kumparan
11 Sep 2019 13:23 WIB

Bamsoet Temui Ma'ruf Amin, Undang Hadiri Mubes Pemuda Pancasila

Wakil Ketua Umum Pemuda Pancasila, Bamsoet (kanan) di kediaman Maruf Amin. Foto: Abyan Faisal/kumparan
Wakil Ketua Umum Pemuda Pancasila (PP), Bambang Soesatyo (Bamsoet), menyambangi rumah Wakil Presiden Terpilih, KH. Ma'ruf Amin. Dalam pertemuan tertutup ini, turut hadir beberapa anggota PP lainnya.
ADVERTISEMENT
Bamsoet mengutarakan pertemuannya dengan Ma'ruf untuk meminta beliau mengisi acara PP di Sumatra Utara pada 27 Oktober. Acara itu akan dibuka Presiden Jokowi.
"Kami datang ke beliau mengantar undangan agar beliau bisa hadir dalam acara Musyarawah Besar Pemuda Pancasila dan menutup acara tersebut pada tanggal 27 Oktober di Medan," ujar Bamsoet di rumah Ma'ruf Amin, Jl. Situbondo 12, Menteng, Jakarta Pusat, Rabu (11/9).
Wakil Ketua Umum Pemuda Pancasila, Bamsoet (kedua kiri) di kediaman Maruf Amin. Foto: Abyan Faisal/kumparan
"Beliau menyampaikan bahwa Pemuda Pancasila harus memiliki peran penting dalam membangun bangsa khususnya dalam menjaga nilai-nilai pancasila," sebut Bamsoet.
Ma'ruf juga mendorong Bamsoet serta jajaran PP untuk meningkatkan ekonomi yang bermuara dari sektor pedesaan. Peran generasi muda juga dinilainya penting dalam kegiatan tersebut.
"Mendorong terjadinya ketahanan ekonomi yang dimulai dari desa. Jadi mulai desa industri, desa wisata, desa digital. Beliau mengharapkan millenial Pemuda Pancasila masuk ke wilayah (desa)," imbuh Bamsoet.
ADVERTISEMENT
Dalam kesempatan yang sama, politikus Golkar itu juga berdiskusi tentang permasalahan kebangsaan yang sedang dihadapi. Ia menyebutkan seluruh masyarakat mempunyai tanggung jawab yang sama terhadap negara.
"Obrolan kebangsaan tadi ya seperti yang saya sampaikan, bahwa kita sesama sebagai anak bangsa memiliki kewajiban yang sama dalam menjaga keutuhan bangsa," katanya.
Selain itu, ia juga berharap jika kasus-kasus rasisme tidak terjadi lagi. Menurutnya, kasus kerusuhan Papua harus dijadikan pelajaran bersama.
"Tentu tidak lagi ingin terjadi peristiwa SARA yang menimbulkan berbagai persoalan seperti apa yang kita lihat kemarin di Papua cukuplah bangsa tidak lagi memperdebatkan soal sara," pungkasnya.
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan