Kumparan Logo
Chaeurdin atau Babe Idin
Chaeurdin atau Babe Idin, pengolah sampah dan pegiat lingkungan bantaran Kali Pesanggrahan, Lebak Bulus.

Babe Idin, Pendekar Betawi yang Basmi Sampah di Kali Pesanggrahan

kumparanNEWSverified-green

comment
3
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Chaeurdin atau Babe Idin, pengolah sampah dan pegiat lingkungan bantaran Kali Pesanggrahan, Lebak Bulus. Foto: Andesta Herli Wijaya/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Chaeurdin atau Babe Idin, pengolah sampah dan pegiat lingkungan bantaran Kali Pesanggrahan, Lebak Bulus. Foto: Andesta Herli Wijaya/kumparan

Tak banyak orang yang mengenal Chaeurdin atau akrab disapa Babe Idin (65). Babe Idin memang bukan seorang pejabat, ia hanya seseorang yang rela memunguti sampah di bantaran Kali Pesanggrahan, Lebak Bulus, Jaksel, sejak 1986.

Selama ini, Babe Idin mengelola sampah di Kali Pesanggrahan menjadi berbagai produk bernilai. Atas aksinya ini, Babe Idin dikenal sebagai aktivis lingkungan. Tentu, aksinya ini perlu diacungi jempol dan menjadi pembelajaran masyarakat dalam menjaga lingkungan.

Pria asli Betawi ini merupakan pembina Kelompok Tani Lingkungan Hidup (KTLH) Sangga Buana di Lebak Bulus. Kelompok ini berfokus pada pengolahan sampah dan menghijaukan kawasan pinggiran Kali Pesanggrahan.

Chaeurdin atau Babe Idin, pengolah sampah dan pegiat lingkungan bantaran Kali Pesanggrahan, Lebak Bulus. Foto: Andesta Herli Wijaya/kumparan

KTLH Sangga Buana binaan Babe Idin dijalankan puluhan anggota. Mereka bekerja di bidang pengolahan sampah dan penelitian biologi untuk mendukung sistem pertanian organik di hutan pinggiran kali.

Selain itu, kelompok Babe Idin ini juga menjalankan kerja sosial untuk membantu masyarakat saat banjir. Untuk kerja ini, Babe Idin dibantu anak-anak muda dari berbagai kelompok kegiatan, yang mempunyai kemampuan khusus dalam penyelamatan dan evakuasi korban banjir.

Kelompok Babe Idin itu juga telah berjasa dalam menghijaukan 120 hektare lahan pinggiran kali di Jakarta, Bogor, dan Banten. Lewat pengelolaan ini, lahan pinggiran Kali Pesanggrahan disulap menjadi hutan bambu, lahan dengan berbagai tanaman, dan lahan peternakan lebah madu.

Sementara itu, sampah-sampah yang ditemukan di kali, khususnya sampah organik dikelola menjadi pupuk dan kompos.

Pusat pengolahan sampah KTLH Sangga Buana Lebak Bulus. Foto: ndesta Herli Wijaya/kumparan

Babe Idin mempelajari seputar pengolahan sampah berpuluh tahun lamanya. Dari itu, ia mengetahui bagaimana sampah bisa menjadi pupuk organik, bahan batako, hingga pakan hewan ternak.

“Setiap hari itu ada kurang-lebih 10 truk sampah kita tampung di sini. Dari macam-macam, ada dari Depok, dari (stasiun) MRT (Lebak Bulus), macam-macam. Jenisnya macam-macam, plastik, kayu, kaca, kain hingga logam,” ungkap Babe Idin saat ditemui di pusat pengolahan sampah di Karang Tengah, Lebak Bulus, Sabtu (4/1).

Selain itu, Babe Idin juga mengerahkan timnya untuk menyisir sampah di sepanjang bantaran Kali Pesanggrahan. Dengan menggunakan motor atau perahu mesin, timnya mengumpulkan sampah yang hanyut atau menumpuk di bantaran kali.

Pusat pengolahan sampah KTLH Sangga Buana Lebak Bulus. Foto: Andesta Herli Wijaya/kumparan

Sampah-sampah itu kemudian dipilah berdasarkan jenisnya dan diolah berdasarkan peruntukannya.

“Kayak besi-besi logam, itu bisa dibikin parang, pisau, macam-macam. Ada yang bisa jadi batako, rencananya nanti kita bikin batako. Yang lainnya lagi difermentasi, lalu yang jadi pupuk organik,” ucap Babe Idin.

“Jadi gitu, sampah jadi pupuk, jadi tanaman kopi, itu (pohon nangka) sampah, itu (madu) lebah juga dari sampah. Itu lebahnya khusus, cuma mau di pohon yang (dipupuk) dari sampah,” tuturnya lagi.

Pusat pengolahan sampah KTLH Sangga Buana Lebak Bulus. Foto: Andesta Herli Wijaya/kumparan

Babe Idin menjelaskan, pengolahan sampah yang ia lakukan selama ini sejalan dengan perawatan hutan pinggiran kali.

Di hutan tersebut, ia bersama beberapa volunter menerapkan sistem pertanian organik, yang seratus persen memakai sampah sebagai pupuk tanaman kopi, nangka, dan bambu.

“Sampah itu pupuk yang tidur,” kelakar Babe Idin.

Chaeurdin atau Babe Idin, pengolah sampah dan pegiat lingkungan bantaran Kali Pesanggrahan, Lebak Bulus. Foto: Andesta Herli Wijaya/kumparan

Kerja panjang Babe Idin dalam pengolahan sampah dan penyelamatan lingkungan bantaran Kali Pesanggrahan adalah kerja sunyi. Ia bergerak secara mandiri bersama timnya.

Babe Idin kecewa dengan pemerintah yang tak becus mengurusi persoalan sampah di Jakarta. Ia mengatakan, sampah harus terus diurus setiap waktu, bukan hanya ketika ada proyek atau dibahas dalam seminar-seminar. Namun membutuhkan aksi nyata.

“Sampah ya dikerjakan. Bukan diomongin di seminar-seminar doang. Apa itu bank sampah, enggak kasih solusi itu, ngomong doang,” ketus penerima Kalpataru 2013 dari Presiden SBY ini.

kumparan post embed