kumparan
25 Jan 2019 18:25 WIB

Stunting Bukan Hanya Masalah Keluarga Miskin

Anak pendek belum tentu stunting (Foto: Shutterstock)
Masalah stunting pada anak masih menjadi perhatian serius di Hari Gizi Nasional yang diperingati tiap tanggal 25 Januari ini. Data terbaru Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018 menunjukkan bahwa prevalensi stunting di Indonesia masih sangat tinggi yaitu 30,8 persen. Angka tersebut jauh di atas ambang yang ditetapkan oleh Badan Kesehatan Dunia (WHO) sebesar 20 persen.
ADVERTISEMENT
Menurut Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI, stunting merupakan masalah kurang gizi yang mengakibatkan gangguan pertumbuhan pada anak, yakni tinggi badannya lebih pendek atau kerdil jika dibandingkan dengan standar anak seusianya. Lebih dari itu, permasalahan stunting tak hanya terjadi pada postur tubuh anak saja, melainkan juga menyerang sistem metabolisme dan perkembangan otaknya.
Kekurangan gizi yang menyebabkan terjadinya stunting biasanya dikaitkan dengan masalah finansial yang terjadi pada sebuah keluarga. Di kalangan masyarakat kurang mampu, stunting biasanya terjadi karena orang tua tidak bisa memberikan asupan gizi seimbang kepada anaknya di 1000 hari pertama kehidupan si kecil. Padahal, menurut Menteri PPN/Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas), Bambang Brodjonegoro, masalah stunting bisa terjadi meskipun keluarga tersebut tidak miskin.
ADVERTISEMENT
“Isu stunting bukan hanya sekadar kemiskinan dan kekurangan gizi saja. Saat ini yang terjadi banyak anak mengalami stunting padahal keluarganya tidak miskin. Mengapa? Karena misalkan tidak menggunakan konsep ASI eksklusif, mengkonsumsi makanan instan atau tidak bergizi. Jadi inilah yang membuat stunting di Indonesia terjadi di hampir semua kabupaten/kota di indonesia. Ini adalah isu nasional,” jelas Menteri Bambang seperti dikutip laman resmi Bappenas.
Ilustrasi anak bermain. (Foto: Shutterstock)
Lebih lanjut, Bambang mengimbau perlu adanya dorongan yang sinergis antar lembaga yang terkait dengan pemerintah, termasuk pemerintah daerah. Hal ini dikarenalkan penanganan anak stunting tak hanya cukup dengan upaya yang terkait langsung dengan kesehatan, perbaikan asupan gizi, atau keseimbangan, tapi juga akses layanan dasar, seperti akses air bersih dan sanitasi yang memadai.
ADVERTISEMENT
Terkait hal itu, Dokter Anak Spesialis Nutrisi dan Penyakit Metabolik, Dr. dr. Damayanti Rusli Sjarif, SpA(K) juga turut memberikan pandangannya. Menurutnya, stunting bisa terjadi pada semua keluarga, tak hanya keluarga kurang mampu saja.
"Bukan cuma dari kalangan bawah saja. Banyak pasien saya yang pakai mobil mewah ke saya tapi anaknya stunting. Itu karena apa, itu karena pola asuh yang diterapkan orang tuanya salah," jelas Dokter Damayanti dalam acara media workshop Frisian Flag MilkVersation di Djakarta Theatre, Rabu (23/1).
Faktor utama yang menyebabkan stunting, menurut dr. Damayanti adalah pemenuhan gizi yang tidak mencukupi, khususnya pada fase 1000 hari pertama atau 2 tahun kehidupan anak. Dalam banyak kasus, anak yang berasal dari keluarga mampu bisa terkena stunting karena orang tua lalai memberikan gizi seimbang pada buah hatinya.
ADVERTISEMENT
"Orang tua harus memenuhi gizi anak dengan memberikan makanan pendamping ASI dengan nutrisi seimbang, yaitu dilengkapi dengan kandungan karbohidrat, lemak dan protein yang tinggi setelah pemberian ASI eksklusif sebagai upaya pencegahan (stunting)," jelasnya.
Berat badan bayi. (Foto: Thinkstock)
Mengkonsumsi makanan yang tinggi zat besi juga penting untuk mencegah anak stunting. Dalam makanan sehari-hari, asupan tinggi zat besi bisa didapat dari daging merah, kacang-kacangan dan sayur-sayuran.
Selain mencukupi kebutuhan nutrisi anak, pencegahan stunting juga bisa Anda lakukan dengan rutin memantau pertumbuhan berat badan, lingkar kepala, dan panjang badan tiap satu bulan sekali. Apabila bayi mengalami penurunan berat badan secara tiba-tiba segeralah periksakan kondisinya ke dokter.
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan