kumparan
10 November 2019 5:16

4 Fakta Siswa SMP di Pekanbaru Dibully hingga Hidung Patah

Stop bullying
Stop bullying. Foto: Dok. Freepik
Kasus bullying di sekolah kembali terjadi. Kali ini, cerita datang dari seorang siswa SMP di Jalan Hang Tuah, Kota Pekanbaru, Riau, berinisial F yang menjadi korban bullying oleh teman sekelasnya.
ADVERTISEMENT
Kasus bullying ini mencuat lewat unggahan di Facebook dari akun Rani Chambas, yang disebut merupakan bibi korban pada Kamis(7/11) lalu. Namun, kini unggahan tersebut telah dihapus.
Kejadian F dibully dua teman sekelasnya terjadi pada Selasa (5/11) lalu. Namun, pihak keluarga korban baru melapor ke polisi dua hari kemudian.
Berikut rangkuman fakta-fakta dari kasus bullying yang menimpa F, dilansir dari Selasar Riau --partner 1001 media kumparan.
1. Terjadi saat jam belajar
Rekan sekelas korban berinisial R mengungkapkan kejadian ini terjadi saat sedang aktivitas belajar mengajar.
"Kejadian itu saat kami tengah dalam jam belajar seni budaya," ungkap R.
R menyebut F sempat dibercandai oleh dua rekan sekelasnya. Namun, aksi bercanda itu berujung dengan kekerasan, hingga akhirnya korban terjatuh ke lantai. Meski begitu, R mengaku tak melihat pasti kejadian.
ADVERTISEMENT
Menurut dia, selama ini F dikenal sebagai siswa yang baik dan pendiam. Ia juga tak banyak tingkah laku selama di kelas.
"Yang kami tahu dia itu anak baik. Pendiam," katanya lagi.
2. Ada guru wanita di dalam kelas
Berdasarkan kesaksian R, saat F dibully temannya, ada seroang guru wanita yang juga berada di dalam kelas. Begitu juga dengan unggahan Rani yang menyebutkan hal yang sama.
Menurut keterangan mereka, guru itu hanya bermain ponsel tanpa memperdulikan siswanya ribut, bahkan sampai dibully.
"Iya, Bu Guru pegang HP saat itu. Mungkin tengah mencari soal-soal (pelajaran)," ujar R.
3. Harus dioperasi akibat tulang hidung patah
Akibat bully dari temannya, kini F masih menjalani perawatan intensif di salah satu RS di Kota Pekanbaru. Ia mengalami luka di bagian kepala dan patah tulang hidung.
ADVERTISEMENT
Setelah operasi, kondisi korban sudah berangsur membaik. Namun, kepala korban masih dibalut perban dan belum dibuka. Tak hanya itu, F juga masih trauma.
"Korban trauma. Kita tengah upayakan memulihkan kondisinya dengan melakukan pendampingan," kata Kepala Unit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Satuan Reserse Kriminal Polresta Pekanbaru, AKP Juniasti.
Disamping itu, pihak kepolisian belum bisa memberikan detail kondisi korban karena masih dalam tahap penyelidikan. Belum diketahui juga bagaimana nasib teman sekelas F yang melakukan perbuatan tersebut.
4. Guru dianggap lalai
Aksi bullying ini mendapat kecaman dari Wakil Ketua DPRD Pekanbaru, Tengku Azwendi Assegaf. Apalagi, ia menyayangkan ada guru di dalam kelas yang justru tidak melakukan apa-apa.
"Itu kejadiannya di dalam kelas, belajar-mengajar pula. Ini kelalaian, sangat kita sayangkan," ujar Azwendi, Sabtu (9/11).
ADVERTISEMENT
Menurutnya, pihak sekolah harus bertanggung jawab atas keselamatan para siswanya. Ia juga mempertanyakan ketegasan guru yang justru tidak memperhatikan situasi kelas.
"Sekolah harus lebih bijak dalam memantau perkembangan anak-anak didiknya, bagi anak yang nakal harus diberi sanksi yang membuat jera, kalau perlu dikeluarkan dari sekolah," tutupnya.
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan