Ilustrasi anak dengan autisme.

Penyebab Autisme pada Anak

2 April 2020 12:15 WIB
comment
62
sosmed-whatsapp-white
copy-link-circle
more-vertical
Ilustrasi anak dengan autisme.  Foto: Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi anak dengan autisme. Foto: Shutterstock
ADVERTISEMENT
Semangat dan terus mencari informasi merupakan kunci utama orang tua dalam membesarkan anak dengan autisme. Ya Moms, Centers for Disease Control and Prevention (CDC) dalam situs resminya menjelaskan bahwa autisme merupakan gangguan perkembangan yang bisa menyebabkan seorang anak mengalami kesulitan dalam bersosialisasi, berkomunikasi atau cara berperilaku lainnya.
ADVERTISEMENT
Mengutip Mayo Clinic, gangguan ini mencakup pola perilaku yang terbatas dan berulang. Sementara istilah spektrum pada Autism Spectrum Disorder (ASD) mengacu pada berbagai gejala dan tingkat keparahan.
Terkait hal itu, Dokter Spesialis Anak sekaligus pegiat autisme di Indonesia, dr. Rudy Sutadi, SpA, MARS, SPdl, menjelaskan bahwa autisme adalah gangguan perkembangan neurobiologi yang berat. Neurobiologi sendiri merupakan sebuah cabang ilmu yang mempelajari tentang kinerja sistem saraf, fisiologi dan hubungannya dengan perilaku manusia.
Ilsutrasi anak dengan autisme. Foto: Shutterstock
“Kalau sesuai dengan definisi, autisme adalah gangguan perkembangan neurobiologi berat. Kemudian ada juga istilah autis ringan sedang dan berat. Ini terus terang bisa menyesatkan. Karena apa? Sudah ada pengertian beratnya. Jadi kalau mau dibilang ringan, berarti berat ringan. Kalau sedang berarti berat sedang,” dr. Rudy menjelaskan pada kumparanMOM.
ADVERTISEMENT
Gangguan autisme pada anak seharusnya bisa dideteksi sebelum si kecil berusia 3 tahun. Oleh karena itu, orang tua mesti peka dengan perkembangan anak sejak ia lahir. Bila ada patokan perkembangan yang tidak tercapai sesuai usianya, maka orang tua wajib berkonsultasi dengan dokter.
“Jadi autisme itu ada dua bentuk, bentuk pertama sejak dia mulai lahir, sudah mulai menampakkan gejala-gejala. Kemudian semakin dia besar dari bulan ke bulan mulai makin jelas atau patokan-patokan perkembangannya tidak tercapai. Misalnya, kontak mata sebelum 6 bulan juga sudah muncul, nah dia cuek saja gitu. Lebih tertarik sama benda-benda dibanding wajah,” jelas dr. Rudy yang juga pemilik pusat terapi anak autis, Klinik KID ABA.
“Bentuk yang kedua, jadi mereka dari lahir sampai 18 bulan, perkembangan relatif normal. Walaupun kalau kita perhatikan agak sedikit berbeda dengan anak-anak lain. Tiba-tiba di usia 18-24 bulan terjadi regresi. Jadi bicara yang sudah ada tiba-tiba hilang,” tambahnya.
ADVERTISEMENT
Lantas, apa penyebab autisme pada anak?
Ilsutrasi anak dengan autisme. Foto: Shutterstock
Hingga kini sebenarnya belum diketahui secara pasti apa penyebab autisme pada anak. Meski begitu, mengutip situs resmi CDC, ada beberapa faktor yang ditengarai bisa menjadi pemicu gangguan perkembangan tersebut, yaitu faktor genetik dan lingkungan. Sebagian besar ilmuwan pun setuju bahwa gen adalah salah satu faktor yang dapat membuat seseorang berisiko terkena autisme.
Menanggapi hal itu, dr. Rudy juga sepakat bahwa faktor genetik punya peranan dalam menyebabkan seorang anak mengalami autisme. Faktor genetik di sini berkaitan dengan genotip dan fenotip, Moms. Genotip artinya sifat menurun yang tidak nampak dari luar, sementara fenotip adalah yang nampak.
Itu artinya, ibu dan ayah bisa saja tidak menampakkan gejala-gejala autisme, karena hanya sebagai pembawa. Maka dari itu, dr. Rudy mengatakan, orang tua harus memahami riwayat kesehatan keluarganya.
Ilsutrasi anak dengan autisme. Foto: Shutterstock
ADVERTISEMENT
“Bisa terjadi begini, jadi sebenarnya ayah atau ibu itu pembawa, tapi tidak menampakkan, yang kita bilang ada genotip dan fenotip,” jelasnya.
Meski begitu, faktor genetik tidak serta merta menyebabkan autisme pada anak. Ada hal lainnya, yang juga perlu diperhatikan, yaitu faktor lingkungan. Karena bila faktor genetik tidak dipicu oleh lingkungan, maka anak tidak akan berisiko mengalami autisme.
“Faktor genetik ini kemudian dipicu oleh lingkungan, utamanya adalah senobiotik yaitu berbagai zat yang normalnya tidak ada di dalam tubuh manusia. Seperti mercury dan timbal,” kata dr. Rudy.
“Ibarat genetik atau gen itu pelurunya. Kemudian dipicu oleh faktor lingkungan. Bila ada gennya atau pelurunya tapi tidak dipicu, kita hindari pemicunya, itu tidak akan terjadi autisme,” tambahnya.
Masa kehamilan dan sebelumnya dapat memincu autisme Foto: Shutterstock
Tak hanya saat hamil, CDC menjelaskan bahwa faktor lingkungan sebelum masa kehamilan turut berpengaruh. Oleh sebab itu, bila secara faktor genetik seseorang berisiko melahirkan anak dengan autisme, dr. Rudy menyarankan agar ibu berkonsultasi terlebih dahulu dengan dokter. Sebagai upaya pencegahan, ibu juga diharapkan mulai mengurangi paparan faktor lingkungan yang kurang baik dan dapat memicu autisme.
ADVERTISEMENT
“Jadi misal, kita punya anak pertama autis, mau hamil lagi anak kedua. Atau katakanlah ini dia baru mau hamil anak pertama, maka satu tahun sebelumnya sudah melakukan upaya-upaya pencegahan. Ada beberapa hal yang perlu dilakukan deretannya,” ungkapnya.
Ya Moms, dari pernyataan dr. Rudy, bisa disimpulkan bahwa bila Anda memiliki anak pertama dengan kondisi autisme, maka ada kemungkinan anak kedua berisiko mengalami gangguan perkembangan serupa.
Selain itu, CDC juga mengungkap bahwa gangguan autisme memang bisa menyerang semua ras, kelompok etnis serta status ekonomi mana pun. Namun menurut data, gangguan autisme ternyata empat kali lebih umum terjadi pada anak laki-laki daripada anak perempuan.
Dilansir Mayo Clinic, beberapa faktor lain yang membuat anak lebih berisiko mengalami autisme, adalah:
Ilsutrasi anak dengan autisme. Foto: Shutterstock

