Kumparan Logo

Dokter: Pasien Menurun Saat Ramadan, Naik Lagi Setelah Lebaran, Kok Bisa?

kumparanMOMverified-green

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Dokter umum sekaligus Kepala IGD RS Prikasih, Jakarta Selatan, dr. Gia Pratama Putra, dalam acara Media Ramadan 2026 Media Gathering bersama Frisian Flag Indonesia, Kamis (26/2). Foto: kumparan/Eka Nurjanah
zoom-in-whitePerbesar
Dokter umum sekaligus Kepala IGD RS Prikasih, Jakarta Selatan, dr. Gia Pratama Putra, dalam acara Media Ramadan 2026 Media Gathering bersama Frisian Flag Indonesia, Kamis (26/2). Foto: kumparan/Eka Nurjanah

Dokter umum sekaligus Kepala IGD RS Prikasih, dr. Gia Pratama Putra, membagikan pengamatannya tentang perubahan kondisi pasien selama bulan Ramadan. Menurutnya, ada hal yang menarik yaitu jumlah kasus gawat darurat cenderung menurun saat masyarakat menjalankan puasa dengan baik.

Selama Ramadan, umat Muslim yang menjalankan ibadah puasa tidak hanya menahan lapar dan haus, tetapi juga belajar menahan emosi. Kondisi ini, menurut dr. Gia, berdampak pada kesehatan tubuh secara keseluruhan.

Puasa, Emosi Lebih Terkontrol

Ilustrasi rumah sakit. Foto: Shutterstock

Saat seseorang mudah marah atau stres, tubuh akan melepaskan hormon kortisol. Hormon ini dapat memicu penyempitan pembuluh darah sehingga tekanan darah meningkat. Jika terjadi terus-menerus, kondisi tersebut bisa memperburuk keadaan kesehatan, terutama pada orang yang sudah memiliki faktor risiko tertentu.

“Puasa, nggak gampang tersulut emosi, makanan dijaga. Ya, hasilnya sepanjang tahun selalu pas bulan Ramadan pasiennya jumlahnya menurun,” kata dr. Gia dalam acara Media Ramadan 2026 Media Gathering bersama Frisian Flag Indonesia, Kamis (26/2).

Sebaliknya, ketika seseorang lebih rileks, tidak mudah tersulut emosi, serta menjaga pola makan selama puasa, tubuh menjadi lebih stabil. Tekanan darah dan kadar gula darah cenderung lebih terkontrol.

Pola Makan Berpengaruh Besar

Ilustrasi buka puasa bersama Foto: Shutterstock

Dr. Gia juga menyoroti kebiasaan ngemil sepanjang hari, terutama makanan gurih dan tinggi garam. Konsumsi garam berlebihan membuat tubuh menahan cairan, sehingga tekanan darah bisa meningkat. Ditambah lagi jika kadar gula darah sering berada di angka tinggi, misalnya di atas 200 mg/dL, risiko kondisi darurat semakin besar.

Menurutnya, kombinasi tekanan darah tinggi dan gula darah yang tidak terkontrol menjadi ‘resep’ terjadinya berbagai kasus gawat darurat yang sering ditemui di IGD.

“Ya, itu semua resep dari kejadian-kejadian jadi pasien gawat darurat. Contohnya serangan jantung, stroke. Nah, puasa menurut saya menurunkan itu semua,” ucapnya.

Ilustrasi buka puasa bersama keluarga. Foto: Shutterstock

Namun saat Ramadan, pola makan cenderung lebih teratur. Frekuensi makan terbatas pada sahur dan berbuka. Jika diimbangi dengan pilihan makanan yang lebih sehat, dampaknya bisa terasa signifikan.

Kenapa Setelah Lebaran Meningkat Lagi?

Menariknya, dr. Gia juga menyebut bahwa setelah Lebaran, angka pasien kembali meningkat. Salah satu penyebabnya adalah perubahan pola makan yang drastis.

Berbagai kue khas seperti kastengel, nastar, dan camilan manis lainnya tersedia hampir di setiap rumah. Kebiasaan apa saja yang ada dimakan serta ngemil tanpa kontrol membuat asupan gula dan lemak melonjak. Akibatnya, tekanan darah dan gula darah kembali naik, dan jumlah pasien di IGD pun ikut bertambah.

kumparan post embed