News
·
9 September 2020 16:55

Arteria Dahlan: Tidak Benar Saya Cucu Seorang Tokoh PKI

Konten ini diproduksi oleh kumparan
Arteria Dahlan: Tidak Benar Saya Cucu Seorang Tokoh PKI (213563)
Politikus PDI Perjuangan, Arteria Dahlan. Foto: Aditia Noviansyah/kumparan
Politikus PDIP, Arteria Dahlan, menjadi sorotan hingga jadi trending topic di Twitter setelah diskusi membahas polemik pernyataan Ketua DPR Puan Maharani soal Pancasila di Sumatera Barat.
ADVERTISEMENT
Dalam diskusi Indonesia Lawyers Club (ILC) tvOne, Selasa (8/9) malam, tokoh pers Sumatera Barat (Sumbar) Hasril Chaniago, yang hadir dalam diskusi itu menyebut Arteria adalah cucu pendiri PKI di Sumatera Barat, Bachtaruddin.
Saat itu, Arteria tidak langsung membantah. Namun, dalam rilis yang dibagikan sore ini, Arteria membantah kakeknya adalah pendiri PKI di Sumbar.
"Tidak benar saya cucu seorang tokoh PKI. Kakek-nenek saya termasuk ayah ibu saya berasal dari Maninjau, Kabupaten Agam, Sumbar," kata Arteria, Rabu (9/9).
"Memang ada tokoh PKI dari Maninjau bernama Bakhtarudin. Tidak ada hubungan kekeluargaan antara Bakhtarudin dengan kakek dan nenek saya, baik dari pihak ayah maupun ibu."
- Arteria Dahlan
Arteria Dahlan: Tidak Benar Saya Cucu Seorang Tokoh PKI (213564)
Arteria Dahlan, anggota DPR RI Fraksi PDIP. Foto: Helmi Afandi Abdullah/kumparan
Dia lantas menjelaskan dengan rinci latar belakang keluarganya. Termasuk asal usul kakek hingga neneknya dari pihak ibu. Kakeknya merupakan seorang pedagang, sementara neneknya sebagai ibu rumah tangga.
"Kakek saya dari pihak ibu H. Wahab Syarif, seorang pedagang textile di Tanah Abang, masuk Jakarta tahun 1950. Tempat berlabuhnya para perantau Minang saat tiba di Jakarta sebelum mereka memiliki rumah sendiri," ujar Arteria.
ADVERTISEMENT
"Nenek saya Hj. Lamsiar, ibu rumah tangga biasa, yang melahirkan 7 anak, 6 jadi pedagang di Tanah Abang dan satu berprofesi guru yaitu Hj. Wasniar (guru SD Perguruan Cikini lalu menjadi guru tata boga di SMKN 30 Pakubuwono Jaksel), yaitu ibunda saya," lanjut anggota DPR mewakili dapil Jatim VI ini.
Sementara, kakek dan neneknya dari pihak ayah pun tak jauh berbeda. Keduanya berprofesi sebagai pedagang dan guru. Tak ada jejak komunis sama sekali di keluarganya.
"Kakek Arteria Dahlan dari pihak ayah bernama H. Dahlan bin Ali, pedagang di Sumatera Barat. Nenek saya bernama Hj. Dahniar Yahya atau biasa disebut Ibu Nian, tokoh Masyumi, satu-satunya guru mengaji di Kukuban, Maninjau, lebih dari 50 tahun lamanya sampai tahun 1983," kata Arteria.
ADVERTISEMENT
Sebagai guru ngaji 3 generasi, seluruh orang Maninjau di Kukuban pernah mengaji ke neneknya. Ibu Nian juga pernah ditahan pemerintahan Sukarno karena diduga terlibat Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia (PRRI) saat itu.
"Ayah saya H. Zaini Dahlan, guru di beberapa SMA dan ketua salah satu yayasan pendidikan swasta. Pernah mendaftar Akpol, itu pun pada tes terakhir ditolak karena terindikasi Masyumi dan PRRI," ujar Arteria.
Ayahnya lama di Yogya karena sempat kuliah di Farmasi UGM, sempat pula mengajar di SMA Muhammadiyah Yogyakarta. "Jujur, ayah korban politik Orde Lama," pungkasnya.