Untitled Image

Anak Kritis dan Kreatif dengan Metode Belajar STEAM

13 Januari 2022 9:30
·
waktu baca 6 menit
sosmed-whatsapp-whitecopy-link-circlemore-vertical
Setiap orang tua pasti menginginkan anak mendapatkan pendidikan terbaik. Sehingga, banyak orang tua yang mencari sekolah dengan metode pendidikan terbaik pula.
Apalagi di masa depan, industri 4.0 akan mengutamakan dan mengedepankan segala sesuatu secara digital yang harus didukung oleh sumber daya yang kreatif dan inovatif. Oleh karena itu, diperlukan adanya metode dan cara pengajaran yang sesuai untuk membentuk anak menjadi generasi yang unggul, seperti metode pembelajaran STEAM. Sudah pernah dengar, Moms?

Model Belajar STEAM dan Kelebihannya untuk Anak

Metode STEAM awalnya diciptakan agar anak memiliki rasa cinta pada seni, sains, dan teknologi. STEAM sendiri merupakan singkatan dari science, technology, engineering, art, dan mathematics. Dengan muatan ini, anak diharapkan bisa menemukan keterkaitan di beberapa bidang ilmu ini.
Penerapan STEAM dalam pembelajaran akan membentuk anak yang mampu menganalisis sesuatu, berpikir dengan kritis, menemukan pemecahan masalah, percaya diri, komunikatif, kolaboratif, dan kreatif.
Melalui STEAM anak dilatih untuk bermain, mengamati, dan berkreasi dan belajar dengan cara mereka sendiri. Karenanya, kemampuan mereka untuk bereksplorasi akan terus meningkat.

Implementasi dan Integrasi Metode STEAM

Ilustrasi implementasi STEAM dalam proses pembelajaran. Foto: Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi implementasi STEAM dalam proses pembelajaran. Foto: Shutterstock
Agar anak bisa menjadi pribadi yang berpikir kritis dan kreatif, STEAM tentu membutuhkan implementasi dan integrasi dalam proses pembelajarannya. Bagaimana caranya?
1. Sains
Si kecil akan diajak untuk selalu ingin tahu. Seluruh indra dalam tubuh akan digunakan untuk mengasah keterampilan mereka dalam mengamati sesuatu, khususnya yang berhubungan dengan sains. Misalnya, di dalam kelas, mereka akan diminta menggambarkan apa yang mereka rasakan, dengar, lihat, dan cium.
Tenaga pengajar dalam metode pembelajaran STEAM pun akan ikut berkreasi dalam menggunakan alat belajar. Mulai dari yang ada di lingkungan rumah, hingga yang ada di alam bebas.
2. Teknologi
Tak perlu khawatir, anak tidak akan langsung dibombardir dengan alat-alat canggih dan elektronik yang kompleks. Pendekatan STEAM akan mendemonstrasikan bagaimana satu teknologi bisa bekerja.
Contohnya, mereka akan menganalisa mengapa kipas angin bisa bergerak dan benda apa saja yang bisa diterbangkan dengan kekuatan angin yang dihasilkan kipas.
3. Teknik/Rekayasa
Lewat metode pembelajaran STEAM, anak juga diajak untuk menciptakan dan mengkreasikan sesuatu hanya dengan menggunakan balok kayu, gelas plastik, atau bahkan kardus.
Ilustrasi implementasi poin teknologi dalam pembelajaran. Foto: Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi implementasi poin teknologi dalam pembelajaran. Foto: Shutterstock
Pada poin engineering, anak akan dilatih untuk merepresentasikan atau menuangkan ide mereka pada sesuatu secara real. Karenanya, STEAM akan melatih mereka secara bertahap, mulai dari penggunaan barang-barang sekitar dan berukuran kecil, hingga membangun konsep dan merangkai sesuatu.
4. Seni
Jika si kecil belajar seni sejak dini, maka kreativitasnya akan terasah dengan baik. Dengan kreasi dan pembelajaran seni, anak juga tidak akan mudah bosan. Anak akan diperkenalkan dengan alat musik atau bermain dengan bahan-bahan seperti cat, spidol, krayon, pensil warna, dan hal lainnya untuk membuat karya seni. Tidak hanya kreativitas, si kecil pun mampu mengekspresikan diri dalam karya.
5. Matematika
Sudah tak asing lagi bahwa pembelajaran matematika dalam kelas akan menuntut anak bisa berpikir secara logika dan berfokus pada pemecahan masalah. Tidak hanya bermain angka, metode STEAM membuat anak bisa menerapkan ilmu matematika bahkan hingga hal kecil di kehidupan sehari-hari.
Ilustrasi anak yang kritis dan kreatif. Foto: Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi anak yang kritis dan kreatif. Foto: Shutterstock
Pada pembelajaran yang saling terhubung ini, nantinya anak akan diminta belajar dalam kelompok. Dari kelompok kecil hingga kelompok besar, anak akan berlatih mengutarakan pendapat, percaya diri, hingga berlatih untuk bisa berkomunikasi dengan baik.
Sebagai pelopor STEAM dalam pendidikan di Indonesia, Sampoerna Academy menjelaskan bahwa anak akan diajak menganalisis dan melakukan pemecahan masalah.
“Misalnya, media ‘lego’ untuk membuat sebuah bangunan rumah. Dari sudut science, guru akan mengajarkan bagaimana sebuah rumah bisa terbentuk dan menjadi tempat tinggal. Kemudian teknologi, guru akan menjelaskan cara membuat sebuah rumah. Engineering, digunakan untuk (mengajarkan) bagaimana desain rumah bisa berdiri dengan kokoh dan seimbang. Sudut pandang art, membantu mengenali kreativitas siswa dalam membentuk rumah. Serta matematika digunakan untuk menghitung jumlah balok yang diperlukan,” ujar Dr. Mustafa Guvercin, School Director Sampoerna Academy.

Memilih Sekolah dengan Metode STEAM

Ilustrasi penerapa STEAM dalam pembelajaran di masa pandemi. Foto: Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi penerapa STEAM dalam pembelajaran di masa pandemi. Foto: Shutterstock
Dalam memilih sekolah yang menerapkan metode STEAM, ada tiga hal penting yang perlu diperhatikan.
Pertama, apa dan bagaimana kurikulum dipakai di sekolah tersebut? Anda harus memastikan bahwa baik metode STEAM dan kurikulum yang dipakai sudah relevan di semua tingkat pendidikan dan up to date. Jadi, anak tidak akan ketinggalan akan perkembangan pembelajaran.
Kedua, ketahuilah kemampuan guru yang mengajar STEAM pada anak-anak Anda. Para pengajar di sekolah yang menggunakan metode STEAM biasanya telah memiliki sertifikat yang menunjukkan bahwa mereka kompeten untuk membimbing si kecil.
Terakhir, cari tahu keberhasilan dan kualitas para pelajar atau lulusan dari sekolah tersebut. Sekolah STEAM yang baik akan melahirkan para pelajar yang terbaik. Anak-anak dari sekolah yang menerapkan STEAM memiliki kemungkinan besar untuk berprestasi dan unggul baik dalam sekolah atau di luar sekolah.
Demi tetap memberikan pendidikan terbaik untuk para pelajar, Dr. Mustafa Guvercin dari Sampoerna Academy mengatakan bahwa sekolah tidak harus bergantung pada PTM, tetapi harus bisa menerapkan pembelajaran secara offline, online, atau hybrid dengan mengedepankan infrastruktur, sistem pelacakan yang canggih, dan penyampaian output.

Belajar dengan STEAM Bersama Sampoerna Academy

Pembelajaran dengan metode STEAM di Sampoerna Academy. Foto: Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Pembelajaran dengan metode STEAM di Sampoerna Academy. Foto: Shutterstock
Memilih sekolah yang menerapkan STEAM dapat membantu anak mengembangkan hard skill dan soft skill yang ia miliki. Di Indonesia sendiri, kita memiliki Sampoerna Academy, pelopor STEAM di Indonesia yang akan membimbing dan menjadikan anak sebagai pelajar sepanjang hayatnya, alias lifelong learner.
“Sampoerna Academy menanamkan nilai-nilai IGNITE (Integrity, Growth-Mindset, Nobility, Innovation, Teamwork, and Excellence) agar setiap murid menjadi generasi masa depan yang matang, percaya diri dan memiliki tujuan hidup yang lebih kuat,” jelas Dr. Mustafa Guvercin. Ia pun menjelaskan bahwa nilai ini pun mampu membentuk anak untuk bisa menghadapi kehidupan di luar sekolah.
Sebagai intercultural school, Sampoerna Academy berkomitmen untuk memberikan pendidikan terbaik dengan standar internasional dari paling dasar hingga tingkat 12. Selain menerapkan STEAM, Sampoerna Academy memperkuat cara berpikir siswa dengan 5C, yaitu Creativity, Critical Thinking, Communication, Collaboration, dan Character. Selain itu, kurikulum internasional yang diterapkan (IEYC, Cambridge, dan IBDP) bisa membuat siswa-siswa di Sampoerna Academy belajar secara holistik serta siap menjadi inovator di masa depan.
Dengan metode STEAM, tidak hanya anak dan guru, orang tua pun akan terlibat dalam proses pembelajaran. Orang tua akan terlibat pendampingan dan pengajaran dari rumah. Pembelajaran daring ini dilakukan dengan cara yang kreatif dengan kualitas yang baik, sama seperti mereka belajar di kelas.
“Orang tua bisa mengajak anak untuk membuat rencana kegiatan, kemudian mengurutkan persiapan dan langkah apa saja yang harus diambil, mengidentifikasi masalah, serta melatih kemampuan evaluasi,” kata Dr. Mustafa Guvercin mengenai keterlibatan orang tua dalam pembelajaran STEAM di masa pandemi yang diterapkan Sampoerna Academy.
Sampoerna Academy telah memenuhi syarat sebagai penyedia pendidikan STEAM yang berkualitas tinggi. Para pengajar telah memiliki sertifikat untuk mengajarkan tiap bidangnya. Selain itu, alumni dari sekolah ini pun telah menunjukkan keberhasilan pendidikan yang diberikan oleh Sampoerna Academy. Kebanyakan dari mereka diterima di universitas terkemuka di Indonesia, Inggris, bahkan Amerika Serikat.
Sampoerna Academy menerima siswa-siswi mulai dari pre-school, elementary school, middle school, hingga high school. Selain itu, saat ini Sampoerna Academy Campus sudah ada di lima kota di Indonesia, yaitu L’Avenue Jakarta, Sentul, BSD Tangerang, Medan and Surabaya. Moms bisa mengikuti virtual tour untuk melihat lokasi hingga fasilitas yang ada di setiap Sampoerna Academy Campus.
Yuk, siapkan pendidikan terbaik agar anak jadi lebih kreatif dan kritis bersama Sampoerna Academy. Kunjungi www.sampoernaacademy.sch.id dan instagram @sampoerna.academy untuk informasi lebih lanjut, ya!
Artikel merupakan bentuk kerja sama dengan Sampoerna Academy.
Metode pembelajaran STEAM picu minat anak pada sains, teknologi, teknik, seni, dan matematika. Sebagai pelopor STEAM di Indonesia, Sampoerna Academy upayakan anak jadi life-long learner dan inovator kreatif juga kritis. Selengkapnya, klik di sini!
Sedang memuat...0 Konten
Sedang memuat...0 Konten
Sedang memuat...0 Konten
Sedang memuat...0 Konten
Sedang memuat...0 Konten