Anggota Komisi II Dukung KPU Sederhanakan Surat Suara: Memudahkan Pemilih

22 November 2021 16:07
·
waktu baca 3 menit
sosmed-whatsapp-white
copy-link-circle
more-vertical
Simulasi pemungutan dan penghitungan suara pada acara Penyederhanaan Desain Surat Suara Pemilu Serentak 2024 oleh KPU di Manado, Sulut, Sabtu (20/11) Foto: Youtube/KPU RI
zoom-in-whitePerbesar
Simulasi pemungutan dan penghitungan suara pada acara Penyederhanaan Desain Surat Suara Pemilu Serentak 2024 oleh KPU di Manado, Sulut, Sabtu (20/11) Foto: Youtube/KPU RI
ADVERTISEMENT
Anggota Komisi II DPR RI, Zulfikar Arse Sadikin, mendukung KPU untuk menyederhanakan surat suara Pemilu 2024. Rencananya, lima surat suara yang dipakai pada pemungutan suara akan disederhanakan dalam dua atau tiga surat suara saja.
ADVERTISEMENT
“Saya senang dengan apa yang dilakukan KPU. Itu terobosan dan ikut membantu memudahkan pemilih. Yang kedua, ikut mempercepat proses penghitungan suara, yang itu semua akan berdampak pada banyaknya voter turnout yang lebih baik, menghilangkan suara tidak sah. Kita semua jadi lebih cepat mengetahui hasil pemilu,” ujarnya kepada kumparan, Senin (22/11).
Namun, terdapat tantangan dalam menerapkan penyederhanaan tersebut, salah satunya mengenai regulasi. Zulfikar menyebutkan bahwa Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2017 mengatur adanya lima surat suara yang terdiri dari pasangan calon Presiden dan Wakil Presiden, anggota DPR, DPD, DPRD provinsi, dan DPRD Kabupaten/Kota.
“Perlu didiskusikan apakah memang semua pihak setuju? Sebab dalam Undang-Undang tertulis jelas dan tegas bahwa surat suara itu [ada] lima,” sebut dia.
Contoh surat suara yang digunakan pada Pilpres 2019. Foto: Iqbal Firdaus/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Contoh surat suara yang digunakan pada Pilpres 2019. Foto: Iqbal Firdaus/kumparan
Ia mengungkapkan bahwa Komisi II DPR RI sudah berupaya untuk merevisi UU tersebut, tetapi hal tersebut tidak terwujud.
ADVERTISEMENT
“Dulu kita [DPR] ada upaya merevisi Undang-Undang tersebut. Kalau memang kita bisa pemilu nasional dan lokal, surat suara nasional: presiden, DPR, dan DPD bisa dijadikan satu surat suara dalam rangka memperoleh hasil yang maksimal [dan mewujudkan] keserentakan pemilu,” jelasnya.
Walau terdapat perbedaan dalam UU, Zulfikar menganggap penyederhanaan surat suara tetap bisa dilakukan apabila terdapat kesepakatan dari pemerintah, DPR, dan penyelenggara pemilu. Terlebih penyederhanaan yang dilakukan KPU bertujuan dan berdampak baik bagi penyelenggaraan pemilu.
“Tanpa Undang-Undang juga tidak apa-apa. Kalau kita sepakat, stakeholder terutama DPR, KPU dan Bawaslu sebagai penyelenggara, lalu pemerintah-Kemendagri. Tetapi ada pandangan hukum lain soal itu, kan,” katanya.
“Saya selalu bilang, di tengah membentuk Undang-Undang, [DPR] sepakat untuk tidak mengubah UU Pemilu dan Pilkada. Lalu untuk mengatasi banyak persoalan itu harus dilakukan dengan terobosan, sementara terobosan itu, walaupun baik dan tepat, tidak jarang berbenturan dengan norma di Undang-Undang. Kalau saya di rapat kerja selalu sampaikan, saya, sih, tidak apa-apa, ini yang harus kita lakukan,” tandas Zulfikar.
ADVERTISEMENT
Sebelumnya, KPU melaksanakan simulasi penghitungan surat suara Pemilu Serentak 2024 di Manado, Sulawesi Utara, Sabtu (20/11). Simulasi ini dilakukan menyusul rencana penyederhanaan desain surat suara.
KPU menggagas penyederhanaan desain surat suara untuk Pemilu 2024 mendatang. Terdapat dua model, yaitu tiga surat suara dan dua surat suara.
Pada model tiga surat suara, pemilih mendapat tiga surat suara berupa: surat suara pemilihan Presiden/Wapres dan DPR RI; surat suara pemilihan DPD; dan surat suara pemilihan DPRD Provinsi dan DPRD Kabupaten/Kota.
Sedangkan pada model dua surat suara, pemilih mendapat dua surat berupa: surat suara pemilihan Presiden/Wapres, DPR RI, DPRD Provinsi dan DPRD Kabupaten/Kota; serta surat suara pemilihan DPD.
Baca Lainnya
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020