kumparan
News6 Mei 2020 18:39

Aparat Diminta Jaga Objek Vital Negara Cegah Aksi Teroris di Masa Pandemi Corona

Konten Redaksi kumparan
Ilustrasi Densus 88
Ilustrasi Densus 88 Foto: MN Kanwa/ANTARA
Pandemi virus corona ternyata tak menyurutkan pergerakan jaringan teroris di Indonesia. Hal tersebut tercermin dengan adanya penangkapan sejumlah terduga teroris di berbagai daerah pada bulan Maret hingga April.
ADVERTISEMENT
Direktur The Indonesia Intelligence Institute, Ridwan Habib, menilai pemerintah dan aparat keamanan harus memberi perhatian besar terhadap potensi ancaman terorisme. Aparat harus optimal menjaga objek vital negara agar tak menjadi sasaran empuk teroris.
“Apa yang mesti dimitigasi, saya kira pertama adalah mitigasi objek vital nasional. Karena biasanya kelompok seperti JAD (Jemaah Ansharut Daullah) misalnya, menyerang simbol. Toghut mereka sebut, sesuatu yang boleh diserang,” ungkap Ridwan dalam diskusi bertajuk ‘Waspada Kejahatan Terorisme di Era Corona’ yang digelar forum SekalilagiID, Rabu (6/5).
Ridwan menyebut akhir-akhir ini secara intensif mendiskusikan kemungkinan-kemungkinan ancaman terorisme di tengah pandemi corona. Pihaknya menilai ada potensi teroris bergerak.
“Kenapa tema ini menjadi salah satu subjek kami diskusikan intensif. Karena saya kira teroris ini tidak mengenal apa yang kita sebut work from home (WFH). Sehingga kita juga harus selalu melakukan persiapan mewaspadai kemungkinan-kemungkinan,” ujarnya.
Ilustrasi Teroris.
Ilustrasi Teroris Foto: Shutter Stock
Ia pun mendorong pemerintah untuk melakukan antisipasi lainnya agar tidak ada aksi terorisme di masa pandemi. Ridwan mengingatkan agar para eks napiter juga diperhatikan pemerintah secara lebih optimal.
ADVERTISEMENT
Ridwan menilai, jika tidak diperhatikan dengan baik, bisa saja para eks napiter yang saat ini terjebak dalam situasi sulit kembali bergabung ke jaringan teroris.
“Ini yang berat, penggalangan terhadap eks napiter. Banyak yang sudah selesai di lapas,tapi hari ini nasib mereka terkatung-katung. Ada tekanan ekonomi, harus hidupi anak istri kedua stigmatisasi sosial masyarakat. Akibatnya yang terjadi mereka rata-rata kemudian memilih pulang, kembali ke jejaring mereka sebelumnya,” kata Ridwan.
Potensi ancaman terorisme di masa pandemi corona sebelumnya dibahas dalam suatu forum diskusi oleh Direktur Pencegahan BNPT Brigjen Pol Hamli dan mantan narapidana terorisme, Sofyan Tsauri.
Hamli menilai media sosial menjadi ranah yang harus diwaspadai masyarakat karena narasi teror saat ini bergerak secara online. Sehingga, masyarakat yang tak waspada bisa ikut termakan pemahaman terorisme.
ADVERTISEMENT
Sementara itu, Sofyan Tsauri mengklaim melihat adanya indikasi pergerakan terorisme itu di berbagai media komunikasi sosial. Katanya, para jihadis melihat peluang bisa menebarkan teror atau ideologi terorisme saat adanya krisis akibat corona.
Di saat masyarakat kelaparan, kata Sofyan, teroris berpeluang berkembang.
“Seandainya saya seorang jihadis, karena pernah mantan, file itu di kepala itu masih ada. Dan situasi seperti ini memang ditunggu-tunggu kalangan jihadis. Karena memang pemikiran-pemikiran kekerasan ini, teroris, tidak akan bisa berkembang, tidak akan bisa hidup dalam kondisi misalnya perut kenyang,” ungkap Sofyan.
(Simak panduan lengkap corona di Pusat Informasi Corona)
*****
Yuk! bantu donasi atasi dampak corona.
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan