5 Pernyataan Kontroversial Kepala BPIP: Larang Cadar-Agama Musuh Pancasila

1 Oktober 2021 11:24 WIB
·
waktu baca 5 menit
Kepala Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) Yudian Wahyudi. Foto: ANTARA FOTO/Hafidz Mubarak A
zoom-in-whitePerbesar
Kepala Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) Yudian Wahyudi. Foto: ANTARA FOTO/Hafidz Mubarak A
ADVERTISEMENT
Kepala Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) Yudian Wahyudi terus menuai sorotan terkait pernyataan-pernyataan kontroversialnya. Terbaru, Yudian menyebut Presiden ke-1 RI Sukarno sebagai umat Islam yang paling berhasil meneladani politik lapangan Nabi Muhammad SAW.
ADVERTISEMENT
Bukan kali ini saja Yudian melontarkan pernyataan-pernyataan kontroversial. Sejak dilantik pada 5 Februari 2020 oleh Presiden Jokowi, Yudian beberapa kali menyampaikan pernyataan yang memancing kontroversi publik.
Berikut kumparan rangkum beberapa pernyataan Yudian yang kontroversial:

1. Larang Penggunaan Cadar

Sebelum dilantik menjadi Kepala BPIP, Yudian yang juga Rektor UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta pernah membuat kebijakan melarang penggunaan cadar bagi mahasiswinya di kampus. Aturan ini tertuang dalam surat keputusan B-1031/Un.02/R/AK.00.3/02/2018 tentang pembinaan mahasiswi bercadar yang dikeluarkan pada 20 Februari 2018.
Aturan ini pun mendapat protes dari banyak pihak. Namun, Yudian menjelaskan, aturan ini dikeluarkan untuk menjaga ideologi para mahasiswanya dan memudahkan kegiatan belajar mengajar di kampus. Bahkan, bagi mahasiswi yang melanggar akan diperingatkan dan dibina, bahkan bisa dikeluarkan.
ADVERTISEMENT
Akan tetapi, aturan ini tidak berlangsung lama karena pada akhirnya pihak kampus mencabut larangan penggunaan cadar pada 10 Maret 2018.

2. "Agama Musuh Besar Pancasila"

Kepala Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) Yudian Wahyudi (kiri) bersiap dilantik di Istana Negara, Jakarta. Foto: ANTARA FOTO/Hafidz Mubarak A
Yudian masih menjadi sorotan setelah pernyataan "agama menjadi musuh terbesar Pancasila". Pernyataan Yudian itu pun dikritik oleh banyak pihak.
Yudian kemudian memberikan penjelasan agar tidak menghadapkan Pancasila dengan agama.
"Maksudnya Pancasila itu agamis, karena kelima sila itu mudah ditemukan di kitab suci keenam agama yang diakui secara konstitusional oleh NKRI," ucap Yudian, Selasa (12/2/2020).
"Jadi, kita ini jangan menghadap-hadapkan Pancasila dengan agama, karena agama dengan Pancasila itu saling mendukung. Jadi kalau bahasa gampangnya dari segi sumber dan tujuannya Pancasila ini agamis, karena kelima sila itu mudah ditemukan di kitab suci keenam agama yang diakui secara konstitusional oleh NKRI," imbuh dia.
ADVERTISEMENT
Ketika rapat kerja dengan Komisi II DPR Februari 2020, Yudian pun mendapat hujan kritik dari para anggota. Saat itu, ia menjelaskan bahwa Pancasila adalah sebuah konsensus bangsa Indonesia yang harus disyukuri.
Namun, dalam pengamalan beragama Islam, faktanya tidak semua bisa menerima Pancasila sebagai konsensus, sehingga Pancasila harus bisa dijelaskan dengan filsafat hukum Islam atau ushul fiqh.
"Maka saya katakan sekarang untuk memahami Pancasila ini, saya katakan ini konsensus. Jadi, kalau pakai bahasa Islam, bahasa fiqh, Pancasila itu ilahi, religius dari segi sumber dan tujuannya," kata Yudian, Selasa (18/2/2020).
Namun, ia menegaskan agama bukanlah musuh Pancasila. Melainkan, jika agama tidak dikelola dengan baik maka bisa menjadi musuh.
Imbas dari pernyataannya itu, Yudian berjanji tidak akan membuat kontroversial lagi usai dinasihati oleh para anggota Komisi II.
ADVERTISEMENT
"Sudah disampaikan bapak tadi supaya disetop, ya saya berjanji ini. Jadi tidak akan ada lagi nanti kontroversi saya sebagai pribadi, yang itu atas nama BPIP," kata Yudian.