Anak dengan kondisi medis tertentu

Anak-anak dengan kondisi medis tertentu memiliki risiko lebih tinggi mengalami gejala Autism Spectrum Disorder. Misalnya saja:
ADVERTISEMENT
- Sindrom X rapuh, kelainan bawaan yang menyebabkan masalah intelektual.
- Tuberous sclerosis, suatu kondisi di mana tumor jinak berkembang di otak
- Sindrom Rett, suatu kondisi genetik yang terjadi hampir secara eksklusif pada anak perempuan, yang menyebabkan perlambatan pertumbuhan kepala, kecacatan intelektual dan hilangnya penggunaan tangan yang disengaja.

Bayi yang lahir prematur

Bayi yang lahir sebelum usia kehamilan 26 minggu ada kemungkinan memiliki risiko lebih besar mengalami gangguan spektrum autisme.

Usia orang tua

Banyak ahli memperkirakan, ada hubungan antara anak-anak yang lahir dari orang tua yang lebih tua dan gangguan spektrum autisme. Tetapi, penelitian lebih lanjut diperlukan untuk membangun hubungan ini.
Ilsutrasi anak dengan autisme. Foto: Shutterstock
CDC menjelaskan bahwa pihaknya kini tengah mengerjakan studi terbesar di Amerika Serikat berjudul Study to Explore Early Development (SEED). Studi tersebut meneliti lebih lanjut tentang berbagai faktor risiko yang mungkin menyebabkan seseorang mengalami autisme, termasuk faktor genetik, lingkungan, kehamilan, dan perilaku.
ADVERTISEMENT
Meski belum bisa dicegah secara pasti, memahami berbagai faktor risiko penyebab autisme, bisa membuat Anda lebih waspada. Yang juga perlu Anda pahami, hingga kini deteksi autisme sejak masa kehamilan belum bisa dilakukan. Sehingga, deteksi dini baru bisa dilihat dengan memantau perkembangan anak sejak ia lahir.
“Saat ini belum ada pemeriksaan untuk mendeteksi autisme sejak hamil. Kalau kayak misalnya down syndrome atau syndrome yang lain, itu kalau misalnya kita pakai inseminasi buatan atau bayi tabung, misalnya katakanlah anak pertama down syndrome, nah anak kedua misal inseminasi buatan. Jadi setelah sel telur dibuahi kan akan pecah dua. Intinya nanti belah lagi jadi 4. Nanti salah satunya diperiksa, oh ternyata ini bakal jadi down syndrome, itu gak dipilih. Nanti yang dipilih yang kromosomnya bagus,” jelas dr. Rudy.
ADVERTISEMENT
Namun tak perlu cemas bila anak Anda didiagnosis mengalami Autism Spectrum Disorder (ASD) oleh dokter. Sebab, dengan deteksi dini dan penanganan yang tepat oleh ahli, anak dengan autisme juga bisa berkembang, bersosialisasi dan berprestasi layaknya anak normal.
Sedang memuat...0 Konten
Sedang memuat...0 Konten
Sedang memuat...0 Konten
Sedang memuat...0 Konten
Sedang memuat...0 Konten