kumparan
18 September 2019 17:14

335 Orang Utan di Pusat Rehabilitasi di Kalteng Terpapar Kabut Asap

Ilustrasi orangutan Foto: Shutter Stock
Sebanyak 355 orang utan yang berada di pusat rehabilitasi Nyaru Menteng, Provinsi Kalimantan Tengah, terancam sakit akibat semakin pekatnya kabut asap beberapa pekan terakhir.
ADVERTISEMENT
CEO Yayasan Borneo Orangutan Survival (BOS), Jamartin Sihite mengatakan, 37 dari ratusan orang utan muda di Nyaru Menteng terindikasi telah terjangkit infeksi saluran pernafasan ringan.
"Tim medis dengan sigap memberikan pengobatan menggunakan nebulizer, multivitamin, dan antibiotik, terutama bagi orang utan yang dianggap mengidap infeksi parah," kata Jamartin dikutip dari Antara, Rabu (18/9).
Jamartin mengatakan api sempat mengancam Pusat Rehabilitasi Orang Utan Nyaru Menteng yang terletak tidak jauh dari kota Palangka Raya. Di pekan pertama Agustus 2019, tim pemadam kebakaran Yayasan BOS sempat harus berjibaku melawan api yang mendekat sampai jarak sekitar 300 meter dari batas Nyaru Menteng.
Jamartin mengatakan tim berhasil memadamkan si jago merah setelah bekerja keras selama sekitar 4 jam bersama sejumlah pihak lain. Tim di Nyaru Menteng bersama masyarakat serta unsur-unsur pemerintahan lainnya pun semakin rutin patroli.
ADVERTISEMENT
"Pemadaman beberapa titik api di sekitar Nyaru Menteng juga terus dilakukan. Itulah yang membuat kami berhasil mencegah penyebarannya," kata Jamartin.
Dia mengaku ada sekitar 80 hektare hutan gambut di wilayah kerja Yayasan BOS dilahap si jago merah. Sebanyak 80 hektare yang terbakar itu tersebar di Sei Daha dekat Pusat Penelitian Tuanan seluas 20 hektare, dan 60 hektare di Sei Mantangai, Kabupaten Kapuas, Kalteng.
Meski begitu, Yayasan BOS di Program Konservasi Mawas bekerja sama dengan masyarakat sekitar dan tim di Pusat Penelitian Tuanan mengendalikan, mengisolasi, dan memadamkan kebakaran.
"Kondisi itu tidak mengendurkan semangat kami untuk terus bekerja melindungi orangutan Kalimantan dan habitatnya," demikian kata Jamartin.
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan