamu kok nggak bisa?”
Anak menangis saat bermain.
Anak menangis saat bermain. (Foto: Thinkstock)
Ingat, Moms, setiap anak memiliki kemampuan dan kecerdasan yang berbeda-beda. Waktu yang dibutuhkan setiap anak untuk mempelajari sesuatupun berbeda. Jadi tak perlu membandingkan anak Anda dengan anak orang lain termasuk dengan kakak, adik maupun saudara sepupunya.
Jika Anda merasa anak Anda belum dapat melakukan apa-apa yang bisa dilakukan anak lain, maka ini tugas Anda sebagai orang tua untuk membimbing dan melatih mereka. Perhatikan juga, bisa saja anak tidak bisa melakukan hal itu tapi ia pandai melakukan banyak hal lainnya.
5. “Anak perempuan/laki-laki tidak boleh begitu,”
Ilustrasi Anak Bermain
Ilustrasi Anak Bermain (Foto: Pixabay)
Tidak hanya kemampuan anak, tapi minat anak juga berbeda dengan anak lainnya. Jadi tidak perlu memaksakan anak melakukan permainan yang tidak disukainya.
ADVERTISEMENT
Bila anak perempuan Anda gemar bermain basket maupun sepak bola, jangan dilarang! Dan begitu juga sebaliknya. Tidak perlu marah bila anak laki-laki Anda suka main masak-masakan atau boneka. Para ahli menjelaskan, ketika anak masih kecil terutama di usia balita orang tua perlu membebaskan dan mengasah daya imajinasi anak karena ini akan mempengaruhi cara berpikirnya di masa depan. Jadi sebaiknya Anda tidak membatasi permainannya.
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan
sosmed-whatsapp-white
sosmed-facebook-white
sosmed-twitter-white
sosmed-line-white