3. Pakai TikTok untuk Sosialisasi Pancasila

Kali ini, BPIP menjadi sorotan karena berencana menggunakan beberapa platform media sosial untuk sosialisasi Pancasila, khususnya ke generasi milenial. Mulai dari YouTube hingga TikTok dimanfaatkan agar Pancasila lebih dipahami oleh kaum-kaum muda.
"Ada Youtube, ada Blogger, ada pokoknya media sosial yang sekarang digital. Digital mode ini kita pakai, sehingga nanti akan ada, ya termasuk Tiktok segala macam itu," kata Yudian.
Menurut Yudian, cara ini merupakan permintaan Presiden Jokowi yang ingin BPIP bisa merangkul generasi muda. Selain media sosial, BPIP juga menggunakan media lain seperti musik hingga film untuk mengedukasi tentang nilai-nilai Pancasila.
ADVERTISEMENT

4. Usul Assalamualaikum Diganti Salam Pancasila

Kepala Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) Yudian Wahyudi bersiap mengikuti Rapat Dengar Pendapat (RDP) dengan Komisi II DPR di Kompleks Parlemen, Senayan Foto: ANTARA FOTO/Dhemas Reviyanto
Selanjutnya adalah muncul wacana mengganti ucapan assalamualaikum dengan salam Pancasila. Usulan ini muncul dari wawancara Yudian dengan salah satu media online pada Februari 2020.
Usulan salam Pancasila sempat ramai di media sosial, yaitu parodi mengganti assalamualaikum dengan 'salam Pancasila'. Salam ini mencuat menyusul polemik pernyataan Yudian soal agama dan Pancasila.
Namun, pernyataan ini bukanlah usulan BPIP, dan Yudian pun tidak menarasikan mengganti assalamualaikum dengan salam Pancasila. Akan tetapi, yang berusaha disampaikan adalah terkait kesepakatan-kesepakatan nasional tentang tanda dalam bentuk salam bagi pelayanan publik. Dalam hal ini, kaitannya adalah salam Pancasila.
"Salam Pancasila sebagai salam kebangsaan diperkenalkan untuk menumbuhkan kembali semangat kebangsaan, serta menguatkan persatuan dan kesatuan yang terganggu karena menguatnya sikap intoleran," jelas Direktur Sosial, Komunikasi dan Jaringan BPIP, Aries Heru Utomo.
ADVERTISEMENT
Sehingga, pernyataan Yudian ini merupakan misinformasi.

5. Sukarno Umat Islam Paling Berhasil Teladani Politik Nabi Muhammad

Dan terbaru, Yudian mengungkapkan Sukarno sebagai sosok umat Islam yang berhasil meneladani politik lapangan, seperti yang dilakukan Nabi Muhammad SAW.
"Bung Karno itu adalah umat Islam yang paling berhasil meneladani politik lapangan Rasulullah, Nabi Muhammad pada waktu Makkah revolusi pertama tidak berdarah dalam sejarah. Bung karno memimpin bangsa Indonesia ini proklamasi tidak berdarah," ungkap Yudian dalam diskusi 'Peringatan 61 Tahun Pidato Bung Karno di Sidang PBB', dilihat dari YouTube Bamusi TV, Kamis (30/9).
Selain itu, Yudian menyebut Bung Karno juga berhasil mewujudkan teori politik majemuk seperti dalam piagam Madinah. Prestasi Sukarno lainnya adalah berhasil mempersatukan seluruh kerajaan di Indonesia menjadi satu negara yakni NKRI.
ADVERTISEMENT
Menurutnya, peristiwa ini tidak akan terjadi apabila Indonesia tidak dipimpin oleh Sukarno.
"Dan ini peristiwa sekali lagi tidak pernah terjadi di dalam sejarah, kecuali di tangan Bung Karno, Bung Hatta dan bangsa Indonesia. Makanya saya katakan, Bung Karno adalah umat Islam yang paling berhasil meneladani politik lapangan revolusi tidak berdarah, mewujudkan piagam Madinah itu," pungkasnya.