kumparan
26 Maret 2020 11:27

Tak Cuma Akademis, Ini 4 Aspek Penting saat Dampingi Anak Belajar di Rumah Aja

PTR, Ilustrasi Sekolah
Ilustrasi Sekolah. Foto: Shutter Stock
Sudah lebih dari seminggu, sekolah ditutup sementara demi mencegah penyebaran virus corona. Kendati begitu, seperti yang kita ketahui yakni anak-anak tetap mengisi waktunya dengan belajar di rumah. Anda pun sebagai orang tua diminta untuk mendampingi ketika proses belajar itu terlaksana.
ADVERTISEMENT
Bagi sebagian orang tua yang anaknya sudah lebih dulu sekolah di rumah atau homeschooling, mungkin hal ini tak akan jadi masalah. Tapi bagaimana dengan orang tua yang anaknya biasa pergi ke sekolah untuk belajar? Tentu, hal ini akan menjadi pengalaman baru bagi mereka. Serukah? Atau malah membuat Anda lumayan mati gaya?
Ketika menghadapi situasi seperti ini, jangan panik, Moms. Perlu diketahui juga, belajar bukan hanya masalah akademis. Begitulah yang disampaikan Harini Tunjungsari, M.Psi, Psikolog kepada kumparanMOM belum lama ini.
Belajar di Rumah
Ilustrasi anak belajar di rumah. (17/03/2020). Foto: ANTARA/M Agung Rajasa
Ya, jika tugas yang diberikan oleh sekolah dapat diselesaikan selama 2-3 jam, Anda dapat mengisi kegiatan lainnya yang juga bermanfaat. Misalnya saja mengajari anak berkebun, mengaji, atau bahkan mengajarkan pekerjaan rumah (menyapu, mencuci piring, mencuci baju, dan sebagainya).
ADVERTISEMENT
"Jadi, mohon orang tua mengingat lagi bahwa anak berkembang bukan cuma masalah akademik. Tapi bisa dari hal lainnya. Dengan kesadaran ini, mudah-mudahan dapat meredakan kecemasan orang tua yang merasa sulit dampingi anak belajar sesuai standar pelajaran sekolah," kata psikolog yang akrab disapa Atink ini.
Psikolog yang juga dosen UNIKA Atma Jaya, Jakarta ini pun menyarankan kepada orang tua yang anaknya belajar di rumah, untuk dapat membuat rencana aktivitas atau kegiatan apa saja yang akan dilakukan bersama anak dengan 4 aspek berikut ini:
Belajar di rumah
Ilustrasi anak belajar di rumah Foto: Shutterstock

1. Aspek fisik motorik

Hal ini sangat penting untuk melihat berbagai kemampuan gerak anak (visual, motorik, dan keseimbangan). Ini juga akan menjadi salah satu modal si kecil berkembang. Untuk anak yang masih dalam kategori pra-SD, Anda dapat melatih si kecil beberapa kegiatan seperti: lompat satu kaki tanpa jatuh, bisa bertahan berdiri satu kaki, melempar bola ke arah tertentu, menendang bola ke arah yang tepat, dan lain-lain.
ADVERTISEMENT
"Bisa memegang alat tulis dengan cara pegang yang benar dan mantap atau tidak. Cek apakah bahu atau lengan atas terlihat kaku dan tegang saat anak menulis," ujarnya.
Sedangkan untuk anak yang duduk di bangku SD dan SMP, aktivitas fisik motorik lebih berfokus pada kegiatan gerak badan lainnya seperti olahraga untuk menjaga kesehatan fisik.
Anak menangis setelah digelitik orang tua
Anak menangis. Foto: Shutter Stock

2. Aspek sosial emosional

Orang tua dapat melihat seberapa sadar anak tentang dunia di sekitarnya (pertemanan maupun lingkungan yang lebih luas). Selain itu, orang tua juga harus mengecek seberapa luas pemahaman anak tentang berbagai emosi yang mungkin muncul. Sebab, jika tak bisa menyadari emosinya secara tepat, kemungkinan besar akan muncul reaksi yang salah.
"Kalau marah atau sedih, mungkin semua orang tahu. Tapi, sebetulnya enggak semua orang sadar kalau perasaan enggak enak dalam dirinya itu sebenarnya adalah perasaan 'malu' atau 'cemas' atau 'bingung'," jelas Atink.
ADVERTISEMENT
"Contohnya, habis menyadari kalau melakukan kesalahan kan sebetulnya malu, ya. Jadi, reaksinya adalah minta maaf, bukan marah. Atau kalau bingung, sebaiknya bertanya dan cari info lebih luas bukan nangis," tambahnya.
Ilustrasi Anak Bicara
Ilustrasi Anak Bicara. Foto: Shutter Stock

3. Aspek kognitif dan bahasa

Sebagai orang tua, Anda perlu memeriksa apakah anak bisa paham apa yang disampaikan orang lain secara verbal dan bisa mengekspresikan pemikirannya secara verbal. Selain itu, Anda juga perlu melihat apakah hal yang diterima si kecil itu benar atau malah salah anggapan.
"Buat anak yang kecil, cek dulu dalam bahasa percakapan. Kalau anak yang lebih besar, bisa dicek pemahaman bacaan mulai dari bacaan pendek ke bacaan panjang. Cek juga keluasan kosakatanya," ujar Atink.
Ilustrasi ibu menemani anak belajar
Ilustrasi ibu menemani anak belajar. Foto: Shutterstock

4. Aspek motivasi belajar atau motivasi berkembang

Apakah Anda pernah melihat si kecil antusias atau senang melakukan sesuatu yang membuat dirinya tampak lebih jago, Moms? Ya, hal ini dapat muncul dalam berbagai hal. Mulai dari bacaan hingga tontonan dapat berdampak pada aspek ini.
ADVERTISEMENT
Namun, tantangan selanjutnya adalah mengajak anak untuk menyusun berbagai pengetahuan di otaknya agar lebih teratur. Atink pun memberikan contoh, coba tanyakan kepada anak tentang perbandingan beberapa hal yang dia tonton. Jadi, ada pengolahan lebih lanjut setelah si kecil membaca atau menonton.