Kumparan Logo

Ingin Anak Tumbuh Berkualitas, Putus Dulu Kekurangan Zat Besi di Keluarga

kumparanMOMverified-green

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Diskusi Hari Gizi yang digelar Sarihusada di Jakarta Pusat, Kamis (25/1/2024). Foto: Nabilla Fatiara/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Diskusi Hari Gizi yang digelar Sarihusada di Jakarta Pusat, Kamis (25/1/2024). Foto: Nabilla Fatiara/kumparan

Kekurangan zat besi bisa berdampak pada kualitas hidup keluarga. Ini merupakan kondisi medis yang terjadi ketika tubuh tidak memiliki cukup zat besi untuk memproduksi hemoglobin, atau protein dalam sel darah merah yang mengikat dan mengangkut oksigen ke seluruh tubuh.

Bila seseorang kekurangan zat besi, maka ia bisa mengalami anemia defisiensi besi (ADB). Dikutip dari laman Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), anemia defisiensi besi merupakan penyebab anemia terbanyak pada anak, lho!

Menurut data Riskesdas Kemenkes tahun 2018, seperti yang dipaparkan oleh Pakar Gizi Klinik, dr. Juwalita Surapsari, M.Gizi, Sp.GK, 1 dari 3 anak berusia 0-59 bulan mengalami anemia. Kemudian, 17,7 persen balita mengalami gizi buruk atau gizi kurang.

Padahal, ADB pada anak bisa menyebabkan dampak buruk bagi tumbuh kembang anak. Mulai dari menurunkan sistem kekebalan tubuh, meningkatkan risiko infeksi, hingga stunting. Dalam jangka panjang, ADB juga dapat menurunkan daya konsentrasi dan prestasi belajar anak di sekolah.

Mencegah Kekurangan Zat Besi Bisa Dimulai Sebelum Kehamilan

com-Makanan yang mengandung zat besi. Foto: Shutterstock

Setiap orang tua ingin anaknya tumbuh dan berkembang dengan baik. Dan agar anak tumbuh berkualitas, prosesnya sudah dimulai dari sejak sebelum kehamilan, bahkan sedari remaja sebelum perempuan akhirnya menikah dan hamil.

"Masalah anemia defisiensi zat besi kalau tidak diputus, maka akan terus berada dalam siklus tubuh seseorang. Yang mana anemia defisiensi besi kalau terjadi pada masa prakonsepsi bisa menjadi salah satu faktor risiko anak tumbuh kecil atau stunting," jelas dr. Juwalita dalam diskusi “Pentingnya Nutrisi yang Tepat untuk Tumbuh Kembang Maksimal Anak” yang digelar Sarihusada di Jakarta Pusat, Kamis (25/1).

Jika seorang perempuan sejak remaja sudah mengalami anemia dan tidak memenuhi kebutuhan gizinya dengan cukup, maka bisa berdampak ketika ia hamil. Ya Moms, dr. Juwalita menyebut bisa terjadi berbagai risiko kehamilan pada ibu. Serta, bayi yang dilahirkan bisa lahir prematur, berat badan lahir rendah, pertumbuhan otak terganggu, hingga masalah gangguan perilaku.

"Kalau enggak diputus, bisa berlanjut jadi siklus. Anak yang dilahirkan pun kualitasnya kurang baik," ucap dr. Juwalita.

Maka dari itu, salah satu yang tidak boleh terlewatkan adalah Anda wajib memenuhi kebutuhan nutrisi dan gizi yang seimbang, termasuk mencegah terjadinya kekurangan zat besi, sebelum, selama, dan setelah kehamilan.

"Proses perkembangan otak anak sudah dimulai sejak perinatal. Makanya, ibu tidak boleh anemia. Perkembangan otak itu meliputi bagaimana sel-sel otak akan saling membentuk jaringan. Dia akan terus berlanjut, dan pada periode tersebut akan sangat rentan bila kekurangan zat besi," tuturnya.

Mencegah Kekurangan Zat Besi, Apa Saja Caranya?

Ilustrasi anak lemas kekurangan zat Foto: Shutterstock

Meski kini mungkin Anda sudah menjadi seorang ibu, belum terlambat untuk selalu berupaya mencukupi gizi anak. Pada usia kanak-kanak, Anda dapat memberikan makanan kaya nutrisi dan zat besi, seperti hati ayam, daging sapi, ayam, telur, bayam, dan lainnya. Ikuti juga panduan 'Isi Piringku' yang dikeluarkan Kemenkes agar kebutuhan nutrisinya terpenuhi dengan baik.

Sementara usia remaja putri yang sudah haid dapat dibantu dengan minum tablet penambah darah. Cara ini juga sudah menjadi program Kemenkes lho, Moms!

"Minum tablet tambah darah, kalau ibu hamil itu wajib. Kan sudah menjadi bagian dari program pemerintah," tegas dr. Juwalita.

Kemudian saat Anda hamil, maka perbanyaklah konsumsi makanan protein hewani yang bisa mencukupi kebutuhan protein dan zat besi selama kehamilan. Ini wajib dilakukan, terutama bila ibu hamil sudah diketahui mengalami kondisi anemia.

"Kalau ibu status nutrisinya baik, anak yang dilahirkan kualitasnya juga bagus," tutup dia.