AS dan Australia Perkuat Kerja Sama demi Meredam Aktivitas Militer China

kumparanNEWSverified-green

·waktu baca 2 menit

comment
1
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Latihan militer AS tahunan di pantai kota San Antonio, menghadap Laut China Selatan. Foto: TED ALJIBE/AFP
zoom-in-whitePerbesar
Latihan militer AS tahunan di pantai kota San Antonio, menghadap Laut China Selatan. Foto: TED ALJIBE/AFP

Kementerian Pertahanan Australia dan Amerika Serikat (AS) telah bertekad akan melawan kegiatan militer China yang menurut mereka dapat membawa 'destabilisasi' pada Senin (5/12).

Pernyataan ini diungkap usai pertemuan Menhan AS, Lloyd Austin, dengan Menhan Australia, Richard Marles. Keduanya sepakat akan memperdalam hubungan pertahanan, termasuk kerja sama teknologi.

China merupakan pasar teratas untuk ekspor bijih besi dan mitra dagang terbesar bagi Australia. Tetapi, Canberra semakin merisaukan ambisi militer Beijing di Pasifik Selatan. Pasalnya, China mencapai pakta keamanan dengan Kepulauan Solomon pada April.

Langkah menuju normalisasi hubungan kemudian ditempuh dengan pertemuan Perdana Menteri Australia, Anthony Albanese, dan Presiden China, Xi Jinping di KTT G20 pada November lalu.

Tetapi, diplomat Australia meyakini bahwa langkah ini tidak akan membawa perubahan dalam kebijakan pertahanan Canberra.

Menteri Pertahanan AS Lloyd Austin berbicara selama pertemuan dengan anggota Kelompok Konsultasi Keamanan Ukraina di Pangkalan Udara AS di Ramstein, Jerman barat. Foto: ANDRE PAIN / AFP

Austin dan Marles bertemu di Pentagon AS, Washington, pada Senin (5/12). Agenda tersebut merupakan bagian dari pembicaraan tahunan Konsultasi Tingkat Menteri Australia-AS (AUSMIN). Menteri luar negeri kedua negara juga akan bertemu pada Selasa (6/12).

Menteri Pertahanan Inggris, Ben Wallace, kemudian akan bergabung dalam pertemuan tatap muka pertama para menteri AUKUS pada Rabu (7/12). AUKUS merupakan pakta keamanan trilateral antara Australia, Inggris, dan AS yang terbentuk pada September 2021.

Melalui pakta tersebut, AS dan Inggris membantu pengiriman dan pengembangan teknologi kapal selam bertenaga nuklir bagi Australia. Mereka juga mengerahkan militer Barat di kawasan Pasifik.

Menteri Pertahanan Australia Richard Marles saat konferensi pers bersama di Kementerian Pertahanan di Tokyo, Jepang, Rabu (15/6/2022). Foto: Shuji Kajiyama/Pool/AFP

Pertemuan AUKUS datang pada masa yang kritis bagi para mitra ini. Sebab, mereka harus memutuskan apakah kapal selam untuk Australia akan berasal dari Inggris atau AS. Negara-negara ini juga harus menetapkan rencana lebih lanjut terkait armada Australia.

Australia mengatakan, pihaknya membutuhkan kemampuan siluman atau kasar radar serta kemampuan jarak jauh dari kapal selam bertenaga nuklir. Kapal ini akan membawa senjata konvensional.

Pekan lalu, Kemhan AS merilis laporan terkait tentang China. AS menuduh, Beijing melakukan dorongan diplomatik untuk mengkritik dan menumbangkan AUKUS. Canberra menambahkan, Perjanjian Non-Proliferasi (NPT) tidak melarang propulsi kelautan nuklir.

"Pejabat [China] secara tidak akurat membingkai AUKUS sebagai tindakan proliferasi nuklir," tulis laporan Kemhan AS, dikutip dari Reuters, Selasa (6/12).