Mom
·
6 Juli 2021 15:56
·
waktu baca 3 menit

Tips dari Psikolog agar Anak yang Positif COVID-19 Tidak Stres

Konten ini diproduksi oleh kumparan
Tips dari Psikolog agar Anak yang Positif COVID-19 Tidak Stres (718642)
searchPerbesar
Tips dari Psikolog agar Anak yang Positif COVID-19 Tidak Stres Foto: Shutter Stock
Bagaimana perasaan Anda saat mengetahui anak tercinta ternyata positif COVID-19? Awalnya mungkin sedih dan cemas, namun Anda harus kembali tegar, Moms. Sebab, perasaan negatif ini justru bisa memperparah kondisi Anda dan juga si kecil.
ADVERTISEMENT
Seperti yang dijelaskan oleh Ayuningtias, Psi., M. Psi, Psikolog Klinis di Siloam Hospitals TB Simatupang, Jakarta Selatan. Menurutnya, perasaan negatif saat mengetahui anak terserang virus corona merupakan hal yang wajar, namun jangan sampai berlarut-larut.
“Perasaan negatif ketika awal tahu (anak positif corona), pasti cemas, sedih, dan sebagainya, itu wajar gak? Wajar. Itu boleh terjadi gak? Boleh. Justru, kalau buah hati kita terinfeksi COVID-19 dan kita tenang-tenang aja, tidak cemas dan sedih, malah ada sesuatu yang salah. Jadi, cemas dan sedih itu boleh, asal tidak berlebihan,” jelas Ayuningtias dalam webinar yang diselenggarakan Siloam Hospitals TB Simatupang, Jakarta Selatan, pada Sabtu (3/7).
Oleh sebab itu, Moms, jangan berlarut-larut dengan perasaan cemas dan sedih Anda. Sebab, perasaan negatif yang Anda miliki tidak akan membantu kesembuhan si kecil. Lantas, bagaimana jika anak Anda yang stres? Apa yang harus orang tua lakukan? Berikut penjelasan lengkapnya.
ADVERTISEMENT

Hal yang Harus Dilakukan Orang Tua agar Anak yang Positif COVID-19 Tidak Stres

Tips dari Psikolog agar Anak yang Positif COVID-19 Tidak Stres (718643)
searchPerbesar
Tips dari Psikolog agar Anak yang Positif COVID-19 Tidak Stres Foto: Freepik
Saat pertama kali mengetahui anak positif COVID-19, pastikan bahwa Anda memberikan pengertian kepada anak sesuai usianya. Jadi, anak jangan dibohongi dengan mengatakan, “Enggak, kamu enggak kenapa-kenapa kok, kamu enggak sakit kok, kamu sehat.”
Menurut Ayuningtias, anak harus tetap diedukasi sesuai dengan usianya dan tetap diberi pengertian apa yang sedang dia alami. Kemudian, batasi penggunaan sosial media atau paparan berita negatif pada anak.
“Dengan mengurangi paparan berita negatif, akhirnya bisa mempengaruhi kesehatan mental pendamping dan juga anak. Dan, kadang-kadang anak-anak itu pinter-pinter juga, main handphone sendiri, mereka tidak membagikan (info) itu ke orang tuanya, dan jadi ketakutan sendiri,” jelasnya.
ADVERTISEMENT
Ketika anak ketakutan karena melihat berita negatif hingga hoaks di sosial media, dampaknya akan membuat si kecil kesulitan tidur. Padahal penting untuk anak-anak yang sedang positif COVID-19 untuk cukup tidur.
Lalu, jangan lupa untuk menanyakan apa yang mereka rasakan saat ini, bagaimana perasaannya. Sebab, anak sama seperti orang dewasa, sama takutnya menghadapi pandemi yang sedang merajalela.
“Mereka juga sama. sedih dan ketakutan. Nah, ketika buah hati kita terinfeksi COVID-19, mereka juga merasakan perasaan negatif, namun sering kita lupakan karena kita terlalu sibuk dengan perasaan sendiri, sibuk dengan perasaan negatif kita sendiri, sehingga kita lupa tanya ke anak-anak, “Kamu takut gak? Kamu sedih ya?” Kita sering kali lupa untuk bertanya, jadi jangan lupa untuk selalu cek perasaan mereka,” tutur Ayuningtias.
ADVERTISEMENT
Kemudian terakhir, jika memungkinkan, berikan aktivitas untuk anak-anak agar mengurangi kejenuhan saat isolasi mandiri. Lalu, biarkan anak tetap melakukan sosialisasi via online, baik dengan keluarga atau teman-temannya, supaya si kecil tidak merasa kesepian, Moms.