News
·
10 November 2020 20:19

Bahu-membahu Tingkatkan Kualitas Udara DKI Lewat Jakarta Clean Air Partnership

Konten ini diproduksi oleh kumparan
Bahu-membahu Tingkatkan Kualitas Udara DKI Lewat Jakarta Clean Air Partnership (55472)
Foto udara suasana kawasan Bundaran Senayan di Jakarta. Foto: ANTARA FOTO/Hafidz Mubarak A
Pemprov DKI Jakarta terus berupaya meningkatkan kualitas udara Jakarta menjadi lebih baik. Demi mewujudkan itu, Pemprov DKI berkolaborasi dengan Bloomberg Philanthropies dan Vital Strategies bertajuk Jakarta Clean Air Partnership.
ADVERTISEMENT
Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan menjelaskan, program ini dibentuk untuk mengatasi polusi udara di Jakarta melalui peningkatan ketersediaan dan penggunaan data kualitas udara, analisis solusi kebijakan, dan efektivitasnya, serta mempromosikan kesadaran publik tentang dampak polusi udara terhadap kesehatan.
"Polusi udara merupakan masalah yang kompleks, membutuhkan pendekatan multi sektoral dan perlu bagi kita untuk menjalin kerja sama baik internasional maupun domestik. Karena masalah polusi udara ini semakin mendesak, terlebih di masa pandemi COVID-19," ujar Anies, Selasa (10/11).
Bahu-membahu Tingkatkan Kualitas Udara DKI Lewat Jakarta Clean Air Partnership (55473)
Foto udara kendaraan melintas di kawasan Jalan Jenderal Sudirman, Jakarta, Minggu (11/10). Foto: Galih Pradipta/ANTARA FOTO
Dia menyebut udara bersih merupakan prioritas bagi masyarakat Jakarta. Sehingga perlu penanganan secara komprehensif.
"Kami bangga dapat bermitra dengan Bloomberg Philanthropies dan Vital Strategies untuk menjadikan udara bersih sebagai prioritas bagi masyarakat Jakarta," tuturnya.
ADVERTISEMENT
Lebih lanjut, Anies menerangkan, kerja sama ini akan fokus pada peningkatan kualitas udara di Jakarta selama 2 tahun ke depan. Sebagai bentuk komitmen kerja sama, telah ditandatangani dokumen 'Menuju Udara Bersih Jakarta' yang memuat upaya-upaya saat ini untuk mengurangi polusi udara dan serangkaian rekomendasi kebijakan.
"Dokumen ini merupakan perjanjian formal yang akan mengingatkan kita pada pilar-pilar utama dalam rangka pengendalian polusi udara dalam 3 aspek, yaitu ilmu pengetahuan, kebijakan, dan komunikasi," kata dia.
Dalam program ini, Pemprov DKI juga akan bekerja bersama para mitra dari berbagai pemangku kepentingan lokal dan internasional. Kerja sama ini akan melibatkan kalangan akademisi, lembaga swadaya masyarakat, lembaga wadah pemikir (think-tank), dan masyarakat sipil.
ADVERTISEMENT
Untuk melengkapi program ini, Pemprov juga meluncurkan website https://jakarta.cleanair.id/ untuk menyajikan informasi berbasis bukti kepada warga Jakarta terkait sumber, dampak, dan solusi polusi udara.
Sementara itu, pendiri Bloomberg Philanthropies dan Bloomberg LP, Michael R. Bloomberg, mengatakan, kualitas udara tak hanya berdampak pada kesehatan warga, tapi juga dengan pertumbuhan ekonomi. Maka itu untuk menyelesaikan permasalahan polusi harus mengetahui sumber pencemaran untuk kemudian dibentuk langkah kebijakan pengurangan polusi.
“Ketika saya jadi Wali Kota New York, kami melihat bahwa udara bersih tidak hanya meningkatkan kesehatan publik, hal ini juga meningkatkan pertumbuhan ekonomi dan keberlanjutan lingkungan. Mengelola tantangan seperti polusi udara, membutuhkan kemampuan untuk mengetahui sumbernya,” ucap Bloomberg.
“Dan, bersama-sama, kita bekerja untuk membangun contoh yang dapat digunakan kota-kota lain di Asia dan kota lainnya,” lanjutnya.
Bahu-membahu Tingkatkan Kualitas Udara DKI Lewat Jakarta Clean Air Partnership (55474)
Foto aerial kendaraan melintas di Tol Cawang-Grogol, Jakarta, Minggu (11/10/2020). Foto: GALIH PRADIPTA/ANTARA FOTO
Vice President of the Environmental Health Division Vital Strategies, Daniel Kass mengatakan, tidak ada perbaikan instan untuk meningkatkan kualitas udara. Maka diperlukan rancangan strategis melalui ilmu pengetahuan dan komunikasi yang solid untuk bisa membuahkan hasil.
ADVERTISEMENT
“Kita memulainya dari mengetahui lebih dalam tentang sumber pencemar, dampak kesehatan dan sosial pada masyarakat, juga potensi manfaat dari pengurangan emisi suatu sektor sangat penting untuk mencari solusi yang lebih baik dan hemat biaya. Kami senang berkolaborasi dengan Pemprov DKI," ungkapnya.
Sementara Kepala Dinas Lingkungan Hidup Provinsi DKI Jakarta, Andono Warih, menilai memang dibutuhkan kerja sama dan kolaborasi dalam mewujudkan udara Jakarta yang lebih bersih.
"Pengelolaan kualitas udara akan lebih optimal bila dilakukan secara terpadu dengan mengkombinasikan regulasi, kesadaran serta peningkatan kapasitas dan kemitraan dari pemangku kepentingan termasuk akademisi, masyarakat maupun NGO untuk sama-sama berkontribusi meningkatkan kualitas udara. Ini bukti komitmen kita untuk udara Jakarta yang lebih bersih," ujar Andono.
Bahu-membahu Tingkatkan Kualitas Udara DKI Lewat Jakarta Clean Air Partnership (55475)
Foto udara suasana kawasan Bundaran Senayan di Jakarta. Foto: ANTARA FOTO/Hafidz Mubarak A
Untuk diketahui, Pemprov DKI Jakarta telah mengesahkan Peraturan Gubernur Nomor 66 Tahun 2020 tentang Uji Emisi Gas Buang Kendaraan Bermotor pada bulan Juli 2020. Saat ini Pemprov tengah menyusun revisi terkait Baku Mutu Emisi Sumber Tidak Bergerak dan revisi ISPU dengan memasukkan parameter PM2,5 didalam perhitungan.
ADVERTISEMENT
Kemudian pada bulan Agustus 2019 lalu, Pemprov DKI juga mengeluarkan Instruksi Gubernur Nomor 66 tentang Pengendalian Kualitas Udara, ada terdapat 7 (tujuh) aksi untuk mengendalikan pencemaran udara, yaitu:
1. Memastikan usia kendaraan angkutan umum tidak lebih dari 10 tahun dan lulus uji emisi serta melakukan peremajaan seluruh angkutan umum melalui program Jak Lingko pada tahun 2020.
2. Perluasan kebijakan ganjil genap dan peningkatan tarif parkir di wilayah yang terlayani angkutan umum massal pada 2019, serta penerapan kebijakan congestion pricing yang dikaitkan pada pengendalian kualitas udara pada tahun 2021.
3. Memperketat ketentuan uji emisi bagi seluruh kendaraan pribadi dan memastikan tidak ada kendaraan pribadi berusia lebih dari 10 tahun yang beroperasi di wilayah Jakarta pada tahun 2025.
ADVERTISEMENT
4. Mendorong peralihan ke moda transportasi umum dan meningkatkan kenyamanan berjalan kaki melalui percepatan pembangunan fasilitas pejalan kaki dan penghubung ke angkutan umum massal pada tahun 2020.
5. Memperketat pengendalian terhadap sumber penghasil polutan tidak bergerak khususnya pada cerobong industri aktif mulai pada tahun 2019.
6. Mengoptimalisasikan penghijauan pada sarana dan prasarana publik dengan mengadakan tanaman berdaya serap polutan tinggi mulai tahun 2019, serta mendorong adopsi prinsip green building oleh seluruh gedung.
7. Merintis peralihan ke energi terbarukan dan mengurangi ketergantungan terhadap bahan bakar fosil dengan menginstalasi solar panel rooftop pada seluruh gedung sekolah, gedung pemerintah daerah dan fasilitas kesehatan milik pemerintah daerah.