kumparan
9 Jan 2019 9:48 WIB

Australia Pertimbangkan Permintaan Suaka Wanita Asal Saudi

Seorang remaja putri asal Arab Saudi, Rahaf Mohammed al-Qunun, saat bertemu dengan petugas imigrasi di hotel Bandara Suvarnabhumi, Bangkok, Thailand. (Foto: Reuters)
Pemerintah Australia mengungkapkan akan "mempertimbangkan baik-baik" permintaan suaka yang diajukan Rahaf Mohammed Al-Qunun, gadis berusia 18 tahun asal Arab Saudi yang tertangkap di Thailand.
ADVERTISEMENT
Qunun ditangkap di Bandara Suvarnabhumi, Bangkok, Minggu lalu karena dokumen perjalanannya tidak lengkap. Ia kabur dari keluarganya karena disiksa secara fisik dan mental, dan berencana mencari suaka di Australia karena takut akan dibunuh oleh keluarganya jika dipulangkan oleh imigrasi Thailand.
Pada Senin (7/1) lalu, ia diizinkan meninggalkan bandara untuk mendapat perlindungan dari agensi pengungsi PBB. Sementara itu, pemerintah Australia pada Selasa (8/1) mengungkapkan kemungkinan untuk mengabulkan status pengungsi Qunun.
Seorang remaja putri asal Arab Saudi, Rahaf Mohammed al-Qunun, saat bertemu dengan petugas imigrasi di hotel Bandara Suvarnabhumi, Bangkok, Thailand. (Foto: Reuters)
"Aplikasi apapun yang diajukan Al-Qunun untuk visa kemanusiaan akan dipertimbangkan dengan baik setelah proses di UNHCR selesai," kata seorang pejabat Departemen Dalam Negeri seperti dilansir AFP, Rabu (9/1).
Di Jenewa, juru bicara badan pencari suaka PBB, UNHCR, Babar Baloch mengatakan proses untuk "klaim suaka Qunun telah dimulai" dan bisa memakan waktu beberapa hari.
Seorang remaja putri asal Arab Saudi, Rahaf Mohammed al-Qunun, saat bertemu dengan petugas imigrasi di hotel Bandara Suvarnabhumi, Bangkok, Thailand. (Foto: Reuters)
Saat ditangkap di Bandara Suvarnabhumi, Qunun menarik perhatian karena membarikade diri di kamar hotel bandara karena menolak dideportasi dengan alasan takut dibunuh jika dipulangkan. Atas dasar itu pula, badan imigrasi Thailand batal memulangkan Qunun.
ADVERTISEMENT
Kasus ini terjadi di tengah kecaman dunia terhadap Saudi akibat pembunuhan Jamal Khashoggi. Saudi sebelumnya juga dikritik karena penangkapan aktivis perempuan yang memprotes kebijakan kerajaan.
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan