News
·
22 September 2020 13:26

115 Dokter Gigi di RI Kena Corona, Risiko Tinggi karena Pasien Pasti Buka Masker

Konten ini diproduksi oleh kumparan
115 Dokter Gigi di RI Kena Corona, Risiko Tinggi karena Pasien Pasti Buka Masker (15035)
ilustrasi wanita hamil ke dokter gigi Foto: Shutterstock
Ketua Persatuan Dokter Gigi Indonesia (PDGI), drg Sri Hananto Seno, mengingatkan bahaya potensi paparan corona bagi para dokter gigi. Bahkan hingga saat ini, sudah ada 115 dokter gigi di Indonesia positif COVID-19.
ADVERTISEMENT
"Saat ini masih ada 115 (dokter gigi) yang menderita COVID-19, yaitu pada umumnya dari Puskesmas, RS, juga dari dinas-dinas kesehatan yang di [bagian] manajemen pun juga terkena," ujar Sri dalam diskusi dengan BNPB, Selasa (22/9).
Tingginya risiko penularan terjadi lantaran profesi dokter gigi yang berkutat langsung pada kondisi mulut dan gigi pasien. Setiap pemeriksaan, mau tidak mau, pasien pasti membuka masker.
"Profesi dokter gigi adalah suatu profesi yang tertinggi, karena segala sesuatunya mungkin, pasien atau masyarakat yang datang ke dokter gigi pasti buka masker, tidak pernah menutup masker. Sehingga memiliki risiko tinggi untuk perawatan di bidang mulut," ucap Sri.
115 Dokter Gigi di RI Kena Corona, Risiko Tinggi karena Pasien Pasti Buka Masker (15036)
Ilustrasi dokter gigi memeriksa gigi anak Foto: Shutter Stock
Untuk itu, Sri menyambut baik keputusan Satgas COVID-19 yang menyediakan tes PCR gratis bagi seluruh tenaga kesehatan, termasuk dokter gigi. Terlebih hingga saat ini, dari total 38.600 dokter gigi se-Indonesia, masih ada 34 ribu dokter gigi yang berpraktik di tengah pandemi.
ADVERTISEMENT
"Kalau kita sejak awal deteksi dini dengan PCR ini tentunya kita semua mendapat perlindungan awal. Ini program yang baik untuk dilanjutkan, tidak hanya di Jabodetabek tapi juga di wilayah-wilayah zona merah misalnya di Jawa Timur, Jawa Tengah, kemudian Kalimantan Selatan, Sulawesi Selatan, Jawa Barat, Bali, DIY lain-lain. Saya yakin program ini tidak berhenti di Jabodetabek saja," beber Sri.
"Harapan kita semua, pemerintah bisa memberikan yang terbaik kepada tenaga kesehatan, jika memberikan moral yang kuat kepada Nakes. Kalau moralnya kuat, sistem pertahanan kuat, tentunya juga akan semuanya menghasilkan suatu pelayanan dan mengatasi masalah COVID-19 sebaik-baiknya," tutup Sri.