59 Orang Korban Bangunan Runtuh Ponpes Sidoarjo Hilang, Basarnas Lakukan Ini

2 Oktober 2025 16:39 WIB
·
waktu baca 4 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
59 Orang Korban Bangunan Runtuh Ponpes Sidoarjo Hilang, Basarnas Lakukan Ini
Basarnas pakai berbagai metode dan alat untuk mendeteksi korban di bawah reruntuhan bangunan, bagaimana hasilnya?
kumparanNEWS
Tim penyelamat mencari korban yang terjebak di bawah reruntuhan bangunan Ponpes Al-Khoziny di Sidoarjo, Jawa Timur, Indonesia, Rabu (1/10/10/2025). Foto: Trisnadi/AP PHOTO
zoom-in-whitePerbesar
Tim penyelamat mencari korban yang terjebak di bawah reruntuhan bangunan Ponpes Al-Khoziny di Sidoarjo, Jawa Timur, Indonesia, Rabu (1/10/10/2025). Foto: Trisnadi/AP PHOTO
ADVERTISEMENT
Tim SAR gabungan masih mencari korban yang tertimbun bangunan ambruk Ponpes Al-Khoziny di Kecamatan Buduran, Sidoarjo, Kamis (2/10). Saat ini masih ada 59 orang yang dinyatakan hilang.
ADVERTISEMENT
Kasubdit RPDO (Pengarahan dan Pengendalian Operasi) Bencana dan Kondisi Membahayakan Manusia (KMM) Basarnas, Emi Freezer, mengatakan telah melakukan sejumlah metode hingga peralatan untuk pencarian korban yang masih tertimbun. Mulai dari hailing method hingga search cam.
Penggunaan metode dan peralatan ini dilakukan saat petugas melakukan re-assesment sebanyak tiga kali sebelum mengubah metode pencarian menjadi cranning phase pada hari ini.
Tim penyelamat mencari korban yang terjebak di bawah reruntuhan Ponpes Al-Khoziny di Sidoarjo, Jawa Timur, Indonesia, Rabu (1/10/10/2025). Foto: Trisnadi/AP PHOTO
"Re-assesment yang pertama kami lakukan di pukul 23.30. Sebelum kami berharap semua itu harus clear. Tidak boleh ada satu orang pun yang di luar dari petugas yang melakukan scanning. Karena alat ini daya tangkapnya bisa sampai 50 m radiusnya dari alat," jelas Emi di posko asrama putri Ponpes Al-Khoziny, Kamis (2/10).
"Jadi kalau ada orang beraktivitas di situ akan tertangkap di dalam detector dan ini akan membuat kita multitafsir menganggap bahwa ada yang hidup. Padahal itu orang lain yang ada di sekitar. Jika kami minta itu clear semua," lanjutnya.
Menteri Sosial Saifullah Yusuf (Gus Ipul) menyaksikan proses evakuasi Haikal salah satu santri di Pondok Pesantren Al-Khoziny Buduran, Sidoarjo, Rabu (1/9/2025). Foto: Dok. Kemensos
Pada fase pertama hasilnya nihil. Kemudian petugas menggunakan dua pendekatan. Pertama, pendekatan manual yaitu dengan memanggil atau hailing method.
ADVERTISEMENT
"Kita panggil, kita cari keliling, kemudian setelah itu ini tim mundur kita ganti dengan alat search cam. Dari semua titik, dari semua sektor kita search cam dengan menggunakan fleksibel yang dia memiliki jangkauan bisa sampai 5 meter dia bisa masuk ke dalam celah-celah di antara runtuhan. Hasil nihil, keluarannya adalah video recording," ucapnya.
Sejumlah Tim Rescue Basarnas Yogyakarta diberangkatkan ke Ponpes Al-Khoziny, Kecamatan Buduran, Sidoarjo, Jawa Timur untuk membantu evakuasi bangunan musala ponpes yang runtuh, Selasa (30/9). Foto: Dok. Basarnas Yogyakarta
Kemudian, peralatan kedua yakni wall scan saver. Ini merupakan peralatan yang ditempel di dinding. Kemudian, radius scanning mencapai 120 derajat dengan jangkauan terjauh hingga 200 meter.
"Dia bisa passing through tembok, bisa lewat menembus tembok, indikator yang ditangkap adalah dua pertama life sign, tanda-tanda kehidupan dari denyut nadi kemudian dari panas tubuh dan juga dari gerakan," jelasnya.
ADVERTISEMENT
Lalu, petugas juga menggunakan metode jumlah pergerakan. Untuk yang terdapat tanda kehidupan, akan keluar sinyal dalam bentuk grafik. Tapi, untuk jumlah orang yang tertimbun dalam bentuk coding warna.
Keluarga mencari daftar korban bangunan musala yang ambruk di Pondok Pesantren (Ponpes) Al Khoziny di Kecamatan Buduran, Sidoarjo, Jawa Timur, Senin (29/9/2025). Foto: Umarul Faruq/ANTARA FOTO
"Kalau misalnya di dalam ada lima saja memberikan gerakan halus dan dia tersebar maka akan keluar lima coding warna. Sehingga alat ini akan lebih spesifik bisa mem-filter berapa banyak gerakan yang ada di dalam," terangnya.
"Karena pada saat kita scanning sebelum alat ditangkap kita berikan instruksi dengan penguat bahwa mereka kalau bisa bergerak lakukan gerakan kecil. Agar kami bisa melakukan scanning. Itu kami beri instruksi. Jadi bukan kami masih bawa alat diam-diam, tidak. Tapi kami kasih instruksi kepada orang yang di dalam mudah-mudahan ada yang bisa memberikan respons balik dari scanning tersebut," lanjutnya.
ADVERTISEMENT
Peralatan selanjutnya yakni multi search scanning. Peralatan ini bekerja dalam dua versi.
"Yang pertama adalah visual. Yang kedua adalah seismic motion atau gerakan halus yang ada di solid surface atau di permukaan keras. Bisa dia ketuk seperti ini. Ini sudah bisa ditangkap alat itu dan nanti akan terlihat di monitor, dia posisinya berapa jauh dari jarak dan vektor ataupun sudutnya itu berapa jauh dari alat sehingga kita bisa plotting di mapping, di side scan clubs building," ujarnya.
Tim SAR gabungan mencari korban bangunan musala yang ambruk di Pondok Pesantren (Ponpes) Al Khoziny di Kecamatan Buduran, Sidoarjo, Jawa Timur, Senin (29/9/2025) malam. Foto: Umarul Faruq/ANTARA FOTO
Kemudian, re-assesment kedua yang dilaksanakan pada Kamis (2/10) pukul 02.00 WIB, hasil pencarian tetap nihil.
Petugas kembali memvalidasi pada pukul 07.00 WIB berharap ada perubahan, namun hasilnya tetap nihil.
"Kami sudah laporkan hasil scanning ini ke Kepala Basarnas dan dari Kepala Basarnas sudah di-sounding, kemudian dilakukanlah rapat konsolidasi tingkat pimpinan untuk mengambil langkah-langkah selanjutnya dan berikutnya sudah disampaikan oleh Kepala Badan," ungkapnya.
ADVERTISEMENT
"Kurang lebih demikian yang kami sampaikan justifikasi kenapa dari rescue phase kemudian pindah ke crane phase. Bolehlah kita bisa sampaikan crane phase, fase craning. Jadi kita menggunakan crane, tidak menggunakan dozer," tambahnya.