Cerita Ibu: Anak Sulung Benci Adiknya, karena Saya Sulit Menahan Emosi

21 Juli 2022 19:01
·
waktu baca 5 menit
sosmed-whatsapp-whitecopy-link-circlemore-vertical
Ilustrasi ibu marah pada anak. Foto: Shutter Stock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi ibu marah pada anak. Foto: Shutter Stock
ADVERTISEMENT
Orang tua punya tantangan yang berbeda-beda dalam mengasuh dan membesarkan anak. Tidak jarang, Anda pun bisa merasakan kewalahan saat harus mengasuh anak-anak sendirian karena suami bekerja. Hal inilah yang dialami oleh Maisa Sara.
ADVERTISEMENT
Maisa memiliki dua anak, si kakak sulung berusia 4 tahun dan seorang bayi. Sejak merencanakan kehamilan kedua, ia dan suaminya sudah sepakat untuk mengasuh bersama-sama seperti pengalaman pertamanya.
Saat hamil anak kedua, anak sulungnya sangat menanti kehadiran adiknya. Namun setelah anak keduanya lahir, Maisa menyadari mengasuh seorang balita dan bayi secara bersamaan nyatanya bukan hal yang mudah. Apalagi suaminya bekerja di luar rumah, sementara ia harus mengurus katering di rumah.
Ilustrasi anak marah. Foto: Shutter Stock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi anak marah. Foto: Shutter Stock
Hampir setiap hari ia merasa kesulitan menata hatinya. Apalagi, anak sulungnya selalu berusaha mencari perhatian dengan segala cara, yang terkadang membuatnya emosi. Beberapa kali Maisa kelepasan berbicara, "Kakak, jangan nakal!", "Bisa diam enggak kamu?", "Kalau nangis terus, Ibu kirim ke Oma!", "Sana main sendiri", dan perkataan lainnya. Ternyata, ucapannya itu menyakiti hati anak sulungnya, apalagi ketika ia sedang bersama bayinya.
ADVERTISEMENT
Sebenarnya Maisa menyadari si kakak hanya ingin diperhatikan, tetapi caranya terkadang membuatnya emosi dan berakhir memarahinya. Awalnya, anaknya bisa lebih tenang setelah dimarahi dan ia bisa ngerjain hal lain. Namun ternyata hal ini berdampak panjang pada anaknya.
Sekarang, anak sulungnya jadi suka berteriak dan membanting barang-barang adiknya, tidak mau main bersama lagi, dan susah diatur. Ia pun merasa sedih dan sangat bersalah karena anak sulungnya jadi membenci semua hal tentang adiknya.
Nah Moms, cerita ibu Maisa yang dibagikan lewat akun Instagram @kumparanMOM mendapat berbagai respons dari followers. Ada yang menceritakan pengalaman serupa, dan ada pula yang membagikan tips agar bisa memperbaiki hubungan dengan anak.
"Ajak si kakak quality time berdua, entah itu jalan2 k mall bedua ato skedar ntn tv bareng, sementara titipkan dlu adik sm suami. Trs ajak ngmg dari hati ke hati, ksh pengertian dan beri permintaan yg tulus dr hati atas perlakuan kita slama ini, insya Allah anaknya ngerti. Anak sy jg gtu klo sy ada salah," ucap pemilik akun @themayadee.
ADVERTISEMENT
"Menghilangkan kebencian dengan ajak si kakak kegiatan dengan adik, sering2 suruh "cium Dede", "peluk Dede", adiknya juga suruh cium kakak, peluk kakak, dan selalu berdoa semoga Allah satukan hati mereka dan jauhkan dari perpecahan,, saya 3 anak, 2 Deket, pas lagi berantem saya peluk dua2nya sambil bilang "ayah sayang kakak dan Dede (sebut namanya)"," tulis pemilik akun @fajarher31.
Pengalaman Maisa mungkin juga pernah dialami oleh beberapa ibu. Lantas, bagaimana cara memperbaiki hubungan dengan anak setelah dimarahi, ya?

Cara Memperbaiki Hubungan dengan Anak

Cara Memperbaiki Hubungan dengan Anak. Foto: Odua Images/Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Cara Memperbaiki Hubungan dengan Anak. Foto: Odua Images/Shutterstock
Mengasuh anak lebih dari satu perlu persiapan lebih banyak pada fisik dan mental. Menurut Psikolog Keluarga, Rosdiana Setyaningrum, MPsi, MHPEd, bila Anda mengalami lelah fisik dan batin, maka bisa berdampak kepada anak-anak juga lho, Moms.
ADVERTISEMENT
"Karena kalau kita capek, kita jadi marah-marah. Dan pada saat marah, anak kita enggak happy," ujar Rosdiana kepada kumparanMOM beberapa waktu lalu.
Nah, berikut adalah cara memperbaiki hubungan dengan anak yang sebelumnya sering dimarahi karena sedang berusaha mencari perhatian:
1. Kenali Bahasa Cinta Anak
Ketika anak merasa kurang diperhatikan orang tuanya, ia mulai melakukan segala cara untuk mendapat perhatian. Agar tepat, Anda bisa mencari tahu seperti apa bahasa cintanya. Misalnya, lebih banyak waktu untuk bermain bersama, ingin makan makanan kesukaannya, atau ingin ceritanya lebih banyak didengar.
"Walaupun sudah besar dia akan mengerti, tapi ketika dari kecil sudah ada pengalaman traumatik buat dia akan berdampak panjang. Jadi ibu mesti cepat deketin kakak lagi," jelasnya.
ADVERTISEMENT
2. Jangan Membebani Anak
Ilustrasi ibu memarahi anak. Foto: Shutter Stock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi ibu memarahi anak. Foto: Shutter Stock
Terkadang ketika memiliki bayi, beberapa orang tua akan meminta anak-anaknya yang lebih tua untuk lebih dewasa dan mau mengalah. Tetapi, hal ini terkadang bisa menimbulkan kecemburuan yang membuat sang kakak merasa tersaingi dengan kehadiran adik barunya.
"Kalau misal si kakak harus mature, mau ngalah, kan kayaknya kita seperti ngasih tambahan beban ke dia. Sudah perhatiannya teralihkan, dia suka diomelin, dan dia juga yang harus nerima dan perbaiki hubungan dengan adiknya. Jadinya bebannya besar sekali. Karena menurut saya kita suka enggak fair kakak harus perbaiki hubungan sama adiknya, padahal masalah sama ibunya," tutur Rosdiana.
3. Sisihkan Waktu Setiap Harinya
Meski hanya sebentar, Anda juga perlu menyisihkan waktu bersama anak sulung tanpa adiknya. Carilah waktu yang memungkinkan bayi bisa dipegang oleh orang lain dulu, seperti mengantar jemput sekolah, mengajaknya berbelanja pada sore hari, atau menemaninya tidur di malam hari.
ADVERTISEMENT

Tips Anti-kewalahan Ibu dalam Mengasuh Anak-anak

Ilustrasi mengasuh adik kakak atau dua anak. Foto: Dragon Images/Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi mengasuh adik kakak atau dua anak. Foto: Dragon Images/Shutterstock
Selain itu, Rosdiana juga memberikan sejumlah tips agar pengasuhan anak bisa lebih maksimal meski Anda memiliki kesibukan lain seperti Ibu Maisa:
1. Cari Support System
Rosdiana menjelaskan, sulit memang mengerjakan semua pengasuhan anak sendirian tanpa bantuan orang lain. Apalagi seperti cerita Maisa yang juga disibukkan dengan usaha katering di rumahnya, ditambah mengasuh dua anak sekaligus yang akhirnya membuatnya kewalahan.
"Carilah orang untuk bantuin mengasuh anak, karena kita bukan supermom. Itu kita perlu sadari dulu. Kalau kita punya kerjaan, kita mesti pakai support system, enggak mungkin punya kerjaan kita harus kerjain semua sendiri," kata Rosdiana.
Ilustrasi Perempuan Tidur Foto: Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Perempuan Tidur Foto: Shutterstock
2. Istirahat Bila Lelah Mengurus Anak
Mengasuh anak sekaligus bekerja memang bisa sangat melelahkan. Maka dari itu, Anda juga tetap perlu beristirahat agar bisa mengatur kondisi fisik dan emosi.
ADVERTISEMENT
"Coba istirahat ibunya, ingat-ingat lagi kita enggak bisa ngurus sendirian. Kalau dia capek pasti kelepasan, jadi harus bisa ngontrol emosi, perasaan, perkataan. Kalau kita dalam keadaan bagus tubuh dan emosinya, maka bisa dicegah. Makanya, salah satunya dicapai dengan istirahat," ungkap dia.
3. Libatkan Suami Lebih Banyak
Suami menjadi orang paling dekat yang bisa diandalkan di rumah ketika Anda sedang lelah mengurus anak. Meski suami bekerja, Anda bisa memintanya untuk ikut menjaga anak pada pagi sebelum ke kantor atau malam hari sepulang bekerja, sehingga Anda bisa mengerjakan pekerjaan lain maupun beristirahat sejenak.
"Suami kalau kerja di luar rumah, meski realistis juga. Paling suami bisa ngurusin weekend, si ibu jadi punya waktu mau ngapain aja. Saat suami pulang malam paling bisa berkegiatan bareng seperti mengajak main atau bacain cerita sebelum tidur," tutup dia.
ADVERTISEMENT
=====
Yuk, baca lebih banyak #CeritaIbu yang inspiratif di Instagram @kumparanmom. Atau ingin ikut berbagi cerita? Bisa, Moms! Kirimkan saja cerita Anda lewat DM Instagram @kumparanmom.
Baca Lainnya
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020