Program Makan Siang Gratis untuk Cegah Anak Stunting, Apa Kata IDAI?

6 Februari 2024 14:11 WIB
·
waktu baca 4 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-link-circle
more-vertical
Ilustrasi anak stunting. Foto: Shutter Stock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi anak stunting. Foto: Shutter Stock
ADVERTISEMENT
sosmed-whatsapp-green
kumparan Hadir di WhatsApp Channel
Follow
Persoalan stunting jadi topik pembahasan ketiga paslon dalam Pilpres 2024. Salah satu yang menjadi sorotan adalah usulan paslon nomor urut 02, Prabowo Subianto-Gibran Rakabuming Raka, yang menggagas pemberian makan siang gratis untuk menangani stunting.
ADVERTISEMENT
Program ini juga turut disinggung oleh Prabowo dalam debat kelima yang berlangsung Minggu (4/2). Saat itu, Prabowo bertanya kepada capres nomor urut 03, Ganjar Pranowo, tentang gagasan pemberian makan siang gratis bergizi untuk anak-anak di Indonesia.
Terkait program makan siang gratis demi penanganan stunting, Ketua Pengurus Pusat Ikatan Dokter Anak Indonesia dr. Piprim Basarah Yanuarso, Sp.A(K) juga ikut memberi respons. Apa kata dr. Piprim soal program tersebut?

Kata Ketua PP IDAI soal Program Makan Siang Gratis untuk Cegah Stunting

dr. Piprim mengungkapkan, pencegahan stunting harusnya berfokus pada 1.000 hari pertama kehidupan (HPK) anak. Ya Moms, 1.000 HPK yang dimaksud adalah pada saat kehamilan (270 hari) sampai anak berusia 2 tahun (730 hari).
ADVERTISEMENT
"Kalau sudah stunting, mesti dibawa ke rumah sakit, diatasi dokter anak. Yang penting itu. Mencegah stunting itu sepakat semalam dengan pernyataan, mulainya itu dari sejak kandungan. Lalu mulai dari dia 1.000 hari pertama itu mesti kaya protein hewani. Itu kuncinya," kata dr. Piprim kepada wartawan di Jakarta, seperti dikutip dari Antara.
Ketua Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) dr Piprim Basarah Yanuarso. Foto: Dok. Istimewa
"Dan sebetulnya sejak wanita hamil itu, kemudian 1.000 HPK. Jadi, fase keemasan itu di 1.000 hari pertama, itu yang harus kaya dengan [protein] hewani, saya kira mungkin itu yang harus disosialisasikan," lanjut dia.
Ia juga mengingatkan untuk anak-anak hingga berusia lima tahun perlu mendapatkan gizi dengan protein hewani yang cukup untuk mencegah stunting.
Bila penanganan gizi baru dilakukan di atas usia tersebut, dr. Piprim menilai cenderung sudah terlambat. Sehingga, bila sudah telanjur stunting, yang perlu dilakukan adalah pengobatan oleh dokter anak.
ADVERTISEMENT
"Kalau sudah delapan tahun dikasih makan siang gratis, yang mau dicegah stuntingnya apa?" ucap dia.
"Pemberian makan anak sekolah ya nanti enggak terkait dengan stunting, tapi untuk yang 1.000 hari pertama. Saya kira itu yang sangat penting," imbuh dr. Piprim.
dr. Piprim juga mengemukakan bahwa protein hewani bisa didapatkan dari pemberian susu sapi kepada anak. Namun, protein hewani tidak selalu berasal dari susu. Tetapi bisa juga didapatkan dari ikan, telur, hingga daging unggas lainnya.

Stunting yang Dibahas pada Debat Kelima Capres

Dalam debat kelima kemarin, Prabowo memberikan pertanyaan kepada Ganjar terkait setuju atau tidak dengan gagasannya untuk memberi makan bergizi gratis untuk seluruh anak-anak di Indonesia. Menurutnya, ini dilakukan demi mengatasi masalah stunting, menghilangkan kemiskinan ekstrem, hingga mengurangi angka kematian ibu pada saat melahirkan.
ADVERTISEMENT
Namun, Ganjar menjawab tidak setuju. Karena ia beranggapan usulan tersebut terlambat untuk mencegah stunting.
"Stunting itu ditangani sejak bayi dalam kandungan, Pak. Ibunya yang dikasih gizi. Kalau kemudian gizinya baik, mereka lakukan cek rutin, ya, maka akan ketahuan bahwa dia ibunya sehat, anaknya pertumbuhannya dilihat," jelas Ganjar.
Ganjar juga menyoroti stunting bisa dicegah dari sebelum perempuan menikah. Dengan rutin periksa ke dokter dan pemenuhan gizi, maka anak-anak bisa terhindar dari stunting.

Perbedaan Stunting dan Gizi Buruk

Ilustrasi gizi buruk. Foto: Mohammad Bash/Shutterstock
Pada kesempatan yang sama, Ganjar juga menyoroti pencegahan stunting tidak bisa diatasi dengan bagi-bagi makanan gratis.
"Kalau sudah lahir dan tumbuh, mungkin bukan stunting, Pak. Itu gizi buruk," kata Ganjar.
Lantas, apa sih bedanya stunting dan gizi buruk?
ADVERTISEMENT
Dikutip dari laman Kemenkes, stunting adalah permasalahan gizi kronis yang disebabkan oleh kurangnya asupan gizi dalam rentang yang cukup waktu lama. Umumnya, hal ini karena asupan makan yang tidak sesuai dengan kebutuhan gizi. Permasalahan stunting terjadi mulai dari dalam kandungan dan baru akan terlihat ketika anak sudah menginjak usia dua tahun.
Selain mengalami pertumbuhan terhambat, stunting juga kerap kali dikaitkan dengan penyebab perkembangan otak yang tidak maksimal. Hal ini dapat mempengaruhi kemampuan mental dan belajar tidak maksimal, serta prestasi belajar yang buruk.
Selain itu, efek jangka panjang yang disebabkan oleh stunting dan kondisi lain terkait kurang gizi, acap kali dianggap sebagai salah satu faktor risiko diabetes, hipertensi, obesitas dan kematian akibat infeksi.
ADVERTISEMENT
Sementara gizi buruk atau biasa disebut malnutrisi adalah kondisi di mana asupan makan seseorang tidak sesuai dengan nutrisi yang semestinya diperlukan. Ini ditandai dengan kondisi berat badan anak terlalu rendah jika dibandingkan dengan tinggi badannya.
Anak dengan gizi buruk biasanya memiliki daya tahan tubuh yang sangat lemah sehingga berisiko terkena penyakit parah, bahkan meninggal.
Yuk, Moms, pastikan kebutuhan nutrisi anak tercukupi untuk cegah stunting atau gizi buruk.