kumparan
24 Apr 2019 15:10 WIB

Benarkah Imunisasi Penting, Bermanfaat dan Aman?

Tak perlu ragu, imunisasi penting, bermanfaat dan aman, Moms! Foto: Shutterstock
Imunisasi itu penting, bermanfaat dan aman! Anda mungkin kerap mendengar kalimat seperti ini. Tapi bisa jadi, rasa ragu di dalam hati tetap ada. Apa benar begitu?
ADVERTISEMENT
Memang, merasa ragu wajar saat kita bersikap hati-hati dan ingin memastikan semua yang terbaik untuk si kecil. Tapi jangan juga hanya dibiarkan, Moms. Kita perlu mencari informasi dan bukti-bukti dari sumber yang bisa dipercaya. Dari para ahli yang memang memahami masalah ini, misalnya.
"Jangan bertanya pada orang yang tidak paham, nanti jawabannya ya juga tidak bisa dipertanggungjawabkan," demikian pesan Prof. DR. dr. Soedjatmiko , SpA (K), Msi., Sekretaris Satgas Imunisasi Ikatan Dokter Anak Indonesia pada acara konferensi pers Pekan Imunisasi Dunia, Senin, 22 April 2019 di Aston Suites, Jakarta.
Nah Moms, supaya lebih jelas, yuk, baca sampai habis tanya jawab kumparanMOM dengan Prof.Soedjatmiko yang juga Staf Departemen Ilmu Kesehatan Anak FKUI-RSCM berikut ini.
Ilustrasi imunisasi Foto: Shutterstock
Kenapa Imunisasi Penting dan Apa Manfaatnya?
ADVERTISEMENT
Badan penelitian di berbagai negara membuktikan bahwa dengan meningkatkan cakupan imunisasi, maka penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi berkurang secara signifikan. Penyakit-penyakit ini, berisiko sakit berat, kecacatan hingga kematian, Moms!
Di Indonesia misalnya, mengutip data pada laman resmi IDAI, wabah polio pada 2005-2006 menyebabkan 305 anak lumpuh permanen. Wabah polio ini awalnya terjadi di Sukabumi karena banyak bayi balita tidak diimunisasi polio. Namun dalam beberapa bulan saja, virus polio menyebar cepat ke Banten, Lampung, Madura, sampai Aceh. Setelah digencarkan imunisasi polio, sampai saat ini tidak ada lagi kasus polio baru.
Ilustrasi anak campak. Foto: Shutter Stock
Begitu juga dengan kasus penyakit campak. Wabah campak yang terjadi pada tahun 2009 - 2010 di Jawa Tengah dan Jawa Barat mengakibatkan 5818 anak dirawat di rumah sakit dan 16 orang anak meninggal. Mayoritas yang menjadi korban adalah anak-anak yang tidak diimunisasi campak. Wabah ini telah berhasil dihentikan dengan imunisasi campak rutin dan tambahan pada semua bayi balita 9 - 59 bulan di semua propinsi secara terus-menerus.
ADVERTISEMENT
Sementara wabah difteri tahun pada 2010-2011 di Jawa Timur menyebar hingga ke Kalimantan Timur, Selatan, Tengah, Barat, DKI Jakarta, dan menyebabkan 816 anak di rawat di rumah sakit dan 56 anak meninggal terutama yang imunisasinya belum lengkap atau belum pernah imunisasi DPT. Seperti dua wabah lain yang disebutkan di atas, wabah ini juga telah berhasil dihentikan dengan imunisasi DPT rutin dan tambahan pada semua bayi balita di beberapa propinsi.
"Jadi kalau dianggap tidak penting dan tidak bermanfaat, memangnya mau wabah kembali terjadi? Ingin anak, cucu, keponakan kita mengalami sakit berat, kecacatan atau sampai meninggal?" tukas Prof.Soedjatmiko dengan nada prihatin.
Ilustrasi Vaksin Foto: Pixabay
Lalu Siapa yang Menjamin Imunisasi itu Aman?
Saat ini semua negara di dunia melakukan imunisasi rutin secara terus menerus. Ya Moms, semua negara di dunia yang jumlahnya lebih dari 190 negara! Negara-negara di dunia juga terus menerus melaksanakan program imunisasi, baik itu negara berkembang maupun negara maju yang memiliki tingkat sosial ekonomi tinggi.
ADVERTISEMENT
"Ini termasuk negara yang mayoritas penduduknya beragama Islam, lho. Cakupan umumnya lebih dari 85%. Jadi ya, aman!" jelas Prof.Soedjatmiko.
