kumparan
28 Mar 2018 8:28 WIB

Bahaya Preeklampsia pada Ibu Hamil

Ibu hamil (Foto: Thinkstock)
Salah satu masalah kehamilan yang perlu diwaspadi ibu hamil adalah preeklampsia. Kondisi tersebut ditandai dengan tekanan darah tinggi dan disertai dengan gejala kerusakan ginjal yang ditunjukkan oleh tingginya kadar protein pada urine.
ADVERTISEMENT
Preeklampsia biasanya terjadi pada usia kehamilan di atas 20 minggu. Penelitian menunjukkan, setidaknya 5-8 persen wanita hamil mengalami preeklampsia.
Selain itu, diketahui bahwa lebih dari 500 juta perempuan di seluruh dunia meninggal akibat komplikasi yang terjadi pada kehamilan. Sekitar 10 hingga 15 persen dari angka kematian tersebut, diakibatkan oleh preeklampsia yang dialami oleh ibu hamil.
Mengutip laman Baby Center, preeklampsia terjadi karena ada gangguan pada perkembangan plesenta, sehingga mengganggu aliran darah ke ibu dan bayi. Plasenta berfungsi sebagai pemasok makanan maupun oksigen dari ibu ke janin.
Pada ibu yang mengalami preeklampsia, pertumbuhan dan perkembangan pembuluh darah plasenta mengalami gangguan, sehingga plasenta tidak mendapatkan darah yang cukup.
Gejala Preeklampsia
ADVERTISEMENT
Preeklampsia terkadang bisa berkembang tanpa gejala apapun dan tidak disadari oleh ibu. Selain hipertensi, ibu hamil bisa mewaspadai gejala preeklampsia jika mengalami hal-hal berikut ini:
- Tiba-tiba mengalami pembengkakan pada muka, kaki, dan tangan
- Nyeri pada perut bagian atas
- Penglihatan kabur
- Penurunan frekuensi dan jumlah urine
- Terdapat protein pada urine yang bisa diketahui setelah melakukan pemeriksaan urine
Ilustrasi melahirkan caesar (Foto: Thinstock)
Satu-satunya penanganan terbaik yang dapat dilakukan pada ibu yang mengalami preeklampsia adalah dengan melahirkan bayi yang dikandung.
Jika bayi telah cukup baik kondisinya untuk dilahirkan, biasanya dokter akan menyarankan untuk melakukan operasi sesar. Tapi jika bayi dinyatakan belum siap untuk dilahirkan, dokter akan memonitor kondisi tubuh ibu dan bayi, hingga usia bayi di dalam kandungan sudah cukup untuk dilahirkan.
ADVERTISEMENT
Biasanya, dokter juga akan lebih sering melakukan pemeriksaan darah dan USG terhadap pasien.
Ilustrasi USG ibu hamil. (Foto: Thinkstock)
Hingga saat ini belum diketahui secara pasti penyebab utama preeklampsia. Adapun beberapa faktor yang bisa meningkatkan wanita hamil terkena preeklampsia, di antaranya adalah:
- Kehamilan pertama
- Pernah mengalami preeklampsia di kehamilan sebelumnya
- Kekurangan nutrisi
- Sedang menderita penyakit tertentu, seperti diabetes, hipertensi atau penyakit ginjal
- Obesitas saat hamil
- Memiliki riwayat keluarga preeklampsia
Untuk itu, penting bagi ibu hamil untuk rutin memeriksakan kandungannya ke dokter. Tujuannya agar dapat terus memonitor kondisi kesehatan ibu dan bayi, sehingga komplikasi kehamilan seperti preeklamsia dapat diatasi sejak dini.
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan