Antisipasi Korban Banjir, Warga di Bantaran Sungai di Manado akan Direlokasi

29 Januari 2023 22:44
·
waktu baca 2 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-link-circle
more-vertical
Kepala BWS Sulawesi 1 Manado I Komang Sudana (kiri), Walikota Manado Andrei Angouw (tengah), Direktorat Sungai dan Pantai Bob Arthur Lambogia (kanan) di Bendungan Kuwil Kawangkoan, Manado, Minggu (29/1/2023). Foto: Zamachsyari/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Kepala BWS Sulawesi 1 Manado I Komang Sudana (kiri), Walikota Manado Andrei Angouw (tengah), Direktorat Sungai dan Pantai Bob Arthur Lambogia (kanan) di Bendungan Kuwil Kawangkoan, Manado, Minggu (29/1/2023). Foto: Zamachsyari/kumparan
Wali Kota Manado Andrei Angouw berencana merelokasi warga yang tinggal di bantaran sungai di Kota Manado. Ini untuk meminimalisir korban banjir seperti yang terjadi pada Jumat (27/1) lalu.
"Upaya utama kita pindahkan [yang tinggal di bantaran sungai] grand strateginya pemerintah harus menyediakan tempat tinggal, rusun, di Pandu kan sudah ada rumah," kata Andrei kepada wartawan di Bendungan Kuwil Kawangkoan, Manado, Minggu (29/1).
Andrei menjelaskan, relokasi rumah untuk masyarakat yang tinggal di bantaran sungai sudah disiapkan oleh pemerintah.
"Relokasi rumah sudah ada, tinggal didorong dan tegas. Saya mohon dukungan dari masyarakat jangan tinggal di bantaran pasti cerita ini [Bencana banjir] akan terulang lagi," ucapnya.
Lebih lanjut, Andrei menjelaskan, rumah hunian yang telah disediakan pemerintah di daerah Pandu ada lebih dari 2000. Namun, baru sedikit yang ditempati.
"Di Pandu itu rumah, ada 2.000 lebih rumah, yang tinggal sekarang baru 400-500. Kita juga lagi melengkapi fasilitas disana, pemkot sudah menyediakan transportasi umum buat kesana, memang rada jauh tapi akan kita benahi," ujar Andrei.
Andrei menjelaskan, relokasi masyarakat yang tinggal di bantaran sungai akan menjadi program prioritas pemkot untuk meminimalisasi apabila terjadi bencana banjir.
"[Relokasi] Akan jadi program prioritas pemkot apalagi dengan keadaan barusan kita sudah koordinasi dengan BNPB karena yang bangun itu BNPB tahun 2015 karena banjir 2014, kita sudah koordinasi dan benahi supaya masyarakat mau tinggal di sana," tandas dia.
Sebelumnya, curah hujan dengan intensitas maksimum 300 mm pada 7 pos pengamatan yang berbeda, melanda sebagian wilayah Sulawesi Utara , khususnya Kota Manado, sejak Jumat (27/1) dini hari sampai pukul 15.30 WITA.
Curah hujan ekstrem tersebut mengakibatkan meluapnya Sungai Mahawu, Sungai Bailang dan Sungai Tikala. Sementara luapan air dari Sungai Tondano menurun signifikan pasca pengoperasian Bendungan Kuwil Kawangkoan di Kabupaten Minahasa yang baru saja diresmikan Presiden Jokowi pada, Kamis (19/1) lalu.
Staf Ahli Menteri PUPR Bidang Teknologi, Industri dan Lingkungan sekaligus Juru Bicara Kementerian PUPR Endra S. Atmawidjaja mengatakan, saat terjadi hujan deras, debit sungai Tondano pada dasarnya dapat dikendalikan dengan mengoperasikan Bendungan Kuwil Kawangkoan, seperti dengan menutup pintu dan holocon.
"Namun intensitas curah hujan yang tinggi tadi menyebabkan luapan air pada pertemuan Sungai Tondano dan Sungai Tikala. Keduanya berada di hilir Bendungan Kuwil Kawangkoan. Selain itu terjadi penyumbatan pada saluran drainase Kota Manado dan anak Sungai Tondano," kata Endra dalam keterangannya, Minggu (29/1).
Baca Lainnya
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
0 Suka·0 Komentar·
01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
0 Suka·0 Komentar·
01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
0 Suka·0 Komentar·
01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
0 Suka·0 Komentar·
01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
0 Suka·0 Komentar·
01 April 2020