Tragedi Kanjuruhan, KPAI Desak Pemerintah Pulihkan Kondisi Psikis Korban Anak

3 Oktober 2022 12:59
·
waktu baca 2 menit
sosmed-whatsapp-whitecopy-link-circlemore-vertical
Suasana kerusuhan dipertandingan sepak bola antara Arema FC dan Persebaya Surabaya di Malang, Jawa Timur pada 1 Oktober 2022. Foto: Putri/AFP
zoom-in-whitePerbesar
Suasana kerusuhan dipertandingan sepak bola antara Arema FC dan Persebaya Surabaya di Malang, Jawa Timur pada 1 Oktober 2022. Foto: Putri/AFP
ADVERTISEMENT
Kericuhan di Stadion Kanjuruhan, Malang, Jawa Timur, menyebabkan 125 orang meninggal dunia. Dari data tersebut, menurut Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA), terdapat 17 anak yang turut menjadi korban jiwa.
ADVERTISEMENT
Ya Moms, tidak sedikit anak-anak yang menjadi korban meninggal maupun luka setelah menonton pertandingan Arema Malang vs Persebaya Surabaya pada Sabtu (1/10) malam kemarin. Dikhawatirkan, kejadian ini akan menimbulkan trauma psikis pada anak-anak yang turut menjadi korban dalam insiden tersebut.
Maka dari itu, Komisioner Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) Retno Listyarti berharap pemerintah tidak hanya memberikan santunan kepada korban, tetapi memastikan anak-anak mendapatkan pemulihan kondisi psikisnya yang terluka. Termasuk juga bagi anak-anak yang kehilangan orang tuanya akibat tragedi di Stadion Kanjuruhan.
"Begitu pun bagi anak-anak yang orang tuanya meninggal saat tragedi. Ini butuh dukungan negara, karena mereka mendadak jadi yatim atau bahkan yatim piatu. Tulang punggung keluarganya ikut menjadi korban tewas dalam peristiwa ini," kata Retno dalam keterangannya.
ADVERTISEMENT

KPAI Ingatkan Risiko Bawa Anak-anak saat Pertandingan Malam

KPAI Ingatkan Risiko Bawa Anak-anak saat Pertandingan Malam. Foto: kornnphoto/Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
KPAI Ingatkan Risiko Bawa Anak-anak saat Pertandingan Malam. Foto: kornnphoto/Shutterstock
Di sisi lain, KPAI juga menyoroti diajaknya anak-anak untuk menghadiri pertandingan yang dihadiri oleh massa besar pada malam hari. Sebab, menghadiri acara dengan massa banyak bisa membahayakan keselamatan anak, apalagi yang digelar pada malam hari.
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
"Membawa anak-anak dalam kerumunan massa sangat berisiko, apalagi di malam hari, karena ada kerentanan bagi anak-anak saat berada dalam kerumunan, karena kita tak bisa memprediksi apa yang akan terjadi dalam kerumunan tersebut," ungkap Retno.
Dia juga mengatakan bahwa penggunaan gas air mata dalam upaya untuk mengatasi kerusuhan di stadion membahayakan keselamatan anak-anak. Maka dari itu, KPAI mendorong pemerintah bertanggung jawab dan melakukan investigasi menyeluruh agar tidak terulang lagi.
Ilustrasi menonton pertandingan sepak bola Foto: REUTERS/Ann Wang
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi menonton pertandingan sepak bola Foto: REUTERS/Ann Wang
"Itulah mengapa penggunaan gas air mata tersebut dilarang oleh FIFA. FIFA dalam Stadium Safety and Security Regulation Pasal 19 menegaskan bahwa penggunaan gas air mata dan senjata api dilarang untuk mengamankan massa dalam stadion," tuturnya.
ADVERTISEMENT
Atas kejadian ini, KPAI mengusulkan agar tragedi Kanjuruhan ditetapkan sebagai Hari Berkabung Nasional. Ia juga mengusulkan untuk mengheningkan cipta dilakukan setiap tanggal tersebut.
"Mendorong pemerintah menetapkan Hari Berkabung Nasional atas tragedi tewasnya ratusan suporter di Kanjuruhan, termasuk korban usia anak dan mengheningkan cipta serentak selama 3 menit," pungkasnya.
Baca Lainnya
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020