kumparan
21 Maret 2018 16:50

7 Hal yang Harus Diingat Orang Tua dengan Anak Down Syndrome

Ilustrasi anak down syndrome.
Ilustrasi anak down syndrome. (Foto: Thinkstock)
Apa yang Anda lakukan saat mengetahui bayi yang tengah dikandung didiagnosa terkena sindroma down (down syndrome) oleh dokter? Kaget, sedih, dan menyangkal terus tidak percaya?
ADVERTISEMENT
Wajar saja, Moms. Tidak ada orang tua yang menginginkan anaknya lahir dengan kondisi ini.
Tapi biarkanlah masa-masa itu berlalu. Buang jauh pikiran yang cenderung menyalahkan diri dan cobalah berdamai kondisi yang ada.
Sekarang yang penting, bagaimana Anda mendampingi dan mengasuh si kecil --yang sama seperti setiap anak lainnya-- membutuhkan kasih dan dukungan orangtuanya.
Ilustrasi anak down syndrome.
Ilustrasi anak down syndrome. (Foto: Thinkstock)
kumparanmom (kumparan.com) merangkum tujuh hal yang perlu Anda ingat selalu dalam membesarkan anak dengan down syndrome:
1. Anak Anda sama dengan anak lain
Tinggalkan sejenak label down syndrome yang menempel pada si kecil. Ingat Moms, sejak lahir ia tetap membutuhkan kasih sayang orang tuanya dan hak-hak lainnya yang mesti dipenuhi bagaimanapun kondisinya.
Si kecil tetap membutuhkan ASI, diberi banyak stimulasi, diajak bermain, dipeluk, diajak berjalan-jalan dan dininabobokan. Tidak berbeda dengan bayi lainnya. Kelak ia juga perlu belajar berjalan, membaca, menulis, berteman, bersekolah...dan bila telah dewasa nanti bekerja dan berkeluarga.
ADVERTISEMENT
Anda tidak harus mencintai down syndrome untuk bisa mencintai dan mengasuh buah hati Anda. Anda perlu fokus terhadap kebutuhan dan tumbuh kembangnya.
2. Jangan bandingkan dengan anak lain
Dalam keadaan normal pun, banyak orang tua yang tergoda untuk membandingkan anak dengan anak lain. Padahal membanding-bandingkan anak tidak ada gunanya dan hanya akan membuat Anda sulit fokus terhadap perkembangan dan pencapaian yang telah si kecil lakukan.
Lebih baik terus memantau si kecil sambil memerhatikan tabel pertumbuhan dan perkembangan anak sesuai kategori usianya. Bila Anda menemukan sesuatu yang janggal atau keterlambatan, konsultasikan ke dokter.
3. Cari dukungan
Tidak perlu menarik diri dari lingkungan. Sebaliknya, cobalah menambah jejaring pertemanan dan mencari dukungan.
ADVERTISEMENT
Anda bisa mendaftarkan bayi Anda pada program yang sudah dirancang untuk menstimulasi anak-anak berkebutuhkan khusus atau bergabung dengan komunitas orang tua yang memiliki anak down syndrome sehingga Anda bisa punya teman berbagi dan berdiskusi.
Di Indonesia, ada ISDI (Ikatan Sindroma Down Indonesia) dan POTADS (Persatuan Orang Tua Anak dengan Down Syndrome) yang memiliki banyak kegiatan sepanjang tahun untuk keluarga yang memiliki anak dengan down syndrome.
Ilustrasi anak down syndrome.
Ilustrasi anak down syndrome. (Foto: Thinkstock)
4. Anak berkebutuhan khusus juga rupawan!
Coba praktikkan ini: Amati tubuh dan sanyum tulus si kecil secara keseluruhan. Di samping kebutuhan khususnya, binar dan keteduhan mata serta ketulusan senyuman si kecil bisa memukau Anda.
Perhatikan, warna matanya mungkin mirip dengan mata suami, tangan mungilnya punya jari-jari yang mirip dengan jari Anda dan selalu siap memeluk siapa saja. Manis sekali, kan? Jangan biarkan stereotip menghambat Anda untuk benar-benar mengenal pribadi anak yang ‘bersembunyi’ di balik kondisi khususnya itu.
ADVERTISEMENT
5. Si kecil juga bisa merasakan bermacam emosi
Anda mungkin akan sering mendengar orang berkata, "Anak dengan down syndrome sepertinya selalu bahagia, ya!". Padahal, anak dengan down syndrome juga merupakan manusia biasa yang bisa merasakan aneka emosi, yakni bahagia, sedih, malu, marah, dan histeris.
Karena itu, perhatikan selalu emosi anak dan bantu ia untuk dapat mengenali, mengekspresikan serta meregulasi emosinya dengan baik.
Anak belajar berhitung
Anak belajar berhitung (Foto: Pixabay)
6. Ubah frustasi jadi solusi
Dikutip dari laman Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), anak dengan down syndrome akan mengalami keterlambatan dalam perkembangannya secara umum. Di balik kesabaran, mungkin ada kalanya Anda merasa frustasi sebagai orang yang normal.
Tidak masalah, Moms. Justru, terima saja segala perasaan itu. Tapi usahakan ubah rasa frustasi yang Anda alami untuk memunculkan ide kreatif yang menghasilkan solusi.
ADVERTISEMENT
Misalnya rasa frustrasi dalam mengajarkan anak sesuatu yang membawa Anda menemukan cara sendiri yang mudah ia terima. Atau saat si kecil kesulitan berkomunikasi secara lisan coba ajarkan anak menggunakan bahasa isyarat.
Ilustrasi wisuda
Ilustrasi wisuda (Foto: Shutterstock)
7. Hidup tidak akan terhenti karena kondisi ini
Memiliki anak dengan down syndrome tidak akan menghentikan langkah masa depan keluarga Anda.
Meski awalnya terasa sangat buruk, tapi selanjutnya hidup tetap berjalan. Begitu juga dengan si kecil. Dengan kasih sayang dan kesabaran Anda, yakinlah kalau anak dengan down syndrome juga dapat tumbuh mandiri, memiliki masa depan yang cerah, bahkan berprestasi.
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan