kumparan
27 November 2019 12:38

Amelia Rachim Berjaya di Dunia Internasional Lewat Desain Perhiasan

Amelia Rachim, POTRAIT
Amelia Rachim, desainer perhiasan internasional asal Indonesia. Foto: Dok. Pribadi
Nama Amelia Rachim berkibar di dunia internasional berkat kiprahnya mendesain perhiasan. Kariernya menanjak setelah jadi juara menyisihkan 3.037 desainer dari 96 negara dalam kompetisi Design Time (2011) yang digelar oleh merk BREIL asal Italia.
ADVERTISEMENT
Karya Amelia Rachim terbilang unik. Tak heran kalau pemenang Emmy Award Kristin Chenoweth hingga penyanyi Anggun C Sasmi pernah menggunakan karyanya. Perempuan kelahiran Jakarta, 27 Mei 1985 ini mampu menggabungkan gaya elegan Eropa dengan ikon-ikon khas Indonesia.
Sebut saja cincin Zamrud Khatulistiwa yang memenangi juara pertama dalam Enchanted Emerald Jewellry Design Challenge (2013) oleh jenama perhiasan kenamaan Kanada, Mejuri. Garuda Collection yang diangkat dari ikon burung garuda juga pernah menyabet Silver Award dalam gelaran A' Design Award (2015) di Italia.
 Amelia Rachim
Desain perhiasan Amelia Rachim, Zamrud Khatulistiwa. Foto: Dok. Pribadi
Tak disangka, di balik karyanya yang ‘berani berbeda’ itu Amelia Rachim kecil dikenal sebagai sosok yang pemalu. Titik balik hidupnya bermula kala ia berkenalan dengan Djarum Beasiswa Plus dan mendapat berbagai pelatihan saat bergabung sebagai Beswan Djarum. Perempuan yang akrab disapa Amel ini sedikit demi sedikit membangkitkan rasa percaya diri dalam bidang desain.
ADVERTISEMENT
Terbukti, setelah lulus dari studi di Desain Industri di Institut Teknologi Bandung (ITB), Amel nekat hijrah ke Italia. Demi mengejar cita-citanya sebagai desainer perhiasan, ia mengambil S2 di jurusan Jewelry Engineering Politecnico di Torino (POLITO). Berkat usahanya, kini Amel menetap di Italia dan bekerja dengan perusahaan perhiasan kenamaan di antaranya AMJ Design Sas., Novarank Srl., Manca Gioielli Snc., Marakò Gioiello Italiano Srl.
Amelia Rachim
Amelia Rachim, desainer perhiasan internasional asal Indonesia. Foto: Dok. Pribadi
kumparan mewawancarai Amel seputar kecintaannya mendesain perhiasan hingga cita-cita besarnya membuat jenama perhiasan sendiri. Berikut petikan wawancaranya:
Bagaimana Amel bisa jatuh cinta dalam dunia desain perhiasan?
Menurut saya mendesain perhiasan adalah salah satu proses kreatif yang paling detail. Saya sangat terobsesi dengan detail dan hal-hal kecil yang mungkin bagi kebanyakan orang 'tidak penting', bagi saya justru adalah hal yang sangat menarik.
Amelia Rachim
Amelia Rachim (kiri) menjadi pemenang dalam kompetisi desain Evolvea di Milan. Foto: Dok. Pribadi
Amel memutuskan untuk sekolah di Italia setelah lulus dari ITB. Kenapa harus Italia?
ADVERTISEMENT
Saya memang terobsesi dengan Italia sejak kecil. Tokoh idola dulu ketika saya kecil adalah Leonardo Da Vinci, saya punya buku biografi sampai komiknya. Menurut saya Italia adalah kiblatnya seni, desain dan fashion. Seniman-seniman besar lahir di sini.
Amel mengaku introvert saat kuliah, apa sebab Amel bisa menjadi lebih percaya diri dalam mengembangkan diri, terutama dalam bidang desain?
Memang saya sangat pemalu sejak kecil. Saat kuliah saya berkenalan dengan beasiswa dan teman-teman Djarum. Sejak itulah saya mulai melatih kepercayaan diri saya, khususnya lewat pelatihan soft skill yang diadakan oleh Beasiswa Djarum.
Amelia Rachim
Amelia Rachim (kiri) saat study tour Beswan Djarum ke Bandung, Kudus, dan Borobudur. Foto: Dok. Pribadi
Titik balik apa dalam hidup yang membuat Amel namanya bisa berkibar sebagai desainer perhiasan seperti sekarang?
Tahun 2009 saya lulus S2 dari Politecnico di Torino (POLITO) - Turin, jurusan Master of Jewelry Engineering. Setelah lulus saya mulai bekerja freelance untuk beberapa perusahaan. Awalnya sangat sulit mencari klien karena saya tidak mengenal siapa-siapa di sini dan bahasa Italia saya dulu masih pas-pasan.
ADVERTISEMENT
Tapi pelan-pelan saya mulai beradaptasi, belajar, dan memperluas networking. Awal 2011 saya memenangkan international design award yang diselenggarakan oleh BREIL, Milan. Lomba tersebut diikutsertakan 3.037 desainer dari 96 negara di seluruh dunia. Sejak itu karier saya mulai menanjak, mendapat berbagai tawaran kolaborasi, dan mulai dikenal oleh praktisi-praktisi Italia di bidang desain.
Saya juga sempat menjadi salah satu delegasi Italia pada seminar “China-Italia Cooperation Forum on Jewelry Design and Engineering” yang diselenggarakan oleh Kedutaan Besar Italia dan China di kota Luoyang, Henan - China. Desain saya juga mulai dikenakan artis papan atas seperti Anggun, Rachel Talbott, dan pemenang Emmy award, Kristin Chenoweth, dalam acara Oprah TV show.
Amelia Rachim
Amelia Rachim (kanan) memilihkan perhiasan untuk penyanyi Anggun C. Sasmi sebelum konser di RAI TV. Foto: Dok. Pribadi
Hal ternekat apa yang pernah Amel lakukan untuk menggapai mimpi sebagai desainer perhiasan, sebelum namanya dikenal?
ADVERTISEMENT
Hal ternekat yang pernah saya lakukan adalah stay di Italia setelah lulus S2 di Turin. Waktu itu izin tinggal saya sebagai pelajar masih tersisa beberapa bulan dan saya sempat menabung dari sisa-sisa uang beasiswa untuk melanjutkan sewa flat dan mengadu nasib di negeri orang. Saya mulai mencari kerja cuma dengan modal ijazah dan bahasa Italia pas-pasan.
Apa yang membuat seorang Amel senang kala sedang atau sudah mendesain suatu perhiasan?
Bagi saya mendesain perhiasan adalah suatu proses meditatif. Saya sudah sangat senang kalau saya bisa menyelam ke dalam desain tersebut dan mengutak-atiknya sesuai intuisi saya sendiri, tanpa diganggu siapapun.
 Amelia Rachim
Desain perhiasan Amelia Rachim, Garuda Collection. Foto: Dok. Pribadi
Amel punya motto berani berbeda, seberapa berpengaruh motto tersebut saat memutuskan sebuah desain?
ADVERTISEMENT
Motto tersebut adalah kunci utama saya dalam berkarya. Saat ini bidang desain sudah sangat dikenal, tidak seperti 10 tahun yang lalu. Sekolah desain dan desainer-desainer muda berjamuran di mana-mana. Jika tidak berani berbeda, kita akan mudah tenggelam di antara desain-desain lainnya.
Adakah sosok tertentu/spesial yang Anda harapkan untuk memakai karya Anda di kemudian hari?
Saya akan merasa sangat terhormat jika karya saya dipakai Angelina Jolie dan Ibu Susi Pudjiastuti. Menurut saya mereka adalah cerminan wanita masa kini, bukan hanya cantik namun juga berkarakter dan bervisi.
Susi Pudjiastuti pulang ke Pangandaran
Mantan Menteri Kelautan dan Perikanan, Susi Pudjiastuti, diiringi warga saat pulang ke Pangandaran, Jawa Barat. Foto: Dok. Istimewa
Saat ini, Amel di Italia bekerja di brand apa saja?
Di sini saya berkerja dengan AMJ Design Sas., Novarank Srl., Manca Gioielli Snc., Marakò Gioiello Italiano Srl. Saya juga berkolaborasi dengan Mejuri Inc. di Kanada. Sampai saat ini saya belum menjual perhiasan dengan label saya sendiri. Mungkin karena saya sangat perfeksionis, jadi kalau membuat label sendiri saya ingin yang benar-benar matang dan tidak main-main.
Amelia Rachim
Amelia Rachim (kanan) menjadi pemenang dalam kompetisi desain BREIL di Milan. Foto: Dok. Pribadi
Apakah ke depan akan membuka brand sendiri di Indonesia?
ADVERTISEMENT
Iya, itu adalah salah satu long-term vision saya. Tapi karena itu merupakan project yang sangat personal dan sentimental bagi saya, saya memilih untuk melakukannya pelan-pelan. Masih harus dimatangkan dulu idenya.
Berbagai desain Amel punya tema Indonesia, seperti Zamrud Khatulistiwa atau Garuda Collection. Ada alasan khusus mengangkat tema itu?
Saya ingin ikon Indonesia dikenal di kancah internasional. Selain itu tema tersebut berkaitan dengan saya secara sentimental, pengobat rasa rindu terhadap tanah air.
 Amelia Rachim
Desain perhiasan Amelia Rachim, Zamrud Khatulistiwa. Foto: Dok. Pribadi
Bagaimana proses kreatif mendesain produk-produk bernuansa Indonesia tersebut?
Sampai saat ini saya hanya mengandalkan internet untuk menemukan materi-materi yang saya butuhkan, proses kreatif yang paling utama adalah menggunakan intuisi dan perasaan.
Harapan/cita-cita apa yang ingin diwujudkan ke depan sebagai seorang desainer perhiasan?
ADVERTISEMENT
Semoga Indonesia semakin maju, melahirkan desainer-desainer muda berbakat dan lebih dikenal di dunia.
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan