News
·
22 Oktober 2020 14:20

Airlangga: Penanganan Corona RI Nomor 5 Dibanding Peer Countries, Terkendali

Konten ini diproduksi oleh kumparan
Airlangga: Penanganan Corona RI Nomor 5 Dibanding Peer Countries, Terkendali (265495)
Menko Perekonomian Airlangga Hartarto saat konferensi pers tentang UU Cipta Kerja di Kemenko Perekonomian, Rabu (7/10). Foto: Kemenko Perekonomian
Menko Perekonomian Airlangga Hartarto menyebutkan, target penanganan corona di Indonesia adalah keseimbangan antara kesehatan dan ekonomi. Menurutnya, sejauh ini pemerintah sudah berhasil.
ADVERTISEMENT
"Jadi penanganan COVID di kita ini 2 hal kita balance yakni penanganan COVID dan konstraksi tidak terlalu dalam. Dua-duanya kalau dibandingkan dengan peer countries kita ada di nomor 5, di bawah China, Taiwan, Korsel, dan Lithuania," kata Airlangga dalam diskusi di BNPB, Kamis (22/10).
Untuk kontraksi ekonomi Indonesia menurut Airlangga terhitung terkendali, di angka minus 5,7.
Kontraksi adalah kondisi di mana perekonomian atau nilai tambah secara menyeluruh mengalami penurunan dibanding periode sebelumnya.
Selain itu, Airlangga berpendapat angka kematian corona juga relatif terkendali.
"Tapi kontraksinya kita 5,7 minus. Kemudian confirmed fatality ratenya 3,45. Angka ini dibandingkan negara lain kita relatif terkendali. Dengan dua poin tersebut maka penanganan kita optimal," tutur dia.
ADVERTISEMENT
Sebagai informasi, angka kematian corona dunia yakni 2,85 persen. Hal ini yang membuat pemerintah terus berupaya menekan kematian, salah satunya dengan berburu vaksin.
"Untuk menambah optimal lagi, yang harus ditekan tingkat kematian. Untuk ini, mereka yang rentan, ini pentingnya vaksin. Ini menjadi prioritas pemerintah karena vaksin ini menghentikan pandemi COVID dan membantu kepercayaan publik untuk pemulihan ekonomi," Jelas Ketua Komite Penanganan COVID-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional (KPCPN) itu.
Airlangga: Penanganan Corona RI Nomor 5 Dibanding Peer Countries, Terkendali (265496)
Petugas saat memakamkan jenazah pasien virus corona di pemakaman Pondok Ranggon, Jakarta Timur. Foto: Willy Kurniawan/REUTERS