BKKBN: Program KB Bisa Turunkan Angka Kematian Ibu dan Bayi

3 Agustus 2022 19:59
·
waktu baca 3 menit
sosmed-whatsapp-whitecopy-link-circlemore-vertical
Ilustrasi ibu dan bayi. Foto: Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi ibu dan bayi. Foto: Shutterstock
ADVERTISEMENT
Bisa hamil dan melahirkan bayi yang sehat merupakan impian banyak wanita setelah menikah. Sayangnya, hal itu masih dibayangi dengan angka kematian ibu dan bayi yang tinggi di Indonesia. Menurut data terbaru Badan Pusat Statistik dan Kementerian Kesehatan RI, sebanyak 4.623 dan 7.389 ibu meninggal pada tahun 2020 dan 2021.
ADVERTISEMENT
Fenomena ini rupanya dipengaruhi oleh banyaknya masyarakat yang enggan mengikuti program keluarga berencana (KB). Ini merupakan program untuk mengatur jarak usia antar anak menggunakan alat kontrasepsi yang selama ini digalakkan oleh Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN).
Program KB sendiri dinilai mempunyai tujuan yang baik, yaitu meningkatkan kualitas keluarga yang sehat dan bahagia dengan mencegah anak dari stunting, serta menurunkan angka kematian ibu dan bayi.

Kata BKKBN soal KB Bisa Turunkan Angka Kematian Ibu dan Bayi

Alat kontrasepsi untuk KB. Foto: Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Alat kontrasepsi untuk KB. Foto: Shutterstock
Menurut Kepala BKKBN, Dr. Hasto Wardoyo, MD, OBGYN, BKKBN akan terus berusaha meningkatkan kualitas pelayanan keluarga berencana agar bisa menurunkan angka kematian ibu dan bayi sehingga dapat mewujudkan keluarga yang sehat dan bahagia. Hal ini akan diterapkan melalui program-program BKKBN, salah satunya Family Planning 2030 yang berkolaborasi dengan UNFPA dan Yayasan Cipta.
ADVERTISEMENT
“Kualitas pelayanan itu menjadi penting sekali karena kita masih harus menurunkan kematian ibu dan bayi. Jadi kualitas kesehatan ibu harus meningkat, sebab, kematian ibu dan bayi itu harusnya 90% bisa dicegah dengan adanya keluarga berencana,” ungkap Hasto dalam acara Launching Program Family Planning 2030 di The Westin Hotel, Kuningan, Jakarta, Senin (1/8).
Namun, Hasto menyampaikan, hingga saat ini baru sekitar 29 persen ibu yang ikut menggunakan pelayanan kontrasepsi dari jumlah ibu di Indonesia. Masih banyak ibu yang hamil lagi kurang dari satu tahun setelah melahirkan, sehingga meningkatkan risiko angka kematian ibu dan bayi. Selain itu, fenomena ini juga dipengaruhi oleh faktor pernikahan dini dan putus sekolah yang dialami banyak perempuan dan laki-laki di Indonesia.
ADVERTISEMENT
“Kalau sudah menikah muda, hamil terus-menerus setiap tahun, kemudian jumlah anaknya terlalu banyak dengan jarak usia dekat. Akhirnya stuntingnya tinggi, risiko kematian ibu dan bayi juga tinggi karena akan ada risiko aborsi juga,” lanjut Hasto.
Ilustrasi pasangan suami istri konsultasi untuk KB. Foto: Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi pasangan suami istri konsultasi untuk KB. Foto: Shutterstock
Oleh karena itu, Hasto berharap, masyarakat mengikuti program KB agar bisa mencapai kualitas kesehatan keluarga yang lebih baik. Kendati demikian, BKKBN juga berkomitmen untuk lebih mementingkan hak di dalam pelayanan KB, sehingga tidak ada masyarakat yang merasa terpaksa untuk ikut berencana.
“Kita betul-betul memperhatikan hak di dalam pelayanan. Jadi, masyarakat akan dilayani kontrasepsi karena mereka paham, ada kesadaran dan kemauan sehingga tidak ada paksaan untuk mereka,” pungkas Hasto.
Baca Lainnya
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020