kumparan
17 Nov 2018 12:08 WIB

Ayah Milenial, Benarkah Berbeda dengan Ayah Generasi Sebelumnya?

Wajah Ayah Milenial. (Foto: Iqbal Firdaus/kumparan)
Peran ayah kini berubah. Anggapan bahwa tugas ayah hanyalah mencari nafkah kini perlahan dihapus oleh para ayah milenial.
ADVERTISEMENT
Sapaan ayah milenial sendiri disematkan untuk mereka yang lahir di tahun 1980-2000. Menurut survei yang dilakukan kumparanMOM terhadap 114 ayah milenial berusia 21-38 tahun, mereka menyatakan ikut terlibat banyak dalam pengasuhan anak. 78,9 persen ayah menjawab memandikan anak dan menyuapi anak adalah wujud nyata keterlibatannya dalam merawat sang buah hati.
Tak hanya itu, para ayah milenial ini juga tak segan untuk berbagi tugas rumah tangga dengan istri. Pekerjaan rumah tangga seperti mencuci piring, membersihkan kamar mandi atau menyapu halaman rumah mereka kerjakan sepenuh hati.
Meski begitu, perannya yang begitu terlibat dalam pengasuhan anak diakui berbeda dengan pola asuh ayahnya dulu. Sebanyak 53,5 persen ayah milenial menjawab, gaya pengasuhan yang ia terapkan ternyata tidak sama dengan gaya pengasuhan ayahnya.
Wajah ayah milenial. (Foto: Shutterstock)
Lantas, benarkah ada perubahan peran ayah di generasi milenial saat ini?
ADVERTISEMENT
Pendidik dan Founder Keluarga Kita, Najelaa Shihab memberikan pandangannya terkait pertanyaan tersebut. Menurut Najelaa, perubahan peran ayah milenial terjadi karena berbagai faktor.
"Jadi kalau ditanya sekarang kenapa peran ayah milenial berubah, itu karena memang pandangan lingkungan terhadap peran ayah juga berubah. Anak-anak yang ayahnya teribat memang pada akhirnya jauh lebih sukses, punya kepercayaan diri, dan sebagainya. Tingkat pengetahuan yang bertambah tentu membuat perilaku dan kesadaran ayah juga bertambah," jelas Najelaa saat ditemui kumparanMOM, Rabu (14/11).
Ilustrasi suami dan istri memasak bersama (Foto: Shutter Stock)
Selain faktor di atas, kesempatan yang diberikan istri untuk membuat ayah terlibat banyak dalam pengasuhan anak juga memegang peranan penting.
"Istri-istri sekarang mungkin lebih banyak yang bekerja, sehingga mungkin juga ada tuntutan sehingga bukan hanya peran di luar rumah yang dibagi tapi juga peran di dalam rumah," jelasnya.
ADVERTISEMENT
Video
Meski memanjat puncak karier adalah penting, bagi para ayah milenial kesuksesan hidup nyatanya bisa diukur dari banyak hal. Ya, hidup adalah soal keseimbangan antara karier di luar rumah dan waktu luang bersama keluarga,
"Jadi berbeda dengan ayah zaman dulu yang 'saya maunya sukses di kantor', ayah sekarang tuh memang mencari perannya di dalam rumah. Mereka juga bangga bukan hanya jadi profesional yang baik, tapi juga jadi ayah yang baik, ayah yang keren," kata Najelaa.
Ilustrasi Ayah bermain dengan anak. (Foto: Aditia Noviansyah/kumparan)
Salah satu perbedaan karakter ayah milenial yang paling menonjol, menurut Najelaa adalah soal disiplin. Karena ingin dekat secara emosional dengan anak, ayah milenial cenderung banyak memberikan kebebasan dan sulit membuat batasan. Berkebalikan dengan ayah zaman dulu yang terlalu banyak mengontrol dan sedikit memberikan ruang gerak ke anak.
ADVERTISEMENT
"Kalau kita mau mempertentangkan ayah zaman dulu dengan ayah zaman milenial tentang disiplin, itu seolah memang kebalikannya ya. Sering kali misalnya kita tumbuh di lingkungan yang orang tuanya mengekang, pada saat kita jadi orang tua tuh, kita bilang 'enggak akan kita melakukan itu pada anakku". Jadi si ayah milenial ini yang dulu merasa terbatasi, jadi ingin memutarbalikkan itu dan pergi ke ekstrim yang satunya," papar Najelaa.
Padahal tak seharusnya begitu. Najelaa menegaskan, ayah harus tau kapan harus berperan sebagai teman, kapan harus menjadi orang tua. Sebagai orang tua muda, ayah milenial harus paham betul bahwa mendidik anak bukan soal 'maunya kita' tapi harus melihat kebutuhan tiap anak, yang tentunya berbeda-beda.
Ilustrasi Ayah bermain bersama anak. (Foto: Aditia Noviansyah/kumparan)
Di luar perbedaan pola asuh ayah milenial dan ayah zaman old, menurut Najelaa, menjadi ayah yang terlibat dalam keluarga adalah hal yang penting. Banyak manfaat yang dirasakan anak, misalnya beragam riset menunjukkan ayah yang terlibat dalam pengasuhan membuat anak lebih berprestasi di sekolah.
ADVERTISEMENT
"Bayangkan faktor keluarga sebagai pendidik utama dan pertama itu kan besar sekali. Bayangkan peran yang besar sekali itu kalau hanya diemban oleh ibu seorang jika dibandingkan dengan diemban oleh dua orang. Kan tentu hasilnya lebih optimal jika ditambah peran ayah," jelasnya.
Ilustrasi Ayah bermain dengan anak. (Foto: Iqbal Firdaus/kumparan)
Tak hanya untuk anak, ayah yang terlibat di dalam keluarga juga punya dampak positif untuk istri. Dengan ikut ambil bagian dalam pengasuhan, istri jadi tidak kesepian karena merasa punya teman untuk berbagi perasaan dan pikiran. Sehingga hubungan pernikahan Anda dan suami pun akan lebih bahagia. Oleh karena itu Moms, berikan kesempatan yang lapang kepada suami untuk bisa terlibat banyak hal dalam pengasuhan anak.
====================
Selengkapnya seputar Ayah Milenial dapat disimak dalam topik Wajah Ayah Milenial.
ADVERTISEMENT
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan