Vaksinasi corona di Bursa Efek Indonesia
16 April 2021 10:27

Ahli Tak Anjurkan Tes Antibodi Usai Vaksinasi Corona: Enggak Ada Gunanya

Ahli Tak Anjurkan Tes Antibodi Usai Vaksinasi Corona: Enggak Ada Gunanya (434865)
Ketua Pengurus Pusat Perhimpunan Alergi Imunologi Indonesia Prof Iris Rengganis. Foto: Satgas COVID-19
Lebih dari 10 juta orang Indonesia telah menerima suntikan pertama vaksinasi corona. Sementara hampir 6 juta orang di antaranya sudah mendapat 2 dosis vaksin, baik Sinovac maupun AstraZeneca.
ADVERTISEMENT
Dengan adanya vaksinasi ini, tak sedikit masyarakat yang kemudian penasaran apakah sudah ada antibodi di dalam tubuhnya atau belum. Jadilah mereka periksa ke sejumlah tempat untuk tes serologi untuk cek antibodi.
Lantas, apakah sebenarnya hal ini diperbolehkan?
Ketua Pengurus Pusat Perhimpunan Alergi Imunologi Indonesia Prof Iris Rengganis punya penjelasan terkait hal ini.
"Setelah vaksinasi (pertama) itu antibodi mulai meningkat, jadi sudah ada, tapi belum optimal. Belum mencapai antibodi adekuat yang sesuai dengan yang diharapkan yakni antibodi netralisasi atau protective," kata Iris dalam webinar di channel Youtube Satgas COVID-19 yang dilihat kumparan, Jumat (16/4).
Oleh karena itu baik Sinovac maupun AstraZeneca vaksinnya dilakukan 2 kali. Sebab, virus yang dimasukkan sebagai bahan vaksin adalah virus yang dimatikan.
ADVERTISEMENT
"Nanti setelah yang kedua baru antibodinya naik lagi karena sudah dirangsang dan ada memori sel. Tapi dari vaksin ke-2 itu butuh 14-28 hari untuk membentuk antibodi netralisasi," jelas Iris.
"Jadi kenapa 2 kali vaksin? Karena vaksinnya virus mati, dia tidak bereplikasi dalam tubuh. Artinya perlu dirangsang lagi supaya lebih tinggi. Tergantung respons imun seseorang, kalau anak muda 14 hari sudah terbentuk. Kalau orang tua 28 hari atau bisa lebih," imbuhnya.
Ahli Tak Anjurkan Tes Antibodi Usai Vaksinasi Corona: Enggak Ada Gunanya (434866)
Sejumlah petugas kesehatan menyuntikkan vaksin corona selama program vaksinasi massal di Bursa Efek Indonesia di Jakarta, Rabu (31/3). Foto: Willy Kurniawan/REUTERS
Iris menjelaskan fenomena periksa antibodi usai vaksinasi sebenarnya hal yan percuma. Sebab, pemeriksaan serologi untuk mengetahui hal ini bukanlah gold standard.
Banyak orang yang ingin periksa antibodi (usai vaksinasi). Sebenarnya enggak ada gunanya periksa saat ini, before after-nya. Jadi tidak dianjurkan. Karena pemeriksaan sekarang untuk bukan antibodi netralisasi alias antibodi keseluruhan.
-Prof Iris Rengganis
Selain itu, reagen yang digunakan untuk proses tes antibodi juga tak bisa sembarangan. Harus sesuai standar penelitian pada uji klinis untuk mengecek imunogenisitas seseorang.
ADVERTISEMENT
"Jadi banyak yang periksa antibodi terus kok masih 0, ya. Antibodi yang diperiksa sebenarnya setelah 28 hari tapi juga dengan reagen khusus, bukan seperti yang di pasaran. Kalau yang di pasaran itu untuk antibodi keseluruhan," urai Iris.
"Yang khusus sesuai penelitian standarnya baru bisa dinilai. Kita hanya antibodi keseluruhan. Kesepakatannya pemeriksaan before after tidak dianjurkan kecuali alatnya sesuai standar," tutup dia.
Imbauan Kemenkes
Sebelumnya, jubir vaksinasi corona Kemenkes Siti Nadia Tarmidzi berbicara soal pengujian kadar antibodi (imunogenisitas) yang dilakukan secara mandiri usai vaksinasi corona. Ia mengimbau masyarakat tak melakukan hal ini.
Ahli Tak Anjurkan Tes Antibodi Usai Vaksinasi Corona: Enggak Ada Gunanya (434867)
Jubir vaksinasi corona dr.Siti Nadia Tarmizi dari Kemenkes. Foto: BNPB
"Karena tentunya untuk yang tidak memahami arti pengujian antibodi ini akan menimbulkan kebingungan dan keragu-raguan," kata Nadia dalam jumpa pers virtual, Selasa (16/3).
ADVERTISEMENT
Jadi, selama ini tak sedikit publik yang penasaran, apakah antibodi mereka terbentuk usai vaksinasi. Mereka kemudian menggunakan alat rapid test serologi, Kemenkes pun tak merekomendasikan hal itu.
"Yang menjadi pengujian untuk menentukan imunogenisitas yang timbul dari pemberian vaksinasi itu adalah dengan pemeriksaan yang kita sebut sebagai uji netralisasi. Namun uji ini tidak mudah dan sangat berisiko karena menggunakan virus yang hidup," tutur Nadia.
"Ini yang betul-betul uji yang gold standard untuk menentukan imunogenitasnya dan uji ini hanya bisa saat ini dilakukan di laboratorium-laboratorium yang terbatas," sambung dia.
-----
Punya pertanyaan seputar vaksin corona? Cek Vaksinesia.com
****
Saksikan video menarik di bawah ini: