News
·
24 Februari 2021 17:27

Alasan WNI-WNA Wajib Swab Setibanya di RI: Turunkan Impor Virus dari Luar Negeri

Konten ini diproduksi oleh kumparan
Alasan WNI-WNA Wajib Swab Setibanya di RI: Turunkan Impor Virus dari Luar Negeri (3486)
Seorang warga melakukan tes cepat atau rapid test antigen di Bandara Adi Soemarmo, Boyolali, Jawa Tengah, Selasa (22/12). Foto: Aloysius Jarot Nugroho/ANTARA FOTO
Persoalan pelaku perjalanan dari luar negeri yang masuk ke Indonesia lalu didapati hasil positif corona, padahal sudah membawa surat hasil PCR negatif COVID-19 masih ramai dipersoalkan.
ADVERTISEMENT
Namun, Ketua Sub Bidang Testing Bidang Penanganan Kesehatan Satgas COVID-19, dr Budiman Bela, menuturkan pada prinsipnya seseorang masih bisa positif corona setelah menjalani tes PCR. Penyebabnya pun bisa berbagai macam, apa saja itu?
"Sebelum berangkat diperiksa di negara asal dan hasilnya negatif. Sejak mereka diperiksa itu ada kemungkinan [terinfeksi]. Jadi kalau hasilnya negatif, itu hanya hasil pemeriksaan gambarkan saat spesimen diambil. Tenggang waktu saat spesimen diambil sampai keberangkatan itu masih ada potensi terpapar terinfeksi," jelas Budiman dalam diskusi di YouTube BNPB, Rabu (24/2).
"Kalau pun dia tidak terinfeksi saat ke airport, di airport atau dalam pesawat dia masih bisa terinfeksi. Pada waktu datang, bisa saja hasilnya negatif. Itulah kebijakan ditunggu [tes swab kedua setelah] 5 hari. Dalam 5 hari itu bisa antisipasi kemungkinan kalau jadi positif," lanjutnya.
Alasan WNI-WNA Wajib Swab Setibanya di RI: Turunkan Impor Virus dari Luar Negeri (3487)
Calon penumpang pesawat mengikuti tes cepat antigen di area Terminal 2 Bandara Soekarno Hatta, Tangerang, Banten, Selasa (22/12). Foto: Fauzan/ANTARA FOTO
Maka dari itu, Budiman meminta WNI dan WNA yang masuk ke Indonesia untuk memahami prosedur kesehatan yang ditetapkan pemerintah. Yakni wajib menjalani karantina 5 hari dan dua kali tes swab PCR untuk memastikan benar-benar negatif COVID-19.
ADVERTISEMENT
Apalagi, saat ini pemerintah tengah berupaya mencegah masuknya varian baru virus corona dari luar negeri.
"Ini bicara soal menurunkan serendah-rendahnya kemungkinan impor virus dari luar negeri. Karena kita takut ada virus-virus baru yang berkembang di luar negeri, dan kita tidak ingin jenis-jenis virus baru itu masuk ke Indonesia," ungkap dia.
Di sisi lain, Budiman menekankan testing tidak hanya sebagai pencegahan masuknya virus corona baru ke Indonesia. Tetapi juga untuk mendeteksi kondisi kesehatan seseorang dan mengantisipasi terjadi perburukan.
Ia banyak menemukan orang-orang yang saat diperiksa mungkin jumlah virusnya masih sedikit, lalu tidak taat protokol kesehatan. Lantas, dalam waktu beberapa hari selanjutnya, virus berkembang lebih banyak dan akhirnya menimbulkan gejala pada orang tersebut.
Alasan WNI-WNA Wajib Swab Setibanya di RI: Turunkan Impor Virus dari Luar Negeri (3488)
suasana di terminal 3 Bandara Soetta. Foto: Angkasa Pura II
"Ada ketika di mana seseorang diperiksa, misalnya, virusnya itu jumlahnya sedikit sekali. Kadang-kadang berpendapat jumlahnya sedikit virusnya aman lalu sembuh. Tapi tidak selamanya seperti itu. Ada orang yang diperiksa virusnya sedikit, setelah 2 minggu virusnya bertambah banyak lalu muncul sesak napas," kata Budiman.
ADVERTISEMENT
"Ini kan kalau orang tersebut diketahui sedini mungkin ini menguntungkan bagi orang yang diperiksa itu sendiri. Jadi mungkin perlu diingat protokol yang dianggap lebih rumit sebenarnya memberikan keuntungan juga untuk setiap orang yang diperiksa," imbuh dia.
Terakhir, Budiman tidak memungkiri ada orang-orang yang hasil tesnya cenderung berubah cepat dari negatif jadi positif, dan sebaliknya.
"Bukan berarti pemeriksaan tidak benar. Hasil pemeriksaan seperti sudah dipublikasikan di jurnal internasional, ada kasus-kasus yang diikuti hari pertama misalnya dia negatif, besok 3 hari positif, terus nanti negatif lagi, diperiksa lagi positif. Dan sangat bervariasi dari orang ke orang," pungkasnya.