kumparan
22 Feb 2019 17:12 WIB

Apa Kata Riset tentang Rasa Bersalah yang Sering Dialami Ibu Bekerja?

Ilustrasi ibu yang bekerja dengan anaknya Foto: Thinkstock
Moms, ternyata pengalaman kecil bisa mempengaruhi Anda ketika menjadi ibu bekerja. Sebuah studi yang dilakukan oleh tim peneliti dari Queen Mary University of London dan dipublikasikan di jurnal Human Relations mengatakan, bahwa ibu yang dibesarkan dengan ayah yang menjadi tulang punggung cenderung akan memiliki keinginan untuk bekerja seperti ayahnya, tapi juga tetap ingin jadi ibu rumah tangga, demi kebaikan anak.
ADVERTISEMENT
Lalu, apa efeknya? Menurut studi yang dilakukan dengan mewawancara 78 karyawan laki-laki dan perempuan di bidang hukum dan akuntansi ini mengungkap, ibu bekerja akan lebih mudah merasa bersalah karena tidak bisa menjadi seperti ibu mereka yang mencurahkan waktu sepenuhnya mengurus anak, ketika mereka masih berusia kanak-kanak.
Ilustrasi ibu yang bekerja dengan anaknya Foto: Thinkstock
“Kita bukanlah papan tulis kosong ketika kita mulai bekerja, banyak sikap kita yang dipengaruhi oleh apa yang terjadi di masa kecil kita,” kata salah satu penulis studi, Ioana Lupu sebagaimana dikutip The Bump.
Salah satu contoh dari perasaan bersalah ibu bekerja diceritakan oleh Eva, seorang direktur di sebuah firma akuntansi.
“Saya dibesarkan oleh ibu saya. Ia selalu ada di rumah dan kadang-kadang saya merasa bersalah karena tidak bisa melakukan hal yang sama pada anak saya, karena saya dibesarkan dengan baik dan ibu saya bisa menangani saya,” katanya. “Saya tidak selalu ada untuk anak saya. Dan saya merasa seperti saya sudah mengecewakan anak, karena meninggalkan anak saya dengan orang lain. Saya terkadang berpikir saya harus ada di rumah sampai mereka cukup besar.”
ADVERTISEMENT
Perasaan seperti ini juga mungkin dirasakan oleh perempuan yang bekerja di Indonesia, Moms. Contohnya saja seperti Ika yang bekerja di sebuah perusahaan di Jakarta Pusat. Ika saat ini memiliki dua orang anak dan anaknya yang kedua baru lahir bulan Desember 2018 lalu.
Ika sendiri dibesarkan dengan ayah sebagai tulang punggung dan ibu yang tinggal di rumah untuk mengurus anaknya, sama seperti Eva.
Ilustrasi pekerja. Foto: Unsplash
“Aku baru tahu soal riset itu, tapi berdasarkan (risetnya) memang betul,” kata Ika kepada kumparanMOM pada Rabu (13/2). “Ada perasaan berat saat ninggalin anak saat kerja walaupun anak dijaga sama neneknya sendiri,”
Keinginan untuk menjadi ibu rumah tangga pun sempat terpikirkan oleh Ika, namun karena beberapa alasan, maka ia menunda hal tersebut dan memutuskan untuk tetap berjuang menjadi seorang ibu yang bekerja.
ADVERTISEMENT
Kisah lainnya dituturkan oleh Gia yang bekerja di wilayah Jakarta Selatan. Gia juga besar dengan ayah yang menjadi tulang punggung keluarga. Gia pun sempat terpikir untuk berhenti bekerja, namun sama seperti Ika, ia punya pertimbangan lain yang membuatnya tetap bekerja.
Pertimbangannya untuk tetap bekerja adalah karena ia ingin mempersiapkan diri bila suatu saat suaminya tidak bekerja lagi, maka ia masih bisa tetap menghidupi anak dan keluarganya, karena tidak hanya mengandalkan satu sumber pemasukan.
Bagaimana dengan Anda, Moms? Apapun pilihan Anda bagi kami dari kumparanMOM, sebaik-baiknya ibu adalah yang bisa bahagia menjalani perannya. Setiap ibu tentunya tak akan lepas dari perjuangan dan tantangan masing-masing. Apakah ia seorang ibu rumah tangga maupun ibu bekerja.
Ilustrasi kedekatan ibu dan anak laki-lakinya Foto: Shutterstock
ADVERTISEMENT
Misalnya tantangan bagi ibu rumah tangga, seharian mengurus anak bisa saja timbul rasa jenuh dan kurangnya waktu untuk berkumpul dengan teman maupun me time.
Bila bekerja adalah pilihan Anda, maka jalanilah dengan sepenuh hati. Kerjakan pekerjaan itu dengan komitmen dan profesional. Tak perlu sampai merasa terlalu bersalah, Moms. Sebab itu tak akan baik untuk kesehatan Anda. Bila rasa bersalah itu muncul, coba atasi dengan afirmasi positif.
Contohnya Anda bisa mengatakan kalimat mantra ini: saya tidak akan merasa bersalah karena menjadi seorang ibu yang bekerja. Saya menjalankan semua tugas dan peran saya secara profesional dan penuh komitmen. Saya bangga menjadi ibu dan tidak akan pernah menyesalinya. Meski begitu, saya juga tidak akan membatasi aspirasi saya dalam berkarier.
ADVERTISEMENT
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan