kumparan
6 Desember 2017 18:49

Ahok Masuk Daftar Global Rethinker Versi Majalah Foreign Policy

Cover 16:9 Sidang Lanjutan Ahok
Basuki Tjahaja Purnama (Ahok). (Foto: Pool)
Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok masuk daftar Global Rethinker 2017 versi majalah Foreign Policy. Mantan Gubernur DKI Jakarta itu disandingkan dengan nama-nama terkenal di dunia lainnya, mulai dari politisi hingga whistleblower.
ADVERTISEMENT
Ada 48 tokoh dunia yang masuk dalam Global Rethinker Foreign Policy tahun ini. Menurut situsnya, penghargaan ini diberikan kepada semua orang yang dianggap tidak hanya membentuk, tapi juga memberikan pandangan baru tentang dunia. Mereka terdiri dari anggota parlemen, komedian, pengacara, pengusaha, presiden, hingga provokator.
Di antara yang berada di dalam daftar adalah Presiden Korea Selatan Moon Jae-in, Presiden Gambia Adama Barrow, Dubes AS untuk PBB, Nikki Haley, Presiden Prancis Emmanuel Macron, hingga Chelsea Manning, yang pernah membocorkan rahasia intelijen Amerika Serikat.
Untuk Ahok, editor Foreign Policy Benjamin Soloway mengatakan dia masuk dalam daftar karena "perlawanannya terhadap fundamentalisme yang bertumbuh di Indonesia."
Ahok kampanye di gandari selatan, Jakarta.
Ahok kampanye di gandari selatan, Jakarta. (Foto: Johannes Hutabarat/kumparan)
Dalam ulasannya, Soloway mengatakan Ahok tidak seperti politisi Indonesia kebanyakan. Dia "bermulut tajam, keturunan China, dan Protestan di negara mayoritas Muslim terbesar di dunia."
ADVERTISEMENT
"Dia memberantas korupsi, memperluas akses jaminan kesehatan dan sosial, membersihkan kali yang tersumbat, dan meningkatkan transportasi publik....membuat dia mendapatkan rating popularitas yang tinggi," tulis Soloway.
Namun pada 2017 di penghujung Pemilihan Gubernur DKI Jakarta, Ahok, kata Soloway, berhadapan dengan kelompok Islam gariskeras yang kekuatannya terus tumbuh. Karena salah mengucap, lanjut dia, Ahok didakwa atas kasus penistaan agama dan kini harus mendekam di penjara.
"Akibat kesalahannya dalam pidato kampanye, Ahok dinyatakan menista agama, kalah dalam pemilu, dan masuk penjara -- menjadikannya simbol paling menonjol dari pluralisme agama dan etnis yang kian terkepung di Indonesia," ujar Soloway.
Foreign Policy adalah majalah Amerika yang terbentuk pada 1970. Tulisannya fokus pada isu global, terkini, kebijakan domestik dan internasional. Melalui situsnya, Foreign Policy menerbitkan konten harian, sedangkan majalah dicetak enam edisi dalam setahun.
ADVERTISEMENT
Majalah yang didirikan oleh Profesor Harvard University Samuel P. Huntington ini mengantongi banyak penghargaan sejak tahun 2003. Salah satunya adalah "Overseas Press Club award for General Excellence" untuk kategori peliputan internasional terbaik pada 2012.
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan