kumparan
2 Okt 2018 12:50 WIB

Moms, Lebih Baik Tidak Memberi Bantuan Mi Instan pada Pengungsi

Pengungsi Antre Ambil Bantuan di Bandara Palu. (Foto: Jamal Ramadhan/kumparan)
Hingga hari ini, tercatat, tak kurang dari 59 ribu warga bertahan di 109 lokasi pengungsian akibat gempa dan Tsunami di Sulawesi Tengah. Demikian penjelasan Menkopolhukam Wiranto saat konfensi pers di kantornya, Jalan Medan Merdeka Barat, Senin (1/10).
ADVERTISEMENT
"Total pengungsi 59.450 yang berkumpul di 109 lokasi," kata Wiranto. Melihat banyaknya jumlah pengungsi ini, berbagai jenis bantuan jelas sangat dibutuhkan.
Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) juga sudah merilis daftar kebutuhan mendesak pengungsi gempa dan Tsunami di Sulawesi Tengah. Salah satunya yang sangat dibutuhkan menurut BNPB adalah bahan makanan atau sembako.
Bahan makanan atau sembako inilah yang biasanya juga paling mudah dikumpulkan oleh masyarakat yang ingin mengirimkan bantuan setiap kali terjadi bencana. Maya, yang tinggal di wilayah Jakarta Utara misalnya, bersama beberapa orang temannya mengaku menyisihkan uang belanjanya untuk membeli sembako bagi para pengungsi.
"Belum tahu mau disalurkan lewat mana, yang penting beli saja dulu. Kasihan banget soalnya," ujar ibu dua anak ini. Menurut Maya, ia dan teman-temannya akan mengumpulkan dulu semua sembako yang mereka beli baru nanti menentukan bagaimana hendak menyalurkannya.
ADVERTISEMENT
Apa saja yang mereka beli? "Macam-macam, sih. Ada makanan kaleng, beras, abon, mi instan. Macam-macam," tutup Maya.
Nah, bagaimana dengan Anda, Moms? Terketuk untuk membantu juga?
Mie instan cup mengandung 300 kalori (Foto: Thhinkstock)
Bila ya, pikir dua kali sebelum membeli mi instan ya. Pasalnya, mi instan kurang tepat jika diberikan sebagai bantuan bagi pengungsi gempa dan Tsunami maupun korban bencana lainnya. Nurman Priatna, dari Aksi Cepat Tanggap (ACT) menjelaskan pada kumparanMOM, Selasa (2/10), 3 alasannya:
1. Sulit Air Bersih
Di lokasi pengungsian, sulit memperoleh air bersih untuk memasak mi instan. Semua persediaan air bersih yang ada, biasanya digunakan secara seksama dan diprioritaskan untuk air minum saja.
2. Tidak Ada Perlengkapan Masak
Para pengungsi umumnya tidak memiliki perlengkapan masak sendiri. Kalaupun punya, mereka sulit memperoleh bahan bakar seperti gas atau minyak.
Layanan Makan Gratis dari ACT untuk para pengungsi gempa lombok (Foto: Raga Imam/kumparan)
3. Nutrisinya Rendah
ADVERTISEMENT
Mie instan rendah protein, serat, vitamin, dan mineral. Dengan kata lain, kurang bernutrisi, Moms!
"Kondisi fisik, emosi dan psikis pengungsi gempa dan Tsunami ini sangat lemah, jadi perlu makanan yang bernutrisi dan bahaya banget kalo salah dikasih makan," papar Nurman. Lebih baik, berikan menu lain yang lebih bergizi.
"Di Lombok kemarin contohnya, kami di ACT biasanya mengumpulkan beras, minyak, atau langsung cari sapi dan kambing untuk dibeli. Lantas kami potong dan masak sekaligus dalam jumlah besar untuk pengungsi di dapur umum kami. Freshly made and served!" Nurman menambahkan.
Menurutnya, tidak hanya mengisi perut, cara ini juga dapat membuat pengungsi merasa diperhatikan dan dihargai sehingga tumbuh semangat untuk pulih kembali.
ADVERTISEMENT
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan