Penyebab Halusinasi pada Anak
ยทwaktu baca 2 menit

Masa tumbuh kembang anak selalu diwarnai dengan berbagai hal baru yang cukup mengejutkan bagi orang tua. Beberapa perilaku si kecil mungkin membuat ayah dan ibu bingung sekaligus cemas. Sebut saja ketika anak mulai bisa menciptakan dunia fantasinya sendiri dengan imajinasinya.
Ya Moms, berimajinasi merupakan bagian dari perkembangan anak yang normal. Namun, hal itu menjadi berbeda ketika imajinasi anak sudah mengarah ke perilaku halusinasi. Saat berhalusinasi, anak akan menyampaikan hal-hal yang seolah dilihat dan dirasakannya padahal tidak pernah terjadi.
Meski begitu, menurut psikiater dr. Maymunah Yusuf Kadiri, MD, halusinasi sebenarnya merupakan pengalaman sensorik yang bisa dialami anak-anak tanpa rangsangan nyata, seperti dikutip dari Mom Junction. Halusinasi bisa tidak mengganggu kualitas hidup anak, tetapi dalam beberapa kasus mungkin bisa mengganggu perilaku si kecil pada umumnya.
Lantas, apa yang bisa sebabkan anak berhalusinasi?
Berikut ini beberapa penyebab umum halusinasi pada anak-anak yang dikutip dari Medlineplus.
7 Penyebab Umum Halusinasi pada Anak
Kelelahan atau kantuk yang ekstrem.
Konsumsi obat-obatan dengan dosis tinggi.
Stres emosional yang parah.
Gangguan kesehatan mental seperti skizofrenia dan bipolar pada masa kanak-kanak.
Penyakit fisik seperti infeksi, masalah kelenjar adrenal, tiroid, kejang, dan demam tinggi.
Kerusakan sistem sensorik otak yang disebabkan oleh virus, trauma, zat beracun, dan epilepsi.
Hilangnya fungsi penglihatan yang dapat menyebabkan sindrom Charles Bonnet, di mana halusinasi visual sering terjadi karena otak menyesuaikan dengan kondisi penglihatan yang memburuk.
Di samping beberapa penyebab tersebut, kebanyakan kasus halusinasi pada anak merupakan bagian dari tumbuh kembang yang normal tanpa menimbulkan masalah kesehatan lainnya. Halusinasi pada masa kanak-kanak sering kali bersifat sementara dan akan menghilang seiring bertambahnya usia si kecil.
Namun, orang tua tetap perlu mengamati perilaku anak untuk memastikan halusinasinya tidak mengindikasikan masalah lain. Terutama pada anak-anak di bawah usia 7 tahun, di mana mereka belum bisa mengkomunikasikan perasaannya secara maksimal karena perkembangan kognitif yang belum sempurna.