Keamanan ini juga diperkuat dengan adanya institusi-institusi resmi yang meneliti dan mengawasi vaksin, yang beranggotakan dokter ahli penyakit infeksi, imunologi, mikrobiologi, farmakologi, epidemiologi, biostatistika dan para ahli lainnya.
Contohnya di Indonesia, berbagai institusi mengawasi program imunisasi, antara lain Badan POM (pengawasan obat dan makanan), Litbangkes, Subdit Surveilans dan Epidemiologi Kemkes, Indonesia Technical Advisory Group for Immunization (ITAGI), Komnas/Komda Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi (KIPI), Satgas Imunisasi IDAI, badan penelitian di Fakultas Kedokteran dan Fakultas Kesehatan Masyarakat di beberapa Universitas di Indonesia.
Institusi seperti tersebut di atas juga dimiliki oleh negara negara lain yang melaksanakan program imunisasi. Semua institusi dan badan tersebut menyatakan bahwa imunisasi amandan bermanfaat untuk mencegah penularan penyakit berbahaya.
Ilustrasi anak sakit Foto: Shutterstock
Bagaimana dengan kabar soal vaksin mengandung zat berbahaya yang dapat merugikan kesehatan anak?
ADVERTISEMENT
"Tidak benar!" Prof.Soedjatmiko menjawab tegas.
Sebelum termakan kabar yang tidak benar, sebaiknya kita memahami isi dan manfaat vaksin, serta batas keamanan zat-zat di dalam vaksin, Moms. Sebagai contoh, total bahan kimia etil merkuri yang ada dalam zat timerosal yang masuk ke dalam tubuh bayi melalui vaksin sekitar 150 mcg/kgbb/6 bulan atau sekitar 6 mcg/kgbb/minggu, sedangkan batas aman menurut WHO adalah jauh lebih tinggi (159 mcg/ kgbb/minggu). Oleh karena itu, vaksin yang mengandung merkuri dosis sangat rendah dinyatakan aman oleh WHO dan badan-badan pengawas lainnya.
Kita juga tidak boleh berpikir bahwa zat kimia berbahaya bagi manusia tanpa memahami terlebih dahulu apa yang dimaksud dengan zat kimia. Ya Moms, karena faktanya oksigen, air, nasi, buah, sayur, jahe, kunyit, lengkuas, semua juga tersusun dari zat kimia.
ADVERTISEMENT
Mengutip laman resmi IDAI, oksigen mempunyai rumus kimia O2, air H2O, garam NaCl. Buah dan sayur terdiri dari serat selulosa, fruktosa, vitamin, mineral, dll. Telur terdiri dari protein, asam amino, mineral. Itu semua adalah zat kimia, karena ada rumus kimianya, sehingga disebut biokimia. Oleh karena itu, zat kimia umumnya justru sangat dibutuhkan untuk manusia dalam takaran yang aman, kecuali zat kimia yang berbahaya.
Ibu menyusui Foto: Shutterstock
Apakah Ada Cara Lain yang Lebih Aman daripada Imunsasi?
Tidak ada satupun badan penelitian di dunia yang menyatakan bahwa kekebalan akibat imunisasi dapat digantikan oleh zat lain. Zat lain yang dimaksud di sini termasuk ASI, nutrisi, maupun suplemen herbal yang dianggap aman, Moms. Kenapa? Karena kekebalan yang dibentuk sangat berbeda.
ADVERTISEMENT
Kita perlu memahami, ASI, nutrisi, suplemen herbal, maupun kebersihan memang dapat memperkuat pertahanan tubuh secara umum, tetapi semua itu tidak bisa membentuk kekebalan spesifik terhadap kuman tertentu yang berbahaya. Apabila jumlah kuman banyak dan ganas, perlindungan umum tidak mampu melindungi bayi, sehingga masih dapat sakit berat, cacat atau mati.
Vaksin akan merangsang pembentukan kekebalan spesifik (antibodi) terhadap kuman, virus atau racun kuman tertentu. Setelah antibodi terbentuk, vaksin akan bekerja lebih cepat, efektif dan efisien untuk mencegah penularan penyakit yang berbahaya.
Maka tidak usah ragu lagi, Moms. Prof.Soedjatmiko mengingatkan, "Sudah jelas penting, bermanfaat dan aman. Jadi jangan ditunda, lengkapi imunisasi seluruh anggota keluarga kita segera dan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya!"
---------------------------------------
ADVERTISEMENT
kumparanMOM mendukung penuh Pekan Imunisasi Dunia dengan menyiapkan puluhan artikel tentang imunisasi sepanjang minggu ini khusus untuk Anda, Moms. Baca semuanya dengan mengikuti topik Pekan Imunisasi Dunia dan jangan lupa sebarkan pada seluruh keluarga dan teman-teman Anda, ya.
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan